Kisah Pasutri Tinggal di Rumah Mewah, Tapi Masuk Keluarga Miskin Penerima Bansos

Rabu, 25 Desember 2019 13:23 Reporter : Tantiya Nimas Nuraini
Kisah Pasutri Tinggal di Rumah Mewah, Tapi Masuk Keluarga Miskin Penerima Bansos Rumah mewah pasutri Klaten. ©2019 Merdeka.com/arie sunaryo

Merdeka.com - Masyarakat masih banyak yang mendapatkan dana bansos (bantuan sosial) dari pemerintah. Bukan tanpa alasan, kemajuan ekonomi di Indonesia bisa dibilang masih belum merata. Terbukti, ada masyarakat yang memiliki ekonomi menengah ke bawah.

Alih-alih terabaikan, pemerintah tetap memberikan bantuan kepada mereka agar hidupnya lebih layak. Salah satu bentuk bantuannya yaitu dengan memberikan dana bantuan sosial.

Nantinya, setiap rumah penerima bantuan akan ditempeli stiker 'keluarga miskin penerima bantuan sosial' seperti salah satu warga asal Klaten ini.

Namun, pemberian dana bansos (bantuan sosial) pada Marino dan Erna menuai banyak komentar dari masyarakat. Berikut ulasan informasi yang dirangkum dari berbagai sumber di bawah ini.

1 dari 6 halaman

Tinggal di Rumah Mewah

Bukan tanpa alasan, pasangan suami istri ini banyak mendapatkan komentar pedas dari warga sekitar. Hal ini bermula dari rumah yang dimiliki oleh pasangan asal Klaten ini. Ya, Marino dan Erna diketahui tinggal di sebuah rumah mewah. Rumah berlantai dua yang dilengkapi pula dengan dinding tembok dan keramik pada lantainya.

Namun, tinggal di rumah mewah tidak bisa menjamin kehidupan ekonomi di dalamnya. Bisa saja rumah yang dihuninya itu berasal dari warisan atau bantuan dari saudara pasangan suami istri ini. Tampaknya seperti itulah yang terjadi pada pasangan suami istri ini. Meskipun hidup di sebuah rumah mewah, keluarga ini tetap menerima bantuan dana sosial.

2 dari 6 halaman

Penerima Bantuan Sosial

Sekretaris Desa (Sekdes) Wanglu, Daroni (51) membenarkan adanya pemasang stiker tersebut. Stiker 'Keluarga Miskin Penerima Bantuan Sosial' dipasang di rumah Erna pada hari Selasa (17/12) lalu.

"Kita pasang stikernya Selasa lalu," ujar Daroni, Selasa (24/12).

Theo Markis selaku Koordinator PKH Kabupaten Klaten menerangkan, program BPNT di Klaten dimulai pada bulan Oktober 2018. Sementara rumah dua lantai milik Erna baru dibangun beberapa waktu lalu.

"Rumah dua lantai itu dibangun dengan bantuan adiknya yang bekerja sebagai TKI di Jepang," ungkapnya menjelaskan.

3 dari 6 halaman

Mendapat Bantuan dari Saudaranya

 /></p>
<p style=2019 Merdeka.com/arie sunaryo

Usut punya usut, pasangan suami istri ini sehari-harinya bekerja sebagai buruh serabutan. Tak ayal, mereka mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah. Bahkan, Erna, sang istri telah terdaftar sebagai penerima bansos sejak tahun 2011 silam.

"Pekerjaan Erna dan suaminya sehari-hari sebagai buruh serabutan. Rumah itu belum sebulan selesai dibangun dengan bantuan dana dari saudaranya di Jepang," jelasnya.

4 dari 6 halaman

Mengundurkan Diri dari Penerima Bantuan Sosial

Sebenarnya, pihak desa tempat tinggal mereka tak mempermasalahkan pemasangan stiker tidak mampu ini. Namun, setelah menjadi sorotan publik, stiker bansos jenis Bantuan Pangan Nontunai (BPNT) dilepaskan.

Pencopotan stiker itu juga disetujui oleh pasangan itu. Erna dengan sukarela mengundurkan diri sebagai penerima bantuan sosial dari pemerintah.

"Awalnya memang dia pengin ditempel stiker. Tapi setelah jadi perbincangan masyarakat, kemudian mengundurkan diri," terangnya.

5 dari 6 halaman

Telah Dikonfirmasi Terkait Kabar Itu

Menurut Sekretaris Desa (Sekdes) Wanglu, Daroni, Erna mengundurkan diri sejak (21/12) kemarin. Pengunduran dirinya tentu saja disaksikan pula oleh sejumlah petugas dari perangkat desa, Dinas Sosial (Dinsos), kepolisian, TNI serta pendamping PKH.

Koordinator PKH Kabupaten Klaten, Theo Markis menyampaikan, pihaknya telah melakukan konfirmasi terkait pengunduran diri Erna. Pengunduran diri tersebut ditandai dengan berita acara mundur secara sukarela.

"Setelah ada penandatanganan berita acara pengunduran diri, stiker keluarga miskin yang terpasang dilepas," paparnya.

6 dari 6 halaman

Masih Banyak Warga yang Menerima Bantuan Ini

Theo Markis menerangkan, program BPNT di Klaten dimulai pada bulan Oktober 2018. Berdasarkan hasil catatan sejak saat itu, setidaknya ada sekitar 300 warga di desa Daroni menerima bantuan sosial BPNT.

Sebagian besar penerima diketahui memiliki mata pencaharian sebagai seorang buruh.

[tan]
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini