Ramai Investor Asing di Startup Indonesia, Begini Harapan Nodeflux, Startup AI Lokal

Sabtu, 9 Februari 2019 11:00 Reporter : Syakur Usman
Ramai Investor Asing di Startup Indonesia, Begini Harapan Nodeflux, Startup AI Lokal nodeflux, startup lokal kecerdasan buatan. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Isu nasionalisme kembali panas di ranah perusahaan rintisan (startup) teknologi di Indonesia. Terutama setelah startup unicorn, seperti Go-Jek dan Tokopedia, ramai diinjeksi modal oleh investor asing.

Isu ini juga menjadi perhatian startup Nodeflux, sebuah startup lokal yang fokus pada ranah kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Dibangun pada 2016, Nodeflux menawarkan solusi teknologi pengenalan wajah (face recognition) yang terpasang di CCTV dan terhubung dengan database kependudukan.

Meidy Fitranto, Co-Founder dan Chied Executive Officer (CEO) Nodeflux, mengaku concern soal investor ini. Apalagi Nodeflux sedang didekati beberapa investor asing. Tapi Meidy enggan menyebutkan nama-nama venture capital asing tersebut.

Menurutnya, soal investor ini mestinya menjadi perhatian penuh pemerintah, bukannya urusan startup. Dia mencontohkan, pemerintah bisa memberikan dukungan regulasi terkait dengan pendanaan bagi startup di Indonesia. Seperti investor asing yang ingin masuk ke startup lokal harus bermitra dengan investor lokal pula. Porsi pendanaannya dibagi, misalnya 51 persen banding 49 persen. Bukan 100 persen dana asing.

Alasannya, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan pendanaan. Sebab Indonesia banyak memiliki kelompok usaha besar alias konglomerasi.

"Indonesia tidak kekurangan dana. Konglomerat lokal punya banyak dana. Sayangnya, konglomerat kita lebih suka bikin sendiri-sendiri (perusahaan modal ventura), karena masih berpikir bahwa pendanaan ini adalah perpanjangan tangan untuk memajukan korporasi mereka. Padahal harusnya tidak seperti itu," kata Meidy saat dijumpai usai acara CEO Talks di kantor KLY, Menteng, Jakarta Pusat, kemarin (7/2).

Lepas diskusi soal investor, Meidy menjelaskan soal Nodeflux yang menyediakan solusi AI berupa solusi teknologi pengenalan wajah (face recognition) yang terpasang di CCTV dan terhubung dengan database kependudukan.

Kata dia, saat ini kecerdasan buatan yang berbasis mesin atau komputer dapat melakukan kegiatan berpikir layaknya manusia. Bahkan, kecerdasan buatan ini sudah bisa mengenali dan mendengar layaknya manusia. Nodeflux sendiri bergerak di bidang AI dan video analytics, menggunakan teknologi machine learning dan deep learning.

"Computer vision membuat mesin bisa melakukan pengenalan obyek, mengenali manusia, gender, hingga rentang usia," ucapnya.

Dibangun 2016, Nodeflux telah terlibat dalam proyek kamera keamanan yang memantau event olahraga terbesar di Asia, Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, dan IMF-World Bank Group Annual Meeting 2018 di Nusa Dua, Bali.

Meidy menceritakan, saat Asian Games 2018, Nodeflux bekerja sama dengan Kepolisian RI untuk menyediakan teknologi pengenalan wajah yang dipasang di CCTV, tujuannya untuk memantau keamanan. Selain itu, melalui kecerdasan buatan, startup yang bermarkas di Kemang, Jakarta Selatan, ini juga mampu mengestimasi berapa banyak jumlah massa dari sebuah kerumuman. [sya]

Topik berita Terkait:
  1. Digital Startup
  2. Investasi
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini