Masyarakat China ogah beli smartphone di atas Rp 3,6 juta

Jumat, 8 November 2013 15:01 Reporter : Yoga Tri Priyanto
Masyarakat China ogah beli smartphone di atas Rp 3,6 juta Huawei Honor 3. © Pickmore.com

Merdeka.com - Hari ini Sina merilis laporan tentang kecenderungan masyarakat China dalam memilih merek dan harga smartphone. Meski Sina bukanlah perusahaan peneliti pasar dan surveynya tidak begitu sempurna, laporan yang dibuat Sina masih menghasilkan temuan menarik tentang persepsi pembeli China terhadap perangkat mobile domestik.

Sina mengirimkan kuesioner kepada 800.000 orang dan meminta mereka untuk memberitahukan merek domestik mana yang paling berkesan bagi mereka, dan menentukan harga yang dikehendaki untuk smartphone domestik.

Dari 670.000 responden, 18 persen di antaranya mengklaim merasa paling familiar dengan Huawei, kemudian Lenovo (17,9 persen) dan Xiaomi (16,5 persen). Tiga merek ini ditempel secara ketat oleh Coolpad, Meizu, dan ZTE.

Menariknya, Xiaomi yang baru berusia tiga tahun, kini sama terkenalnya dengan raksasa China Huawei dan Lenovo. Sedangkan Lenovo, perusahaan yang terkenal di seluruh dunia dengan kekuatannya di pasar PC, tetap terkenal di China dengan perangkat mobilenya. Lenovo menjual mayoritas handphonenya secara domestik saat ini, dan hanya tertinggal dari Samsung dalam hal angka penjualan di China.

Sina memaparkan bahwa enam merek ini menerima agregat 97 persen suara responden, sedangkan hanya tiga persen responden yang mengklaim ketertarikannya terhadap merek lokal Hisense, Haier, TCL, Gionee, Bubugao, dan OPPO. Rendahnya respon masyarakat terhadap merek OPPO merupakan hal yang mengejutkan, karena seperti Xiaomi, merek ini telah menarik perhatian media teknologi internasional dengan CyogenMod Android ROM yang dimodifikasi dan ambisi ekpansi globalnya.

Sementara itu, untuk harga, mayoritas dari 670.000 responden memilih handphone dengan harga menengah ke bawah.

Sebanyak 57,8 persen responden mau membayar RMB1.000-1.500 (antara Rp 1,8 juta dan Rp 2,7 juta) untuk sebuah handphone China, seangkan hampir 30 persen mengatakan bahwa mereka mau mengeluarkan RMB1.501-2.000 (antara Rp 2,7 juta dan Rp 3,6 juta) untuk sebuah perangkat domestik. Sementara itu ketertarikan pelanggan terhadap perangkat domestik menurun tajam jika harganya di atas RMB 2.000 (sekitar Rp 3,6 juta).

Meski perusahaan China tampaknya siap menjual kepada pelanggan lokal dengan harga menengah ke bawah, kebanyakan profit diperoleh dari penjualan perangkat dengan harga tinggi. Perangkat apapun dengan harga di atas Rp 4,5 juta akan menghasilkan profit yang bagus, meski harus bersaing Samsung dan Apple – dan pelanggan yng kurang sensitif terhadap harga mungkin akan memilih merek internasional dibanding domestik.

Hal ini membuat produsen domestik menciptakan perangkat dengan 'harga premium' seperti Ascend P6 dan Meizu MX3 (perangkat terbaik Xiaomi juga cocok di jangkuan harga ini). Handpone dalam sub-kategori ini cenderung memiliki prosesor quad-core, kamera belakang dengan kualitas setidaknya 8MP beserta kamera depan, dan resolusi layar sekitar 1280×720.

Pasar smartphone di China dalah yang terbesar di dunia. Pada bulan Agustus saja, sekitar 30 juta perangkat telah terjual.

Artikel ini pertama kali muncul di Tech in Asia Indonesia [ega]

Topik berita Terkait:
  1. ID Tech In Asia
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini