Menkominfo: Perdagangan online ciptakan lapangan kerja baru

Senin, 30 Oktober 2017 17:44 Reporter : Fauzan Jamaludin
Ilustrasi Online Shop. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menyebut perkembangan teknologi tak bisa dibendung. Terutama maraknya lapak-lapak online yang hadir di tengah masyarakat saat ini. Menurutnya, kini sudah saatnya seluruh masyarakat bersiap-siap menyongsong era baru.

Kalau yang namanya perkembangan teknologi, orang berdagang menggunakan teknologi, ya gak bisa dicegah. Tapi bukan karena online-nya saja. Memang kita diharuskan berubah semuanya, kata dia kepada awak media ketika dijumpai di kantornya, Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Jakarta, Senin (30/10).

Dia pun menanggapi fenomena tutupnya industri ritel fashion seperti Lotus, Debenhams, dan lain sebagainya. Kata dia, hal itu disebabkan karena adanya perubahan lifestyle. Masyarakat tidak lagi membeli baju saat memiliki uang.

Masyarakat atau anak-anak muda sekarang yang punya penghasilan cukup mereka menabung, kemudian mereka pindah ke liburan. Sekarang orang beli baju, itu lebih sedikit 2-3 tahun lalu. Kalau dulu mungkin, ada uang beli baju. Sekarang tidak beli baju. Kalau beli baju pun daring. Memang terjadi shifting, ungkap dia.

Fenomena seperti ini tak hanya terjadi di Indonesia saja, melainkan di dunia yang sedang mengalami hal yang sama. Maka itu, tak bisa serta merta online dijadikan biang keladi dari peristiwa ini.

Kalau penyebabnya adalah online, apakah berarti onlinenya itu kita larang? Kan tidak. Online itu juga kan memberikan kesempatan. Memiliki tingkat efisien yang lebih bagus kepada pebisnis. Jadi, teknologi itu pada dasarnya enabler, jelasnya.

Jangan lupa juga teknologi membuka lapangan kerja baru. Betul, ada lapangan kerja yang hilang, tapi kan membuka lapangan kerja baru, tambah dia.

Sementara, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mendesak pemerintah segera mengatur toko ritel berbasis daring (online) agar level kompetisi dengan toko ritel fisik (offline) bisa lebih setara.

Sebab, kata Wakil Ketua Umum Aprindo Tutum Rahanta, pemilik toko ritel offline harus mengikuti sejumlah aturan yang ditetapkan pemerintah, misalnya terkait perizinan, standar produk, dan gaji pegawai. Sedangkan pengusaha online dinilai relatif lebih bebas alias belum ada ketentuan yang secara spesifik mengatur perdagangan daring. [idc]

Topik berita Terkait:
  1. Online Shop
  2. E Commerce
  3. Digital Startup
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.