Meraba Karya Seniman Patung Kertas Tunanetra Asal Klaten

Jumat, 4 Juni 2021 16:00 Reporter : Ibrahim Hasan
Meraba Karya Seniman Patung Kertas Tunanetra Asal Klaten Karya Seniman Patung Kertas Tunanetra. ©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Merdeka.com - Tangannya dengan pelan meraba setiap permukaan kertas. Dialah Sartono, pria paruh baya ini menderita kebutaan namun berprofesi sebagai seniman. Sungguh menakjubkan, berbekal indra peraba dia membuat karya seni yang begitu menarik. Dengan kedua tangannya Sartono merasakan bentuk dan tekstur patung. Beragam bentuk dan ukuran patung berjajar rapi pada garasi rumahnya di Kampung Sekalekan, Kelurahan Kabupaten, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten.

Sekilas mata Sartono tampak normal, bahkan kelopak matanya bisa berkedip layaknya manusia pada umumnya. Namun kenyataan berkata lain, dia sama sekali tak bisa merespon cahaya. Dunia nampak gelap gulita bagi Sartono. Bak menggunakan mata batin, Sartono mampu merasakan keberadaan benda-benda di sekitarnya.

Melalui imaji, meraba, merasa dan kepekaan yang tinggi mata batin Sartono terbuka. Dengan indra tersebut, dia mampu melihat bahkan menghasilkan karya.

karya seniman patung kertas tunanetra

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Patung manusia baru saja selesai dia warnai. Memang tidak bisa mirip seperti aslinya, namun lekuk dan bentuk patung Sartono menjadi ciri khas tersendiri terhadap seni. Tak bisa disandingkan dengan para pematung profesional. Namun skill pematung tuna netra seperti Sartono merupakan hal yang spesial. Bahkan tidak semua orang normal mampu membuat hasil karya patung kertas layaknya dia.

Indra penglihatannya tak berfungsi semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar. Saraf matanya mati sehingga dokter menyatakannya kehilangan penglihatan. Saat ini usianya menginjak 58 tahun. Sudah 28 tahun ia menggeluti dunia seni patung. Ditempa kebiasaan dan pengalaman menjadikan mata batinnya semakin peka membuat kerajinan berbahan dasar kertas ini.

karya seniman patung kertas tunanetra

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Mulanya Sartono membentuk rangka patung yang terbuat dari bambu. Perlahan tapi pasti dia melapisinya dengan kertas bekas. Jenis kertasnya beragam, mulai dari keras koran, kertas buku, hingga kertas wadah semen. Kertas kemudian dilapisi dengan lem yang terbuat dari tepung kanji.

Tebal tipisnya kertas yang dilekatkan harus dia raba dan rasakan dengan pelan. Ketebalan balutan kertas tergantung pada lekukan dan tonjolan patung. Meraba dengan teliti dia membentuk bagian-bagian patung. Mulai dari tubuh, tangan, kaki, hingga kepala.

Kertas semen akan memperkuat tubuh patung, sedangkan kertas koran dilapiskan pada bagian terluar patung agar permukaannya halus. Berulang, dia merekatkan kertas dengan lem kanji dan menjemurnya di bawah terik mentari.

karya seniman patung kertas tunanetra

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Tahap mewarnai menjadi bagian tersulit saat membuat patung, terlebih bagian wajah. Pasalnya, raut dan bentuk wajah akan tergambar saat wajah diberi warna. Begitupula tubuh dan bagian lainnya. Aneka patung manusia dan hewan mampu dibuatnya. Kelinci, kerbau, harimau, gajah, kuda bahkan dinosaurus ia buat.

Patung pria, wanita, dan beragam karakter tokoh seperti werkudara dan seorang dewi terpajang di galerinya. Bahkan perpaduan manusia menunggangi hewan juga dia kreasikan. Semuanya berasal dari imajinasi dan kesabarannya.

Banyak orang memesan patung karya Sartono. Bahkan seorang kurator seni Bali membeli hingga 6 patung, di Bali kurator tersebut menjualnya kembali. Sartono mengaku dimintai pesanan minimal 4 patung tiap bulan. Namun dia tidak menyanggupinya. Dia mengaku bukanlah dewa, menyelesaikan satu patung dalam sebulan saja sudah maksimal baginya.

karya seniman patung kertas tunanetra

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Banyak acara seremonial menggunakan patungnya sebagai hiasan dekorasi. Acara peringatan HUT RI misalnya, Dia pernah kedapatan order patung Ir. Soekarno. Dia sepenuhnya mengingat ingat wajah presiden pertama ini. Jika kewalahan, dia membandingkannya dengan wajahnya sendiri

Harga patung yang dibanderol mulai dari Rp 10 ribu, Rp 75 ribu, hingga Rp 250 ribu. Perbedaanya berada pada ukuran patung. Dia tak menerima pesanan patung yang bentuk dan proses pembuatannya rumit. Dia mampu memperkirakan kemampuan dan mengimajinasikan patung mana yang tidak dan bisa dia buat. [Ibr]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Picture First
  3. Klaten
  4. Yogyakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini