Sejatinya, rokok elektrik atau e-cigarette diciptakan untuk mengurangi ketergantungan atas rokok. Namun di China, rokok elektrik justru dipakai sebagai media belajar menghisap tembakau oleh anak-anak.
Menurut Forbes (22/06), anak-anak di China saat ini menjadi target marketing rokok elektronik. Mengingat aturan tentang jual beli rokok elektrik belum ada di Negeri Tirai Bambu, e-cigarette menjadi tren baru di kalangan wanita dan anak-anak yang berkontribusi terhadap 3 persen perokok aktif di China.
Celakanya, untuk menarik minat anak-anak, rokok elektrik dipasarkan dengan berbagai rasa unik, misalnya permen. Harga rokok elektrik pun sangat terjangkau, paling mahal hanya Rp 40 ribuan. Alhasil, rokok elektrik yang dibuat untuk mengurangi konsumsi rokok justru dipakai untuk belajar merokok.
"Banyak orang khawatir bila e-cigarette semakin populer di China saat bahaya tembakau semakin meningkat," tulis The Economist.
Merokok memang bukan hal 'terlarang' di China. Sebab, China saat ini memang tercatat sebagai negara penghasil dan konsumen tembakau terbesar di dunia. Parahnya, di China, usia rata-rata seseorang memulai merokok adalah di bawah 11 tahun.