Amanah Lurah Desa Ngaliyan di Tradisi Unik Ngemut Banyu

Kamis, 2 September 2021 15:05 Reporter : Tyas Titi Kinapti
Amanah Lurah Desa Ngaliyan di Tradisi Unik Ngemut Banyu Tradisi Ngemut Banyu. ©2021 Merdeka.com/Fadkus

Merdeka.com - Menggunakan baju lurik dengan blangkon yang tersemat di kepalanya. Sang lurah Desa Ngaliyan melangkah cepat. Di belakangnya seorang sesepuh membawa wayang suci yang dipanggul di punggungnya. Berjalan mengikuti langkah cepat sang lurah.

Sekilas, memang nampak tak ada yang aneh. Namun jika diamati, kedua pipi sang lurah terlihat menggelembung seperti sedang mengisap permen. Bukan mengisap permen, namun kedua pipi lurah tersebut sedang menahan air dalam mulut.

Ya, lurah di Desa Ngaliyan, Bejen, Temanggung punya tanggung jawab yang berbeda dibandingkan dengan lurah-lurah lainnya. Di desa ini, seorang lurah yang sedang menjabat punya amanah menjalankan tradisi unik 'Ngemut Banyu'. Tradisi menahan air dalam mulut pada ritual bersih desa.

tradisi ngemut banyu
©2021 Merdeka.com/Fadkus

Air bendungan dari DAM Sikrekah memenuhi mulutnya. Sang lurah menyusuri jalan dari irigasi sampai ke ladang persawahan paling ujung. Diikuti dengan keempat sesepuh serta perangkat Desa Ngaliyan dan Duren. Berjalan melewati pematang sawah, diam tanpa suara.

Lurah harus lah berbadan prima dan kuat menahan air. Pasalnya, jika dihitung sang lurah harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer. Tujuannya agar seluruh ladang warga tidak kering di musim kemarau. Jika tidak, tentu saja mereka percaya kekeringan akan melanda desa ini.

tradisi ngemut banyu
©2021 Merdeka.com/Fadkus

Tiba di ujung desa, dari sawah terdekat dengan pemukiman. Air itu di semburkan, sebagai tanda permohonan agar musim kemarau tidak membuat desanya kering. Amanah lurah berhasil dijalankan. Warga desa patut berbangga.

Selain sebagai ritual mencegah kekeringan, tradisi unik juga untuk menghormati sosok legendaris yang sangat berjasa dalam pembangunan di desa ini yaitu Tonogati atau Simbah Onggo Joyo, seorang santri Kanjeng Diponegoro. Mbah Tonogati membangun saluran irigasi dari Desa Duren sampai Desa Ngaliyan.

Mbah Tonogati membendung sungai dengan kayu dan bambu untuk mengairi ke ladang sawah warga. Namun, ketika musim hujan dan air sungai banjir bendungan kayu itu selalu jebol. Setiap musim kemarau, Ia selalu membuat bendungan baru.

tradisi ngemut banyu
©2021 Merdeka.com/Fadkus

Beratus tahun silam, hingga kini air irigasi tersebut masih dimanfaatkan oleh masyarakat desa. Membuat sawah dan kebun yang ada di Desa Ngaliyan tumbuh subur. Untuk mengenang jasanya, maka ritual ini pun diadakan. Sebagai wujud syukur dan ucapan terima kasih.

Bersih Desa diawali dengan Mengadakan sesaji di bendungan sungai Logong Desa Duren, Mengadakan Tahlilan di makam Simbah Tonogati. Kemudian selamatan di Batu Tumpang yang terletak di Sungai Logong. Setelah sukses emut air, nantinya akan menampilkan wayang yang sebelum sudah dicuci oleh lurah.

tradisi ngemut banyu
©2021 Merdeka.com/Fadkus

Tradisi budaya kejawen Lampet Dawuhan atau bersih desa dilaksanakan oleh masyarakat Desa Ngaliyan secara turun temurun setiap tahunnya menjelang memasuki bulan Sura. Biasanya diadakan di bulan Agustus setiap hari Rabu Kliwon sesuai penanggalan jawa.

Lebih dari sekedar ritual, adat bersih desa ini juga menjadi perekat tali silaturahmi antar warga. Tradisi ini juga mengingatkan akan pentingnya sebuah amanah yang diemban.

[Tys]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini