Mengungkap legenda ular pemakan manusia dari Kalimantan

Selasa, 10 Mei 2016 00:56 Reporter : Bramy Biantoro
Mengungkap legenda ular pemakan manusia dari Kalimantan Ular berbahaya dari Kalimantan. © Alamy

Merdeka.com - Alkisah, ratusan tahun silam saat Belanda masih menjajah bumi Kalimantan, ada sekelompok suku Dayak yang meninggalkan kampungnya menuju pedalaman demi menghindari penjajah. Saat itulah mereka berhasil menemukan sebuah lembah di kaki pegunungan, di sana mereka membuat perkampungan baru.

Sayangnya, ketenangan itu rusak setelah anak-anak mereka mulai menghilang diambil ular raksasa. Hari demi hari, banyak penduduk kampung menjadi saksi kemunculan ular raksasa yang memangsa anak kecil.

Tak ingin hanya berdiam diri, penduduk mulai membuat senjata dan pergi mencari sarang sang ular. Lalu ditemukanlah sarang mirip gua, di sebuah pulau kecil di tengah sungai, yang berisi dua ular raksasa bersama seekor ular misterius lain yang bertubuh kecil.

Ingin lepas dari tragedi, penduduk lantas berbondong-bondong membunuh ular raksasa itu. Dan berhasil. Tapi kemudian mereka membiarkan ular kecil pergi dan membuatnya berjanji untuk tidak memangsa manusia lain.

Itulah sekelumit legenda tentang ular pemakan manusia dari suku Dayak di Kalimantan. Pertanyannya, benarkah ular pemangsa manusia itu ada?

Pertama perlu diketahui bila Kalimantan dipenuhi hutan berusia 140 juta tahun, salah satu yang tetua di muka Bumi. Hewan-hewan di pulau Kalimantan telah mengalami evolusi besar pasca zaman es, termasuk ular. Saat ini ilmuwan memperkirakan ada 150 spesies ular di pulau berjuluk 'Borneo' ini. Pertanyaan selanjutnya, mana dari 150 spesies itu yang paling berpotensi sebagai ular pemakan manusia? Penasaran? Berikut adalah 4 ular paling berbahaya asal Kalimantan yang bisa jadi 'tersangka' dalam legenda itu.

1 dari 4 halaman

Ular welang kepala merah (Bungarus flaviceps)

kepala merah bungarus flavicepsUlar berbahaya dari Kalimantan. © Alamy

Ular ini tergolong berbisa dan cukup berbahaya, apalagi bila sedang di air. Welang kepala merah mempunyai racun saraf atau neurotoksin. Dan bila ada korban yang tergigit di dalam air, maka dia akan mengalami kelumpuhan, tenggelam dan tidak bisa bernapas.

Racun ular ini juga tidak mudah disembuhkan oleh anti racun jika tidak segera diberikan pada korban. Salah satu korban keganasan ular ini adalah Joseph Slowinski, pakar ular yang tergigit tahun 2001 silam. Tetapi, ular welang kepala merah tidak bisa dikatakan ular raksasa pembunuh manusia mengingat ukurannya cukup kecil meski panjangnya bisa mencapai dua meter.

2 dari 4 halaman

Pit viper (Trimeresurus albolabris)

trimeresurus albolabrisUlar berbahaya dari Kalimantan. © Alamy

Pit viper daun atau ular hijau termasuk ular berbisa endemik Asia Tenggara. Ular dengan kepala segitiga ini sangat terkenal akan bisanya yang mematikan, tidak aneh bila ular ini masih satu keluarga dengan ular Fer-de-lance, si pembunuh dari Amerika Selatan.

Ular ini kerap terlihat bergelantungan di pohon menunggu mangsanya, seperti burung dan serangga kecil lain. Racun ular ini cukup spesial karena menyerang sistem peredaran darah jantung, menurunkan tekanan darah secara drastis.

Kembali lagi, meski reputasi racunnya terkenal berbahaya, ular ini cukup kecil dengan panjang tak sampai satu meter. Mereka juga tergolong pemburu yang menanti buruan datang, bukan yang aktif berburu mangsa. Sehingga kemungkinannya menjadi ular yang ditakuti suku dayak cukup kecil.

3 dari 4 halaman

King Kobra (Ophiophagus hannah)

ophiophagus hannahUlar berbahaya dari Kalimantan. © Alamy

Seperti namanya, King Kobra adalah ular berbisa terbesar di dunia, dengan panjang mencapai 5 meter. Meski tidak bisa menembakkan bisa seperti ular kobra biasa, satu gigitan King Kobra cukup untuk membunuh 20 orang dan satu ekor gajah.

Ular ini juga tidak hanya aktif malam hari, tetapi siang hari, membuatnya pantas disebut 'naga' seperti yang digambarkan penduduk. Mereka juga satu-satunya ular yang membangun sarang untuk bertelur.

Sayangnya King Kobra masih belum bisa disebut ular pemakan manusia Kalimantan. Alasannya? Mungkin ular ini besar, tetapi makanan mereka hanya kadal dan mamalia kecil. Selain itu, pada dasarnya King Kobra bukanlah ular yang suka menyerang manusia. Mereka lebih memilih menghindar dari pada berinteraksi dengan kita.

4 dari 4 halaman

Sanca Kembang (Python reticulatus)

python reticulatusUlar berbahaya dari Kalimantan. © Alamy

Ular satu ini termasuk pemecah rekor ular terpanjang di dunia, dengan panjang sampai 10 meter! Meski pun rata-rata yang ditemukan kini hanya 4 meteran, tidak butuh sanca 10 meter untuk menelan utuh-utuh seorang anak kecil.

Ular sanca yang termasuk jenis piton memang tidak berbisa, namun belitan dan rahang yang bisa terpisah membuatnya mampu memangsa hewan lain yang berukuran berkali kali lipat.

Berdasarkan penelitian tahun 2011, satu per empat warga sebuah desa pelosok bernama Agta di Filipina menjadi korban serangan sanca. Selain itu laporan WHO di tahun 2010 memuat kasus ular piton yang menelan seorang petani di Sulawesi. Tak salah bila akhirnya sanca kembang menjadi ular yang paling diduga kuat sebagai ular pemakan manusia dari Kalimantan. Meskipun ular sanca tidak makan anak-anak setiap hari seperti yang digambarkan oleh legenda.

Sumber: BBC, pnas.org. Wikipedia, eol.org


[bbo]

Baca juga:
Awas, ini bahaya keseringan 'komen' di sosial media!
Mengapa akhir-akhir ini banyak pesawat jadi korban turbulensi?
Ilmuwan Amerika tak sengaja ciptakan baterai 'abadi'
Bukan dongeng, ini 7 'naga' yang sedang mendiami Bumi
Akhir abad 21, pemanasan global ubah Timur Tengah jadi 'neraka'

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Dunia Ular
  3. Penelitian Ilmiah
  4. Top List
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini