Mimpi DietBuddy Dekati Kenyataan berkat The NextDev Telkomsel

Jumat, 4 Januari 2019 16:56 Reporter : Syakur Usman
Mimpi DietBuddy Dekati Kenyataan berkat The NextDev Telkomsel The nextdev Denpasar umumkan tiga finalis. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Sebuah lembaran baru ditorehkan oleh Alvin Hartanto (26), seorang nutrisionis dan personal trainer. Panggungnya adalah The NextDev Talent Scouting Denpasar yang digelar akhir Juni tahun lalu.

Anak muda dengan postur atletis ini berhasil menjadi finalis The NextDev Denpasar lewat platform bernama DietBuddy di kompetisi pencarian early stage startup (startup tahap awal) terbaik dari Telkomsel ini.

Betapa tidak, platform DietBuddy mengalahkan 17 startup di pitch deck Denpasar, padahal platformnya baru berupa gagasan (ide). Alvin bersama 'ide' DietBuddy-nya pun berhak atas tiket final The NextDev di Jakarta dan hadiah uang Rp 10 juta.

Dua startup tahap awal lain dari Denpasar yang lolos ke babak final The NextDev Jakarta adalah Diffago dan FishGo --dalam babak final Jakarta yang digelar akhir Oktober 2018, tiga startup menjadi pemenang; FishGo (Denpasar), HelloBeauty (Jakarta), dan Garda Pangan (Surabaya).

Alvin masih tak percaya bisa lolos dan merebut satu tiket final pitch deck Jakarta. Apalagi ide ikut The NextDev Denpasar iseng belaka. Namun, tekadnya sudah bulat, yakni memiliki aplikasi baru, setelah aplikasi lawasnya, Newlife Diet, gagal akibat salah urus. Meski baru sebatas ide, rencana aplikasi diet, calorie tracker, dan konsultasi kesehatan ini mampu menarik perhatian dewan juri.

"Senang sekali menjadi finalis, karena belum memiliki aplikasi. DietBuddy dimulai dari nol, tanpa bantuan teknis programmer. Untuk membuat aplikasi ini sempurna, saya perlu mentor, dukungan teknis, dan modal, maka itu ikut The NextDev Denpasar," ujar Alvin pada Merdeka.com usai menang di Denpasar beberapa waktu lalu.

Bagaimana nasib Alvin dan platform DietBuddy sekarang?

Dijumpai saat Final The NextDev Talent Scouting di JCC, Senayan, Jakarta, Alvin mengakui dalam tempo tiga bulan mengalami perkembangan signifikan. Misalnya, DietBuddy memiliki tenaga videografer dan developer sendiri. Aplikasinya pun sudah dibangun supaya siap untuk OS Android, iOS, serta versi web.

"Aplikasi Dietbuddy akan siap pada Januari 2019," ucapnya gembira.

Kondisi serupa juga dialami oleh startup tahap awal, Nyanggar, peserta The NextDev Talent Scouting Semarang. Di ajang pencarian talenta digital terbaik di Semarang, Mei 2018, Nyanggar juga menjual konsep/ide di sektor kesenian kepada dewan juri.

Ya, startup ini menawarkan konsep aplikasi marketplace bagi seniman tari tradisi di Semarang, yang dikembangkan oleh Moh Minhajul Mubarok. Dia seorang mahasiswa semester IV jurusan Ilmu Komputer Universitas Negeri Semarang.

"Nyanggar.id belum ada produknya, karena masih disiapkan. Nama domain belum sempat diurus karena keterbatasan biaya dan saya kerjakan sambil kuliah," ungkap Moh Minhajul jujur kepada dewan juri.

Sayang nasib Nyanggar tidak sebaik DietBuddy yang lolos ke Jakarta.

The NextDev 2018 Talent Scouting Semarang Nyanggarid ©2018 Merdeka.com


Platform early stage startup terbesar

Minim pengetahuan dan modal memang mendorong startup tahap awal, seperti DietBuddy dan Nyanggar, mengikuti The NextDev Telkomsel. Pilihan ini tak keliru, karena The NextDev merupakan platform early stage startup untuk Indonesia yang digagas Telkomsel sejak 2015.Maka itu, The NextDev memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada startup tahap awal di republik ini, meski baru sebatas konsep ide/gagasan.

Ya, The NextDev menjadi satu-satunya platform bagi early stage startup yang paling tepat di Tanah Air. Pasalnya, para pemenangnya akan mendapat pelatihan dan mentoring sistematis dari Telkomsel, operator terbesar di Indonesia dengan pelanggan lebih 190 juta. Tujuannya, agar startup tahap awal ini bisa melahirkan aplikasi, masuk ke pasar, berdampak sosial hingga melakukan monetisasi.

The NextDev Talent Scouting 2018 berakhir pada Oktober tahun lalu di Jakarta. Namun, pencarian talenta digital terbaik ini dimulai pada April 2018 di Surabaya. Hingga keenam kota besar lainnya di Indonesia; Batam, Semarang, Yogyakarta, Denpasar, Samarinda, dan Jakarta. Lebih dari 250 startup tahap mula mendaftar di tujuh kota pencarian. Sementara pada 2017, platform startup tahap awal ini menarik minat 1.700 startup.

Denny Abidin, General Manager External Corporate Communications Telkomsel, menjelaskan pihaknya membuat platform bagi early stage startup sebagai salah satu tanggung jawab Telkomsel sebagai operator pelat merah sekaligus terbesar di Indonesia.

"Kami fokus ke early stage startup, karena Telkomsel punya program Bikin Keren Indonesia. Lewat platform startup tahap awal ini, kami membangun talenta-talenta terbaik di ranah digital. Sebab, kami yakin dengan membangun orang/people, lahir aplikasi-aplikasi yang bisa bikin keren Indonesia di masa mendatang," ungkap Danny yang biasa disapa Kang Abe ini bersemangat.

telkomsel di ideafest 2018 ©2018 Merdeka.com

Secara konkret, program membangun talenta digital terbaik itu dibuktikan Telkomsel sejak 2015. Lihat saja startup tahap awal yang menjadi pemenang di The NextDev 2018. Sejumlah reward yang menjadi kebutuhan dasar early stage startup diberikan. Sebut saja mentoring, seed funding, marketing, akses kepada investor/venture capital, dan publikasi media.

Mentoring dan coaching ini sangat strategis bagi startup pemula dengan beberapa materi menarik, seperti mindset, produk, kustomer, user interface (UI) dan user experience (UX), penjualan, pemasaran, hingga mencari investor.

Tantangan startup tahap awal

Alamanda Shantika, Founder Binar Academy yang juga anggota dewan juri The NextDev, berpendapat memang banyak inkubator startup di Indonesia, tapi tak banyak yang khusus menyasar early stage startup, seperti The NextDev. Berdasarkan pengamatan sebagai juri The NextDev empat tahun terakhir, banyak kemajuan dari peserta startup tahap awal ini, meski banyak pula startup yang mature ikutan sebagai peserta.

Dia mencatat ada kelemahan yang menonjol bagi startup tahap awal peserta The NextDev, yakni engineering process. Rata-rata engineering process startup Indonesia memang tertinggal saat ini. Contohnya, startup seharusnya menyiapkan dua langkah ke depan dari sisi teknologi, misalnya dengan mengembangkan fitur kecerdasan buatan atau artificial intelligence di aplikasinya.

Kelemahan lainnya dilihat juga oleh Yoris Sebastian, juga dewan juri The NextDev. Dia menyoroti keterbatasan modal yang jamak dialami startup.

Menurut Founder OMG Consulting ini, mengatasi 'modal' itu, startup hendaknya melakukan traction kecil menggunakan modal sendiri alias tanpa investor. Memiliki passion sebagai entrepreneur sejati, selayaknya Anda berjuang dan bergerak secara organik dengan kekuatan sendiri. Bagaimana Anda bisa menyakinkan investor, jika Anda sendiri tidak berani melakukan investasi terhadap aplikasi sendiri.

"Berteriak lah lewat karya/aplikasi Anda. Kalau Anda sendiri bisa berhasil, investor pasti tertarik!" pungkas Yoris. [sya]

Topik berita Terkait:
  1. The NextDev
  2. Telkomsel
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini