Menjadi TNI seringkali menjadi cita-cita sebagian orang. Tak hanya yang berdarah militer, anak-anak yang berasal dari keluarga sederhana pun banyak yang bermimpi menjadi seorang TNI.
Seperti kisah dua jenderal berikut ini. Keduanya berasal dari keluarga sederhana. Bahkan orangtuanya hanya seorang petani. Namun siapa sangka dua pria ini mampu mewujudkan mimpinya menjadi TNI.
Bahkan yang membanggakan, keduanya berhasil meraih pangkat jenderal hingga memiliki jabatan penting di militer. Berikut ulasannya, Senin (18/4).
Advertisement
Jenderal TNI (Purn) Moeldoko
Anak petani yang berhasil menjadi jenderal ialah Moeldoko. Dia menjadi bukti bahwa tidak ada yang tak mungkin ketika terus berusaha dan berjuang.
Lahir dari keluarga petani tak menyurutkan langkah Moeldoko menggapai cita-citanya. Dia bekerja keras hingga akhirnya bisa menjadi TNI.
Bahkan Moeldoko pernah mendapat julukan sebagai anak dusun yang memiliki karier cemerlang. Tentunya keberhasilan itu kebanggaan yang terkira baginya dan juga keluarga.
"Seorang kawan mengirimkan foto lama, saat saya wisuda Akmil tahun 1981. Sebagai remaja yang lahir dan besar dari keluarga petani, lulus akademi militer saja sudah menjadi kebanggaan besar bagi saya," tulis Moeldoko dalam keterangan foto yang diunggahnya beberapa waktu lalu.
Moeldoko salah satu anak bukan berasal dari darah militer yang sukses berkarier di militer. Dia pernah menempati posisi puncak di militer yakni Panglima TNI.
Rupanya menjadi Panglima TNI merupakan cita-citanya sejak dinyatakan lulus dari Akademi Militer. Setelah berjuang selama 32 tahun, akhirnya keinginan tersebut terwujud.
"Alhamdulillah, 32 tahun kemudian, tepatnya tahun 2013 cita-cita itu terwujud. Tentu saja melalui kerja keras, terus belajar, dan disiplin. Dari situ saya percaya bahwa cita-cita itu harus diperjuangkan. Yakinlah," tulisnya.
Advertisement
Jabatan Penting di Militer
Kini Moeldoko sudah pensiun berkarier di militer. Berbagai jabatan penting didudukinya, antara lain;
- Panglima Divisi Infanteri 1/Kostrad (2010)
- Panglima Kodam XII/Tanjungpura (2010)
- Panglima Kodam III/Siliwangi (2010)
- Wakil Gubernur Lemhannas (2011)
- Wakasad (2013)
- Kasad (2013)
- Panglima TNI (2013-2015)
Usai pensiun dia kemudian menjajal dunia politik. Moeldoko sempat menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Hanura, mendampingi Jenderal TNI (Purn) Wiranto yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina.
Saat ini dia dipercaya sebagai Kepala Staf Kepresidenan sejak tahun 2018.
Advertisement
Laksamana Yudo Margono
Selain Moeldoko, anak petani yang sukses menjadi TNI yaitu Laksamana TNI Yudo Margono. Berada di posisi seperti saat ini bukan jalan mudah bagi Yudo. Berangkat dari keluarga petani sederhana membuatnya bertekad keras bisa menggapai impiannya sebagai seorang TNI.
Dia masuk ke TNI AL tak semulus yang dibayangkan. Yudo sampai pernah tidur di masjid saat dulu ingin mendaftar TNI. Itu salah satu perjuangan yang tak akan dilupakannya.
"Rumah Madiun daftarnya pas itu di Surabaya. Akhirnya saya ngeluarin duit buat naik bus pulang pergi untuk makan. Terus saya waktu itu tidur di masjid karena kan memang nggak ada saudara. Mungkin ya seperti itu," kata Yudo mengisahkan masa lalu.
Perjuangan yang berat bisa dilaluinya hingga bisa mencapai cita-citanya. Padahal, Yudo anak seorang petani namun kini berhasil menjadi TNI dengan pangkat bintang empat.
"Kayak saya, katanya saya anaknya petani mleni, nggak bisa masuk Angkatan Laut. Kalau saya bayar mungkin bapak ibu saya sudah jual sawah habis itu," katanya.
Advertisement
Karier Yudo Margono
Karier Yudo di militer terbilang moncer. Berbagai jabatan penting pernah diisinya. Saat ini dia menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal). Sebelumnya dia menempati posisi sebagai;
- Komandan Kolat Armabar (2012—2014)
- Paban II Opslat Sops Mabesal (2014—2015)
- Komandan Lantamal I Belawan (2015—2016)
- Kepala Staf Koarmabar (2016—2017)
- Pangkolinlamil[4][5][6] (2017—2018)
- Pangarmabar (2018)
- Pangarmada I (2018—2019)
- Pangkogabwilhan I (2019—2020)