Menanti Pertarungan Klasik Raksasa Amazon dan Alibaba di ASEAN via Gojek

Jumat, 30 Agustus 2019 18:41 Reporter : Syakur Usman
Menanti Pertarungan Klasik Raksasa Amazon dan Alibaba di ASEAN via Gojek Gojek. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Amazon, dikabarkan akan menanamkan modal ke Gojek, perusahaan teknologi asal Indonesia. Kabar ini kali pertama ditulis oleh Bloomberg, dua hari lalu (28/8).

Amazon dimiliki oleh Jeff Bezos, orang terkaya di dunia versi Bloomber, dengan kekayaan bersih US$ 125 miliar. Sayangnya, juru bicara Gojek enggan mengomentari kabar yang beredar di pasar ini (Merdeka.com, 30/8).

Bila jadi, ini investasi yang kesekian yang diterima Gojek pada tahun ini, setelah pada Juli lalu, Gojek mendapat investasi dari Mitsubishi Corporation dan Mitsubishi Motors Corporation, dua perusahaan global asal Jepang.

Lantas, bagaimana kita 'membaca' rencana investasi raksasa teknologi asal Amerika Serikat ini terhadap Gojek?

M Rahmat Yananda, pengamat inovasi dan perkotaan yang bergelar doktor dari Fakultas Ilmu Administrasi UI ini, memiliki analisis menarik soal ini.

Kata Rahmat, Amazon masuk ke pasar Asia Tenggara lewat Indonesia, karena pasar China sulit ditebus akibat dominasi Alibaba dan raksasa teknologi Cina lainnya. Sejarah juga memberikan pelajaran bahwa ada perusahaan asal Amerika Serikat yang pernah menyerah menghadapi Alibaba. Oleh karena itu, Amazon memanfaatkan peluang pasar di Asia Tenggara, yang mana Indonesia adalah pasar terbesarnya.

"Sebagai dua raksasa e-commerce, Amazon dan Alibaba, berkepentingan sekali memaksimalkan pertumbuhan di pasar Asia Tenggara. Amazon ingin dapat memanfaat pertumbuhan e-commerce yang tinggi di Asia Tenggara, berbeda dengan kondisi di negeri asalnya. Menariknya, pertarungan di Asia Tenggara tersebut melanjutkan pertarungan klasik brand Amazon dan Alibaba, yang bisa saja terjadi secara langsung maupun tidak langsung tergantung pilihan investasi. Jika Amazon masuk ke Gojek, maka pertarungan mereka masuk ke sektor on-demand transport," ujar Rahmat kepada Merdeka.com, Jumat (30/8).

Menurut doktor yang mencermati isu-isu inovasi dan teknologi ini, Gojek adalah pilihan tepat bagi Amazon, setelah Didi yang sebagian kepemilikannya dikuasai Alibaba, berinvestasi di Grab dengan membeli Uber di Asia Tenggara. Maka persaingan Gojek dan Grab merupakan pertarungan panjang untuk menjadi pemain dominan di Asia Tenggara.

Ketika Gojek mengklaim dirinya sebagai super aplikasi, maka Gojek tidak lagi bertumpu kepada layanan on-demand transport. Gojek memiliki banyak layanan dari perdagangan, pengantaran, keuangan, dan lain-lain yang menjadi daya tarik bagi Amazon. Apalagi Gojek juga memperluas pasarnya ke beberapa negara di Asia Tenggara.

"Gabungan sebagai super aplikasi dan ekspansi pasar di ASEAN menjadi daya tarik Gojek," ujarnya.

Secara prinsip, lanjut dia, Gojek mengalami perkembangan dari unicorn menjadi decacorn, serta berekspansi ke negara-negara ASEAN merupakan kebanggaan karena membawa brand Indonesia. Namun, lebih dari itu, kita juga berharap Gojek terus-menerus memajukan ekosistem digital Indonesia.

"Selain kesempatan ekonomi yang banyak diciptakan Gojek, kita juga berharap Gojek mendorong iklim inovasi berbasis R&D dalam negeri dengan mengembangkan pusat riset di kampus-kampus lokal. Kemudian melatih dan merekrut para pengembang perangkat lunak lokal, serta mau berinvestasi di kecerdasan buatan (AI) dan internet of things (IoT), ataupun teknologi-teknologi disruptif lainnya. Langkah tersebut mendorong tumbuh subur ekosistem perusahaan rintisan Indonesia," pungkas dia. [sya]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini