Usai mengonsumsi permen karet, tak jarang banyak orang membuangnya dengan menempelkan di bawah meja atau melemparkannya begitu saja di ruas jalan. Siapa sangka ternyata sampah permen karet sangat berdampak buruk bagi Bumi.
Permen karet telah dikonsumsi manusia sejak ratusan tahun yang lalu. Awalnya manusia mengunyah getah pohon sawo atau yang disebut chicle yang akhirnya berkembang menjadi permen karet dengan berbagai varian rasa.
Permen karet modern umumnya tidak dapat terurai secara hayati. Perlu diketahui bahwa salah satu bahan utama yang digunakan untuk membuat permen karet modern adalah elastomer (plastik), itulah yang membuat limbahnya bahaya bagi lingkungan.
Dilansir dari ScienceFocus, Selasa (11/4), secara global manusia mengunyah sekitar 100.000 ton permen karet setiap tahunnya. Angka yang cukup besar sebagai pemasok limbah yang paling berpolusi bagi lingkungan, menempati urutan kedua di dunia setelah puntung rokok.
Pretty Slow melaporkan pemerintah Inggris menghabiskan lebih dari 60 juta poundsterling atau sekitar Rp 1 triliun untuk membersihkan jalan-jalan dari limbah permen karet. Limbah-limbah permen karet juga ditemukan di saluran pembuangan yang mengakibatkan laut tercemar hingga mematikan kehidupan di bawah air.
Sama seperti tisu basah atau kantong teh, permen karet adalah contoh lain dari plastik tersembunyi yang tanpa sadar kita hasilkan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang menyukai permen karet yang dianggap mampu menghilangkan stress atau sekedar membuat nafas mulut menjadi wangi, namun nyatanya secara tidak langsung turut ikut merusak lingkungan dengan sampah yang mereka kunyah.
Tidak masalah untuk terus mengunyah permen karet, tetapi ada baiknya untuk membatasi jumlah permen karet yang anda konsumsi dalam sehari, serta berhati-hati saat membuang sampahnya agar lingkungan bisa tetap terjaga dan hewan tetap sehat.
Reporter magang: Safira Tiur Margaretha