Kompetisi early stage startup, the NextDev, loloskan tiga finalis asal Denpasar

Kamis, 28 Juni 2018 20:20 Reporter : Syakur Usman
Kompetisi early stage startup, the NextDev, loloskan tiga finalis asal Denpasar The nextdev Denpasar umumkan tiga finalis. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Melalui proses pitching deck dan penilaian dewan juri, tiga startup peserta The NextDev Talent Scouting Denpasar, Bali, berhasil ke babak final pitching deck di Jakarta pada Oktober mendatang. Ketiga startup yang lolos di kompetisi early stage startup terbesar di Tanah Air ini adalah Diffago, FishGo, dan DietBuddy.

Kompetisi entry stage startup dari Telkomsel ini diikuti oleh 20 peserta pitching deck Denpasar. Namun, hanya tiga startup yang berhasil mencuri hati para dewan juri, seperti Dennis Adhiswara (Founder dan CEO Layaria Network), Yoris Sebastian (Founder dan Creative Thinker of OMG Consulting), M Alfatih Timur (Co-Founder dan CEO KitaBisa.com), David Soukhasing (Head of ANGIN), Alamanda Shantika (Founder Binar Academy), dan Denny Abidin (GM External Corcomm Telkomsel).

Namun, dewan juri masih menyimpan wild car yang akan diberikan kepada startup yang tidak lolos pada The NextDev Denpasar, seperti pada The NextDev Semarang, Mei lalu. Syaratnya, 17 startup yang tidak lolos ini akan dipantau perkembangannya oleh dewan juri dalam beberapa bulan ke depan.

"Yang tidak lolos, jangan kecil hati. Tetap semangat dengan startup-nya, karena kami akan pantau perkembangannya. Startup yang memiliki perkembangan baik akan mendapat wild card ke Jakarta seperti tiga finalis," ujar Yoris Sebastian, saat mengumumkan nama finalis The NextDev Denpasar di Kembali Innovation Hub, Kamis (28/6) sore.

Yoris menjelaskan alasan dewan juri memilih Diffago, FishGo, dan DietBuddy sebagai finalis kompetisi early stage startup dari Denpasar, Bali. Pertama, ketiganya memiliki konsep social impact kuat, yang sesuai dengan tema utama kompetisi tahun ini, yakni "Passion + Purpose = Social Impact!". Kedua, minat atau passion para pendiri yang tampak saat mereka mempresentasikan konsepnya kepada dewan juri. Dan ketiga, seperti tema kompetisi ini, passion sang founder harus memiliki purpose atau tujuan supaya menawarkan solusi terhadap masalah secara tepat, alias memiliki social impact.

"Dari peserta The NextDev Denpasar, passion founder masih kurang ditampilkan, padahal ini penting. Sementara bila social impact-nya kurang kuat, sebenarnya kami masih bisa pahami, karena nanti kan ada mentoring. Yang penting adalah passion dan purpose itu, untuk bisa menawarkan dampak sosial tepat seperti tema utama kompetisi early stage startup ini," pungkas Yoris.

Dewan juri lainnya, Denny Abidin, menambahkan, Bali selalu spesial bagi kompetisi early stage startup terbesar di Tanah Air. Maka itu, saat memutuskan tiga finalis tadi juga tidaklah mudah.

"Setiap ke Bali, selalu sulit keputusannya yang dibumbui dengan voting. Namun, bagi yang tidak lolos sebagai finalis, jangan kecil hari mungkin karena aplikasinya belum relevan saat ini. Tapi saya yakin startup Bali punya potensi bagus sehingga bisa bikin keren Indonesia suatu hari seperti tujuan Telkomsel buat kompetisi ini," ucap Denny.

Profil tiga finalis

Untuk diketahui, Diffago yang berasal dari kata 'difabel' dan 'go' adalah aplikasi yang menawarkan solusi total terhadap isu disabilitas/penyandang cacat di Indonesia. Dikembangkan sejak Februari lalu di Bali, Diffago saat ini fokus dengan konsep CSR platform. Artinya, aplikasi ini membantu para penyandang cacat mendapatkan solusi terhadap masalah mereka, seperti mobilitas, pendidikan, dan pekerjaan. Untuk masalah mobilitas misalnya, Diffago akan membantu para penyadang cacat mendapatkan kaki atau tangan palsu supaya bisa memiliki mobilitas normal kembali.

Setelah itu, membantu melanjutkan sekolah atau kuliah mereka, sehingga punya kesempatan bekerja. Saat ini Diffago sudah memiliki enam proyek, tapi baru dua proyek sudah didanai. Masih dalam tahap Bootstraping, Diffago selain ada di Bali, juga hadir di Jakarta dan Bandung.

Sedangkan startup FishGo merupakan aplikasi teknologi berbasis Google Maps yang memberikan panduan kepada nelayan di Badung, Bali, lokasi ikan yang berkumpul di laut. Dampak sosial yang ditawarkan dari aplikasinya adalah meningkatkan jumlah tangkapan nelayan. Hasil tangkapan ikan nelayan ini juga dibantu oleh FishGo dengan memberikan panduan harga jual di tempat pelelangan ikan sehingga nelayan mendapat harga yang pantas dan tidak dibohongi.

Yang terakhir, DietBuddy menawarkan platform kesehatan dengan memberikan informasi bagi masyarakat yang ingin melakukan diet dan mengetahui jumlah kalori/nutrisi dari setiap makanan yang dikonsumsi, serta memberikan kosultasi yang benar dan tepat agar memiliki kesehatan lebih baik. DietBuddy ingin menjadi 'teman terbaik' bagi siapa saja yang ingin membuat program diet. Dengan aplikasi ini, kamu seakan punya 'satpam' yang membantu dalam menjaga pola makan demi terwujudnya badan yang lebih fit. Menarik ya! [sya]

Topik berita Terkait:
  1. The NextDev
  2. Telkomsel
  3. Denpasar
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini