Ini Alasan Mengapa iPhone Akan Selalu 'Made in China'

Kamis, 29 Agustus 2019 14:45 Reporter : Indra Cahya
Ini Alasan Mengapa iPhone Akan Selalu 'Made in China' Rumor iPhone 11. ©2019 youtube.com/mkbhd

Merdeka.com - Salah satu dari banyak sekali kontroversi presiden AS Donald Trump yang 'menyenggol' ranah teknologi, yang paling berpengaruh adalah rencana dipajaknya vendor yang berpabrik di Tiongkok.

Hal ini adalah buntut dari perang tarif antar dua negara tersebut. Melansir Phone Arena, Google dilaporkan segera memindah produksi Pixel ke Vietnam, dan Google Home ke Thailand.

Apple sendiri pernah dilaporkan untuk memindah 30 persen produksinya keluar dari Tiongkok. Perpindahannya pun dilaporkan juga menuju Vietnam.

Pemindahan fasilitas pabrik ini sendiri merupakan hal yang sangat susah dan tak akan terjadi dalam sekejap. Mencari lokasi, rantai pasokan terpercaya, hingga pekerja yang cakap dan berpengalaman tentu tak akan muncul dalam hitungan hari.

Buntutnya, Apple telah diharuskan membayar pajak sebesar 15 persen untuk mengimpor iPhone masuk ke AS, mulai 15 Desember mendatang.

1 dari 2 halaman

Pabrik Apple Justru Makin Banyak di Tiongkok

Namun fakta pemajakan Apple ini tidak membuat raksasa teknologi yang bermarkas di Cupertino, California ini makin mantap pindah. Justru, pabrik mereka makin banyak.

Foxconn, mitra Apple dalam memproduksi iPhone di Tiongkok, kini memiliki 29 pabrik. Naik dari hanya 19 pabrik di tahun 2015 silam. Pegatron yang merupakan mitra Apple perakit iPhone, kini memiliki 12 pabrik dari hanya 8 di tahun sebelumnya.

Saat ini, hampir separuh dari keseluruhan pemasok onderdil iPhone juga didatangkan dari Tiongkok. Tepatnya, 47,6 persen.

Tentu untuk tiba-tiba memindahkan tempat produksi ke negara lain, 'harga' yang dibayar bisa jadi lebih mahal ketimbang membayar pajak kepada rezim Donald Trump.

2 dari 2 halaman

Alasan iPhone Made in China

Google dengan Pixel besutannya memang bisa sangat mudah memindahkan pabrik ke Vietnam. Sementara Apple, seperti yang telah dijelaskan, punya banyak pertimbangan rumit untuk melakukan hal serupa.

Alasannya? Karena memang produksi Google untuk Pixel ternyata sedikit. Dilaporkan Phone Arena, Google hanya memproduksi 8 juta hingga 10 juta unit Pixel di 2019 lalu. Angka ini sangat kecil dibanding produksi iPhone.

Bagaimana tidak, melansir firma analisis rantai pasokan bernama Fictiv, produksi iPhone HARUS bisa mencapai 600.000 unit per harinya.

Tentu untuk mengejar kuantitas yang dibarengi kualitas, tengkulak onderdil yang kini sudah digandeng tak bisa ditinggal begitu saja dan mencari yang baru. Belum lagi tenaga kerja yang mampu dengan jumlah sebanyak itu.

Oleh karena itu, Apple akan selalu jadi buatan Tiongkok meskipun terjerat pajak tinggi. Gantinya, di tahun-tahun berikutnya, Apple akan membanderol iPhone dengan harga lebih mahal, ketika penjualan iPhone kembali membaik.

Saat ini, penjualan seluruh smartphone, termasuk iPhone, memang sedang mengalami tren penurunan dan pajak tarif impor ini akan ditanggung sepenuhnya oleh Apple terlebih dahulu sebelum ditanggungkan ke pengguna. [idc]

Baca juga:
Ini Bocoran Spesifikasi iPhone 11, Rilis Bulan Depan!
iPhone X ini Masih Menyala Meski Telah Tenggelam di Dasar Danau
Apple Bakal Beri Rp 14 Miliar untuk Penemu Bug iPhone
Fitur Canggih yang Diharapkan Muncul di iPhone 11
Apple Disebut Segera Batasi Fitur Panggilan di WhatsApp dan Messenger
Indonesia Jadi Negara Pertama di Asia Miliki Apple Developer Academy

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini