Transformasi Pendidikan Bisa Dongkrak Jumlah Talenta Digital

Kamis, 29 September 2022 06:24 Reporter : Fauzan Jamaludin
Transformasi Pendidikan Bisa Dongkrak Jumlah Talenta Digital Ilustrasi startup. © CBC

Merdeka.com - Pemerintah menargetkan lahirnya 600 ribu talenta digital per tahun hingga 2030 nanti. Hal ini ditujukan agar Sumber Daya Manusia (SDM) negeri ini bersiap menghadapi dampak dari transformasi digital.

Tokoh penggerak internet Indonesia, Onno W. Purbo, turut berkomentar terkait persoalan ini. Menurutnya, persoalan talenta digital harus ditarik terlebih dulu dari hulunya. Maksudnya adalah harus ada transformasi di dunia pendidikan.

Ia pun menyoroti budaya pendidikan di sekolah dasar. Di bangku sekolah dasar itu, anak-anak masih dididik dengan pola didikte. Sehingga hal ini berimplikasi ketika sudah dewasa.

"Jadi pas sudah dewasa kalau nggak ada yang dikte dia nggak bisa. Sedangkan makin tinggi jenjang pendidikannya, udah nggak didikte lagi, harus berani berkreasi, apalagi di bidang teknologi," ujar Onno kepada Merdeka.com pada suatu kesempatan.

Onno pun menceritakan pengalamannya berkali-kali membuat workshop di kampus. Pada acara workshop biasanya diselenggarakan selama lima minggu berturut-turut. Dari kegiatan itu yang dinilai ada dua hal, buat karya aplikasi untuk disubmit dan mengerjakan ujian.

"Di workshop ini dari peserta yang ikut di awal 300, sisa 20 yang bertahan sampe akhir. Jadi sebagian besar dari semua anak-anak mahasiswa, belum apa-apa udah mundur," katanya.

"Kalau saya liat modelnya gitu semua sih rata-rata, jadi masalah ekosistem barangkali di Indonesia. Karena lingkungannya udah nyaman, jadi 'Gini aja gue hidup kan ya, jadi buat apa berjuang'. Persoalan ini harus diubah justru sejak SD, gak bisa tiba-tiba pas SMA atau kuliah itu, ga bisa," tambah dia.

Oleh sebab itu, menurut Onno, di tengah kondisi seperti ini perlu ada transformasi di tiga lini penting, yakni sumber ilmu, infrastruktur, dan ekosistem. Untuk sumber ilmu, Onno menjadikan apa yang dia kerjakan selama ini sebagai contoh, yakni membuat Learning Management System (LMS) Onno Center bernama eLearning Rakyat untuk akses 700 mata pelajaran IT secara gratis.

Lini sumber ilmu ini menurut Onno juga sudah mulai diupayakan oleh pemerintah dan swasta, misalnya Kominfo yang merangkul Google dan Lintasarta dengan Dicoding-nya.

"Yang jadi masalah juga adalah akses, karena mereka rata rata online. Konsekuensi lainnya ada di infrastruktur, solusinya adalah dengan memberi izin jaringan-jaringan komunitas," kata Onno.

Ia mengungkap bahwa saat ini sudah ada komunitas di desa yang mampu membuka akses Internet dengan membuat infrastruktur BTS seluler sendiri. Namun, penciptaan akses ini masih terkendala legalitas.

"Kalo yang begini bisa dilegalkan, urusan di bawah beres, tinggal atasnya (pemerintah dan industri-red) yang gerak bikin program penunjang digitalisasi," tambah Onno.

Di lini ekosistem, Onno mengatakan bahwa sistem pendidikan perlu diubah dari yang dominan teori menjadi lebih mementingkan eksplorasi. Kata dia, cara ini seperti yang dilakukan komunitas hacker dimana mereka berkumpul, mengoprek, dan saling mempengaruhi rasa ingin ‘jago’.

"Makanya indonesia hackernya jago-jago," imbuh Onno.

Selain itu, Onno mengatakan pemerintah dan swasta juga harus membuat ekosistem yang kompetitif. Kompetisi ini akan membuat swasta membutuhkan SDM yang mumpuni dan tidak hanya mengandalkan ijazah. Menurut dia, banyak talenta digital terampil yang tidak mengantongi ijazah. Orang-orang seperti ini lah yang biasanya sulit menembus industri.

Reporter: Dinda Khansa Berlian

[faz]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini