Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Raja Majapahit ini Kebal Senjata Tapi Tewas di Tempat Tidur, Berawal karena Bisul

Raja Majapahit ini Kebal Senjata Tapi Tewas di Tempat Tidur, Berawal karena Bisul Candi peninggalan Majapahit. ©2021 Merdeka.com/indonesia.go.id

Merdeka.com - Kepemimpinan Raja Jayanegara di Kerajaan Majapahit menimbulkan banyak pro kontra di lingkungan istana. Selain karena buruknya kepemimpinannya, Jayanegara juga dinilai tak layak menjadi raja karena faktor garis keturunan.

Beragam pemberontakan pernah terjadi dalam upaya kudeta kekuasaan Jayanegara. Salah satu yang terkenal adalah pemberontakan Ra Kuti dan Ra Semi meski berakhir dengan kegagalan karena Jayanegara diungsikan.

Namun muncul upaya pemberontakan lain dari seorang Tabib istana bernama Ra Tanca yang akhirnya mampu membunuh Jayanegara meski harus meregang nyawa.

Meski dikenal sakti dan kebal dari senjata, nyatanya Jayanegara harus tewas karena belati Ra Tanca yang menembus jantungnya.

Mengutip buku 'Sejarah dan Kisah Kudeta Majapahit' karya penulis Kamil Hamid Baidawi, terbitan Araska 2022 berikut adalah kisah kematian Raja Jayanegara di tangan Ra Tanca.

Pemberontakan Anggota Dharmaputra

Setelah tewasnya Ra Kuti di tangan Gajah Mada, para anggota Dharmaputra semakin geram dan berkeinginan untuk membunuh Jayanegara.

Salah satu dari tujuh anggota Dharmaputra yang sangat ingin membunuh Jayanegara adalah seorang Tabib Kerajaan Majapahit bernama Ra Tanca.

Menurut serat Pararaton, dendam Ra Tanca muncul karena sikap tak senonoh Jayanegara kepada istrinya serta membalas dendam kematian teman seperjuangannya di Dharmaputra.

Sampai akhirnya keinginan Ra Tanca untuk menghabisi Jayanegara bisa terlaksana meski dirinya harus tewas di tangan Gajah Mada.

Alasan Tak Terduga Pemberontakan Ra Tanca

Keinginan Ra Tanca untuk membunuh Jayanegara karena rasa tidak suka dengan sifat Jayanegara yang amoral dan sering membuat sengsara rakyat.

Raja Jayanegara juga dikenal raja yang ingin mengawini adik perempuannya supaya tahta Majapahit tetap utuh di tangannya.

Ra Tanca juga memiliki rasa ketidakpuasan kepemimpinan Jayanegara dan merasa bahwa dirinya tidak berhak menjadi raja karena bukan keturunan langsung dari leluhur Majapahit.

Keinginan Ra Tanca menghabisi Prabu Jayanegara akhirnya terjadi pada 1328 M setelah menikam sang raja hingga tewas. Ia berhasil membalaskan dendam anggota Dharmaputra lain yang meregang nyawa di tangan Jayanegara.

Kontroversi Pengangkatan Jayanegara Sebagai Raja

Pengangkatan Jayanegara sebagai raja ternyata menimbulkan kontroversi di Majapahit. Jayanegara dinilai bukan berasal dari keturunan Majapahit karena lahir dari selir bernama Dara Petak.

Dara Petak berasal dari Kerajaan Dharmasraya Sumatra. Meski ia bukanlah rakyat biasa dan merupakan putri bangsawan, namun asal usulnya yang bukan berasal dari leluhur Majapahit tidak diterima oleh lingkungan Majapahit yang berasal dari orang Jawa.

Raden Wijaya memiliki empat istri yang semuanya putri Kertanegara. Namun, Raden Wijaya lebih memilih Jayanegara sebagai raja meski berasal dari selir yang bukan dari istri sahnya.

Banyak cerita yang muncul bahwa Raden Wijaya mengangkat Jayanegara sebagai raja karena permintaan selirnya. Konon Dara Petak dikenal dengan pribadi yang pandai menarik perhatian raja.

Dara Petak membujuk Raden Wijaya untuk diangkat menjadi raja di Kerajaan Majapahit. Hal tersebut yang membuat Ra Tanca tidak suka dan berambisi membunuhnya.

Terbunuhnya Jayanegara, Berawal dari Bisul

Dalam serat Pararaton bagian 8, sosok Jayanegara dikenal sebagai raja yang sulit untuk dibunuh. Selain karena dijaga ketat para Bhayangkara, Jayanegara juga dikenal kebal dari senjata tajam.

Namun demikian kematian Jayanegara malah berawal dari penyakit bisul yang ia alami. Penyakit itu membuat Jayanegara hanya bisa terbaring di kamarnya tanpa bisa beraktivitas apa-apa.

Ra Tanca yang merupakan seorang Tabib melihat kesempatan untuk membunuh Jayanegara. Ra Tanca yakin bahwa raja pasti membutuhkannya untuk menyembuhkan penyakitnya.

Ra Tanca pun harus membedah bisul sampai tiga kali. Karena pisau bedahnya tak mempan menembus kulit sang raja, dia pun meminta agar raja melepaskan jimatnya. Sang raja pun menurutinya.

Pada pembedahan ketiga itulah dirinya menikamkan senjatanya ke jantung Jayanegara hingga tewas seketika di tempat tidurnya.

Gajah Mada yang berada di tempat tersebut dan melihat raja terbunuh, akhirnya menikam kerisnya ke jantung Ra Tanca hingga tewas di tempat yang sama.

(mdk/thw)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP