Serunya Belajar Jarak Jauh dengan Handy Talky Kala Pandemi

Bertukar pesan via suara, itulah kemampuan yang ada pada sistem radio HT (Handy Talky). Perangkat ini diterapkan pada pembelajaran jarak jauh. Jauh dari kesan modern smartphone android. Namun antusias guru dan murid begitu nampak. Tanpa smartphone dan tanpa kuota internet, proses belajar mengajar tetap berjalan lancar

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Serunya Belajar Jarak Jauh dengan Handy Talky Kala Pandemi
Pembelajaran Jarak Jauh ©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Pandemi Covid-19 tak mematahkan semangat belajar siswa-siswi di berbagai daerah. Berbagai cara dilakukan agar tetap terjalin komunikasi antara guru dengan murid. Salah satunya dengan tatap muka melalui layar virtual dengan smartphone maupun laptop. Berbeda dengan yang lain, alih-alih menggunakan teknologi super canggihmurid kelas 6 SDN Mojo, Pasar Kliwon, Solo justru menggunakan radio jadulHandy Talky (HT) 2 arah.

Bak seorang prajurit di lapangan yang dikomando dengan sebuah radio. Mendapat perintah tugas, membolak-balikkan kertas menyimak ajaran dari sang guru. Siswa tak segan untuk bertanya jika instruksi dari guru kurang jelas. Antusias tergambarkan untuk menerima ilmu dari sang guru. Sesekali candaan terlontar selama proses belajar mengajar.

Meskipun kuno, tak mengurangi proses belajar mengajar. Justru seru dan menyenangkan. Jauh sebelum smartphone lahir, tepatnya 1937 keberadaan HT diawali dengan adanya Walky Talky. Namun ternyata masih relevan digunakan hingga abad ke 21 saat ini.

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Dialah Sigit Pambudi, seorang guru wali kelas 6 yang mencetuskan penggunaan radio di kelas jarak jauhnya. Masa PPKM dan kendala murid yang tidak memiliki HP Android membuatnya tergerak untuk mendirikan sistem broadcast di kelasnya.

Awalnya hanya ada beberapa HT saja yang digunakan, itupun berasal dari relawan tanggap bencana di sekitar Solo. Hingga pihak sekolah beserta donatur menganggarkan pembelian HT. Kini HT yang tersedia dapat dipinjamkan kepada 24 siswa siswi di rumah masing-masing.

Berbeda dengan smartphone, HT hanya membutuhkan sumber listrik saja. Sisanya mengandalkan kejernihan sinyal untuk transmisi percakapan. Para murid menggunakan HT, sedangkan guru menggunakan radio Repeater yang dapat memancarkan suaranya ke seluruh murid pengguna HT. Syarat keduanya ialah menggunakan frekuensi radio yang sama.

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Tanpa dibatasi oleh kuota internet layaknya smartphone android. Namun HT sama kendalanya dengan internet, yakni sinyal yang tidak selalu stabil. Terkadang, murid harus mencari tempat yang tinggi di mana sinyal lebih lancar. Bukannya mengeluh, murid dengan sendirinya mencari tempat bersinyal baik.

Sang guru pernah mendapati muridnya berada di luar jangkauan sinyal HT. Pasalnya dua orang muridnya berada lebih dari 5 km dari sekolah di mana radio dipancarkan. Saat itu Sigit beserta bantuan relawan memasang antena tambahan agar mampu menjangkau murid di lokasi yang lebih jauh.

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Nampak khidmat para murid mendapat bimbingan dari sang guru. Perlahan tapi pasti, murid dibimbing agar menjadi paham akan teori, rumus, hingga cara mengerjakan soal. Memang awalnya terasa sulit mengoperasikan HT, bahkan beberapa anak takut jika HT tersebut jadi malah rusak.

Terkadang satu frekuensi membuat para murid dan guru sering berebut giliran berbicara. Para siswa harus menyebutkan nama sebelum mengajukan pertanyaan. Mereka hanya bisa dengan jelas mendengar suara tanpa melihat wajah satu sama lain. Namun seiring dengan tiap hari mengoperasikan, proses belajar jarak jauh menggunakan HT bisa lancar.

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Dari pagi hingga siang hari, sang guru selalu memonitor para muridnya. Hal ini dilakukan agar pembelajaran efektif hingga dapat mengantarkan mereka kepada kelulusan.

Kini sudah ada dua generasi kelas yang telah meneruskan proses pembelajaran jarak jauh dengan HT. Sistem pembelajaran dengan HT telah berhasil meluluskan murid SDN Mojo ke jenjang SMP.

Rekomendasi