Puasa Dopamin, Tren Teknologi Baru yang Populer di Silicon Valley

Jumat, 4 Oktober 2019 14:07 Reporter : Indra Cahya
Puasa Dopamin, Tren Teknologi Baru yang Populer di Silicon Valley Ilustrasi kecanduan smartphone. © Digital Trends

Merdeka.com - Kecanduan smartphone adalah hal yang nyata. Berdasarkan laporan Business Insider, orang Amerika Serikat menghabiskan lebih dari 11 jam per hari untuk mengonsumsi media. Bahkan, bagi sebagian orang, jauh lebih banyak.

Berjam-jam untuk scroll Instagram dan Twitter, sebenarnya mengganggu kinerja otak kita, rentang perhatian kita terhadap sesuatu jadi rendah, kemampuan otak untuk mengatur emosi jadi lemah, serta dalam melakukan tugas sederhana kita tak akan jadi menikmati.

Oleh karena itu, seorang psikolog dari San Francisco bernama Dr. Cameron Sepah membuat sebuah gerakan bernama puasa dopamin.

Dopamin sendiri adalah neurotransmitter yang bertanggung jawab atas penghargaan dan motivasi dalam otak kita.

Ketika otak kita mendapatkan stimulasi terus-menerus secara berlebihan, kita lama kelamaan menjadi kurang peka terhadap dopamin. Akhirnya kita akan butuh banyak perilaku untuk dapat dopamin lebih, dan hal ini merujuk ke pola kecanduan internet.

Puasa dopamin sendiri dijadikan oleh Sepah sebagai kontrol terhadap stimulus media sosial ke otak manusia. Ia pertama kali memopulerkannya Agustus lalu, dan menjadi viral di AS. Praktiknya dilakukan oleh para petinggi di Silicon Valley.

Hal ini menarik, karena Silicon Valley dianggap sebagai pusat teknologi dunia yang tentu tak bisa menghindar dari teknologi, namun dengan memberikan batasan dan struktur untuk mengonsumsi media, ia mengklaim bahwa otak bisa 'direstart' kembali.

1 dari 1 halaman

Jadi Tren

Cuitan soal puasa dopamin sempat viral minggu ini. Disebut bahwa kini banyak pegiat teknologi dan pegiat startup yang masih baru, menerapkan puasa ini.

Sang psikolog menanggapinya bahwa harusnya hal ini tidak disikapi secara ekstrem. Masalahnya adalah puasa dopamin ini hanya sekadar mengembalikan perilaku masyarakat jadi perilaku yang sehat. Seperti mematikan komputer di malam hari, tidak tetap bekerja kala akhir pekan, liburan sekali waktu, dan sebagainya.

Puasa dopamin bukan benar-benar memotong waktu berselancar di media sosial dan internet, namun lebih soal mengontrol stimulus yang masuk ke otak kita. Ia menyebut, puasa dopamin ini bukan menciptakan ketakutan terhadap teknologi, namun sekadar mengubah niat.

Ia mencontohkan, membaca buku dalam rentang waktu tertentu jika dipakai untuk scroll Twitter bisa jadi akan punya efek buruk secara psikologis, atau bahkan berbahaya. Jadi, jika ingin membuka Twitter, ubahlah perilaku tersebut jadi membaca buku.

Bagaimana, tertarik puasa dopamin? [idc]

Baca juga:
Sejumlah Gejala Fisik dan Mental yang Mungkin Dialami Karena Kecanduan Internet
Yogyakarta Canangkan Puasa 'Gadget' Tiga Jam Tiap Hari
Peneliti Temukan Terapi yang Tepat untuk Atasi Kecanduan Internet
Gamers Penghuni Yayasan Penderita Gangguan Jiwa di Bekasi
Walkot Malang Segera Terbitkan Perwal Penggunaan Gawai dan Nonton TV
Pejalan Kaki Main Ponsel Akan Didenda di Australia

Topik berita Terkait:
  1. Kecanduan Gadget
  2. Teknologi
  3. Psikologi
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini