Persepsi 3D sudah tertanam sejak lahir
Merdeka.com - Sebagai salah satu teknologi mutakhir, siapa sangka bahwa 3D mampu bertahan dan menjadi pilihan utama untuk diterapkan dalam berbagai bidang. Kehadirannya pun mampu menginspirasi berbagai temuan yang mampu mengusung 3D.
Menurut Media College, 3D sendiri merupakan kepanjangan dari three-dimensional atau yang bisa juga diartikan tiga dimensi. Maksudnya, hal ini mencakup sebuah benda yang mampu memiliki tiga dimensi fisik, yaitu panjang, lebar, dan tinggi (kedalaman).

Dengan kata lain, 3D sebenarnya sudah bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari dengan kasat mata. Hal ini yang kemudian coba diambil para ahli untuk diterapkan dalam berbagai bidang seperti perfilman, percetakan, dan ilmu-ilmu lainnya.
Penglihatan 3D sendiri merupakan kemampuan manusia yang diberikan secara alamiah sejak lahir. Hal ini karena manusia memiliki retina dan otak yang mampu bekerjasama untuk memproses ini semua.

Cara kerjanya, retina mata akan menangkap gambar dua dimensi yang dilihatnya. Kemudian, gambar ini akan diproses oleh otak dan mengubahnya menjadi gambar 3D.
Manusia memiliki beberapa cara untuk menerima persepsi 3D ini. Di antaranya adalah:
Kemampuan inilah yang nantinya akan diproses oleh otak untuk membentuk gambar 3D. Tanpa satu dari kemampuan ini, mustahil bagi manusia untuk bisa menerima persepsi tiga dimensi secara utuh.
Kemampuan melihat benda secara 3D sendiri mutlak akan dimiliki semua manusia. Meskipun seseorang buta sebagian atau seluruhnya, mereka akan bisa menciptakan persepsi tentang gambaran dunianya dalam bentuk 3D. (mdk/nvl)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya