Bumi Pernah Dilanda Hujan selama 2 Juta Tahun, Peristiwa ini Jadi Buktinya

Bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwa Bumi pernah mengalami perubahan kondisi iklim yang ekstrem.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Bumi Pernah Dilanda Hujan selama 2 Juta Tahun, Peristiwa ini Jadi Buktinya
Bumi Pernah Dilanda Hujan selama 2 Juta Tahun, Penelitian ini Jadi Buktinya (© Pexels/Lara Jameson)

Hujan merupakan bagian dari sistem kehidupan yang terjadi di planet Bumi. 

Meskipun saat ini hujan hanya terjadi di saat-saat tertentu saja, sebuah hujan pernah melanda Bumi selama, kurang lebih 2 juta tahun.

Hal tersebut terjadi sekitar 232—234 juta tahun yang lalu, seperti dikutip dari Earth.com, Indy100, dan IFLScience, pada Rabu (13/3).

Hujan dalam waktu yang sangat lama tersebut terjadi pada zaman Carnian, sebuah babak akhir dari periode Trias. 

Hujan dalam waktu yang sangat lama tersebut terjadi pada zaman Carnian, sebuah babak akhir dari periode Trias. 
© Pexels/ Vlad Chețan

Peristiwa pluvial Carnian (CPE), nama dari hujan tersebut, terjadi ketika benua-benua di Bumi masih berkumpul di satu tempat dan membentuk superbenua Pangea. Hujan ini ternyata juga memiliki peran yang penting dalam penyebaran kehidupan di Bumi.

Temuan awal dari peristiwa penting ini terjadi di sekitar tahun 1970an dan 1980an.

Di pegunungan Alpen Timur, para peneliti menemukan adanya sedimentasi silisiklastik, yaitu sebuah endapan yang biasanya berkaitan dengan air, di dalam batuan karbonat.

Di Britania Raya (United Kingdom), ahli geologi juga menemukan lapisan batu abu-abu yang tersimpan di dalam batu merah yang biasa ditemui wilayah tersebut.

Bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwa Bumi pernah mengalami perubahan kondisi iklim yang ekstrem, dari kondisi gersang ke keadaan dengan curah hujan yang intens sehingga membuat dunia diselimuti oleh kondisi basah.

Bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwa Bumi pernah mengalami perubahan kondisi iklim yang ekstrem, dari kondisi gersang ke keadaan dengan curah hujan yang intens sehingga membuat dunia diselimuti oleh kondisi basah.
Dok. Istimewa

Kondisi ini juga terjadi bersamaan dengan masa awal perkembangan dinosaurus yang membuatnya menjadi spesies yang beragam.

Penyebab utama dari terjadinya peristiwa pluvial Carnian adalah perubahan iklim akibat erupsi gunung berapi yang sangat besar di Provinsi Igneous Besar Wrangellia, sebuah bagian bumi yang saat ini mencakup wilayah Alaska, Amerika Serikat hingga wilayah British Columbia, Kanada.

Akibat letusan super tersebut, terjadi perubahan yang besar terhadap atmosfer, yaitu dengan lepasnya gas-gas rumah kaca seperti karbon dioksida.

Peristiwa tersebut lantas menyebabkan keadaan bumi menjadi semakin panas.

Hasilnya, lebih banyak uap air yang dilepas ke atmosfer karena samudra juga ikut menjadi panas sehingga lebih banyak pula hujan yang turun.

Kondisi seperti ini, yaitu iklim monsun, sebenarnya juga sudah sering melanda Pangea.

Peristiwa pemanasan global tadi pun hanya memperparah curah hujan yang turun.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Dengan peristiwa ini, muncul hujan asam dan gas rumah kaca tambahan sehingga iklim berubah dengan cepat. Vegetasi dan tanah juga menjadi terkikis. 

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Di laut, terjadi anoksia dan pengasaman samudra. Kondisi dahsyat ini pada akhirnya mengakibatkan kepunahan massal pada berbagai makhluk hidup dan membentuk ulang sistem ekologi.

“Setelah kepunahan massal dari berbagai tumbuhan dan hewan herbivora kunci di darat, dinosaurus tampaknya menjadi penerima keuntungan utama dalam masa pemulihan, dengan berkembang secara cepat dalam keberagamannya, dampak ekologis (kelimpahan secara relatif), dan distribusi regional, dari awalnya Amerika Selatan, ke semua benua,” tulis tim peneliti dalam artikel berjudul “The Carnian Pluvial Episode and the origin of dinosaurs” yang dipublikasikan dalam Journal of Geological Society.

Perubahan tersebut, menurut para peneliti, bukan hanya membawa era baru dengan kedatangan dinosaurus, tetapi juga menjadi masa yang penting dengan munculnya asal-usul berbagai klad kunci yang “membentuk fauna modern dari tetrapoda terestrial, yaitu lisamphibia, kura-kura, buaya, kadal, dan manusia.”

Rekomendasi