Wawancara Khusus CEO Job2Go

Job2Go Incar Satu Juta Pengguna dan Pendanaan Seri A di 2021

Jumat, 14 Februari 2020 15:57 Reporter : Syakur Usman
Job2Go Incar Satu Juta Pengguna dan Pendanaan Seri A di 2021 Kurniawan Santoso, CEO startup Job2Go. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Era teknologi digital tidak hanya mendisrupsi sektor usaha di Indonesia. Tapi juga menciptakan ladang pekerjaan baru. Misalnya ride hailing yang mendisrupsi bisnis transportasi darat, memerlukan mitra pengemudi dalam jumlah besar.

Profesi atau pekerjaan baru sebagai mitra pengemudi online ini merupakan peluang dunia kerja zaman now di republik ini. Jumlah profesi baru tiba-tiba meningkat sangat besar dan beragam dalam era gig-economy, sebuah ekosistem yang mana seseorang melakukan suatu pekerjaan jangka pendek atau berdasarkan permintaan (on-demand).

Ladang kerja baru membutuhkan tenaga kerja muda dan pekerjaan fisik (blue collar) dalam jumlah besar. Peluang dunia kerja zaman now ini ditangkap oleh PT Sinergi Performa Cipta, dengan merintiskan platform digital bernama Job2Go pada Desember 2019. Meski sebagai perusahaan alihdaya (outsourcing), PT Sinergi sudah beroperasi lebih dahulu; awal 2019.

Seperti apa konsep besar Job2Go, bagaimana visi bisnis dan strateginya, M Syakur Usman dan Iqbal S Nugroho dari Merdeka.com mewawancarai Kurniawan Santoso, Chef Executive Officer (CEO) dan Founder Job2Go, yang memiliki pengalaman kerja di perusahaan teknologi dunia Facebook dan Google.

Wawancara berlangsung di kawasan Jakarta Selatan, baru-baru ini. Berikut petikannya:

Job portal di Indonesia sudah banyak. Apa sebenarnya konsep Job2Go dan faktor pembedanya?

Perkembangan industri kreatif, perusahaan teknologi seperti perusahaan teknologi keuangan (fintech) di Indonesia, melahirkan profesi baru. Seperti Gojek yang melahirkan profesi ojek online atau mitra pengemudi, delivery man di industry logistik, dan sebagainya.

Lapangan kerja baru ini kebanyakan informal dengan jam kerja yang fleksibel, berbeda dengan pekerja kantoran. Dan di Indonesia, menurut BPS, jumlah pekerja informal mencapai 57 persen dari total tenaga kerja di Indonesia. Tingginya pekerja informal ini terutama didorong industri kreatif dan teknologi.

Jadi teknologi mempengaruhi dunia kerja dan menciptakan kebutuhan tenaga kerja baru. Kelompok kerja yang banyak membutuhkan ruang yang mempertemukan para pencari kerja dan pemberi kerja dari industri yang sedang tumbuh. Terutama para pencari kerja muda (blue collar).

Platform Job2Go menjadi ruang bagi para pencari kerja dan pemberi kerja (perusahaan). Job2Go menyasar banyak pencari kerja khususnya pekerja kerah biru.

Sektor pekerja blue collar ini, secara lulusan bisa jadi D3, S1, atau baru lulus kuliah, tapi mau bekerja karena skill-nya terbatas seperti mitra pengemudi online, pekerja akuisisi pelanggan, delivery man, tukang listrik atau bangunan, dan sebagainya.

Jadi Job2Go bisa dikatakan job portal khusus blue collar, yakni jenis pekerjaan yang bisa dilakukan semua orang karena menuntut skill terbatas. Jenis pekerjaan sederhana.
Segmen pekerja ini sangat besar, dan mereka membutuhkan bantuan. Dengan menggunakan teknologi, proses matchmaking antara pencari kerja dan perusahaan lebih bagus.

1 dari 4 halaman

Fokus ke Pekerja Kerah Biru (Blue Collar)

kurniawan santoso ceo startup job2go

2020 Merdeka.com

Apakah memang belum ada job portal khusus blue collar di Indonesia?

Secara spesifik, belum ada job portal khusus blue collar di Indonesia. Meski ada variasi di job portal pada umumnya seperti pekerja white collar, blue collar, dan lain-lain.

Tapi value propotition Job2Go ada di segmen blue collar dan fitur-fiturnya. Fitur aplikasi kami lengkap dengan konsep menjadi one stop solution bagi pekerja kerah biru ini.

Misalnya, ada lowongan jadi tenaga sales e-commerce. Setelah seseorang mendaftar lewat aplikasi Job2Go dan diterima bekerja sebagai tenaga sales itu, maka seluruh aktivitasnya melalui aplikasi. Misalnya absen pagi dan pulang lewat aplikasi. Saat menerima upah/gaji juga melalui aplikasi. Jadi pengguna Job2Go memiliki saldo, sehingga memberikan kepastian bagi pengguna. Apalagi ada tren cashless di publik kan.

Jadi pengguna begitu daftar di Job2Go akan menggunakan terus aplikasi Job2Go.

Dengan fokus pada pekerja kerah biru, Job2Go menyasar pencari kerja milenial dong?

Job2Go mempunyai visi menjadi one stop solution bagi job solutions. Dengan fokus di pekerja kerah biru, kami memang menyasar generasi milenial. Tapi secara luas sebenarnya bisa juga gen Z, istilahnya para pencari kerja pemula atau job seeker entry level.

Kami berharap platform ini bisa menjadi end to end solutions dalam lingkup digital.

Bagaimana dengan para pencari kerja non-milenial, apa solusi yang ditawarkan Job2Go?

Kami sudah identifikasi dan antisipasi masalah ini, meski Job2Go bersifat online.
Kami ada 10 kantor (offline) di beberapa kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Denpasar, dan lain-lain. Kami menyadari ada yang nyaman daftar memakai aplikasi, tapi masih banyak pencari kerja yang datang langsung di kantor. Bahkan di 2020, masih banyak yang menulis lamaran menggunakan tulisan tangan.

Meski lowongan pekerjaannya buat generasi milenial, tapi pencari kerja non-milenial bisa juga melakukannya. Misalnya tenaga survei, yang penting bisa baca-tulis, punya sepeda motor, dan SIM.

Secara umum, masalah ini adalah tantangan di Indonesia terhadap digital teknologi. Publik masih bertanya apakah aplikasi ini benar atau tidak? Kantornya jelas atau tidak? Maka itu, secara paralel, kami memiliki kantor, orangnya juga ada, jelas.

Kami jelas semuanya. Kantor ada, aplikasi juga ada.

2 dari 4 halaman

Target Satu Juta Pengguna di 2021

kurniawan santoso ceo startup job2go

2020 Merdeka.com

Sektor dan jenis pekerjaan apa saja yang tersedia di Job2Go?

Ada dua sektor usaha yang tumbuh sangat pesat. Pertama, sektor jasa secara umum. Kedua, sektor logistik-distribusi, ini terkait dengan bisnis e-commerce yang tumbuh di Indonesia.

Sektor jasa terutama pariwisata tumbuh pesat, karena masyarakat kini mengalokasikan dana untuk berlibur akibat pendapatannya meningkat. Sementara sektor manufaktur stagnan, ini sejalan dengan era revolusi industri 4.0. Sedangkan agrikultur menurun.

Kami membagi dua besar jenis pekerjaan, yakni dalam ruang dan luar ruang. Pekerjaan luar ruangan seperti surveyor, salesmen, delivery man, seluruh jenis pekerjaan blue collar.Banyak juga lowongan pekerjaan dalam ruang, seperti tenaga administrasi, akunting, resepsionis, SPG supermarket, SPG mal, dan sebagainya.

Semua jenis pekerjaan tersebut sudah ditawarkan di Job2Go. Sebagai platform teknologi, Job2Go memang baru meluncur pada Desember 2019. Tapi secara backbone, kami juga perusahaan outsourcing yang sudah berdiri sejak awal 2019.

Seperti apa rencana bisnis Job2Go pada 2020?

Pada 2020, kami ingin kehadiran aplikasi Job2Go membantu banyak pekerja dari sisi skalabilitasnya. Saat ini kami sudah bantu sekitar 2.000 orang mendapat pekerjaan.

Kami ingin membantu lebih banyak lagi dengan pekerjaan lebih layak lagi. Dengan teknologi dan otomasi, hal itu bisa terwujud. Para pencari kerja tinggal mendaftar di aplikasi, menuliskan keahliannya, dan sebagainya.

Dengan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), proses matchmaking pencari kerja dan pemberi kerja lebih cepat, akurasinya juga lebih baik karena terdeteksi pengalaman dan skill-nya dengan bantuan teknologi dan sesuai dengan kebutuhan klien. Ini menguntungkan kedua belah pihak.

Bagi perusahaan, mendapat pekerja lebih cepat. Sedangkan dari sisi karyawan, nyaman mencari dan mendapat pekerjaan, terhindar dari penipuan dan tidak perlu keliling kantor melamar pekerjaan.

Target jumlah pengguna pada tahun ini?

Saat ini, per akhir januari 2020, pengguna kami mencapai 5 ribu pengguna, setelah dua bulan launching. Targetnya sampai akhir 2020, ada 100 ribu pengguna.

Kami terus melakukan pengembangan platform, pada tahun depan (2021) targetnya satu juta pengguna. Karena pasarnya potensial, kami harus bikin solusi dengan dampak besar.

Visi kami adalah ingin menyelesaikan masalah tenaga kerja di Indonesia secara signifikan, jangan tanggung-tanggung. Jadi 2021, target kami berkontribusi satu juta pekerja.
Dengan makro ekonomi 5 persen, setiap tahun ada dua juta pencari kerja baru di Indonesia.

Bisa dijelaskan pengguna layanan Job2Go secara demografi?

Kami masih fokus di Pulau Jawa, Sumatera, dan Bali. Berikutnya pengembangan ke kota-kota kedua seperti Cirebon, Sukabumi, Purwokerto, dan sebagainya karena kami melihat ada peluang di sana.

Misalnya ada klien kami, seperti Tokopedia atau Grab, ingin masuk ke kota-kota kedua, mereka membutuhkan bantuan kami untuk setting usaha seperti di Purwokerto dan lain-lain.

3 dari 4 halaman

Hindari Strategi Bakar Uang

kurniawan santoso ceo startup job2go

2020 Merdeka.com

Bagaimana strateginya, apakah pakai strategi bakar uang juga seperti startup lainnya?

Saat ini ada pergeseran soal strategi bakar uang. Dahulu, startup dan investor melihat percepatan usaha bisa dilakukan oleh founder dan investor dengan strategi burning money (bakar uang). Ini seperti short cut, jalan singkat.

Misalnya, zaman dulu, Nokia besar setelah 20 tahun. Ya memang melakukan strategi pemasaran dan pengembangan produk juga. Namun sekarang, dengan bantuan teknologi dan capital, bisa lebih cepat. Dulu akuisisi satu juta pengguna, butuh satu tahun. Tapi kini, hanya dalam hitungan bulan atau pekan.

Jadi make sense pada waktunya. Satu sisi masuk akal, tapi problemnya income tidak ikuti spending. Ini hanya soal growth strategy, tapi sekarang jadi bubble.

Contoh di Job2Go, kami membantu 5.000 pekerja dengan kontribusi ke perusahaan senilai x. Ini proven (terbukti). Tapi di Indonesia, tetap butuh modal, jika ingin perkenalan atau akuisisi pengguna, seperti mengikuti job fair. Jadi strategi ada, tapi tidak jor-joran seperti dulu.

Maka itu, sejak awal operasi, kami masuk ke sektor-sektor yang memberi profit saat itu juga. Ada margin di sana. Sejak awal, kami jalan dengan margin positif, tapi tetap butuh modal dan investor. Dalam visi kami, mari besarkan bareng-bareng Job2Go.

Sebenarnya dari mana revenue stream Job2Go?

Kami punya ada dua model pendapatan. Pertama, kami menyediakan tenaga kerja alihdaya atau outsourcing. Di sini, kami ada management fee. Beban ini sepenuhnya dibayar oleh pemberi kerja (perusahaan). Kami tidak potong biaya untuk pencari kerja.

Kedua, kemitraan, kami juga ada fee bagi platform sebagai ruang temu antara pencari kerja dan pemberi kerja. Fee ini juga sepenuhnya dibebankan kepada pemberi kerja (perusahaan). Kami sampaikan pelamar tidak dipungut biaya di Job2Go, karena di Indonesia banyak kasus pelamar keluar biaya untuk melamar kerja.

Bicara investasi, seperti apa posisi pendanaan Job2Go saat ini?

Kami baru beroperasi satu tahun. Saat ini masih pendanaan sendiri (bootstrapping), tapi ada beberapa angel investor, hubungannya lebih ke teman. Sekarang kami dalam proses mengundang investor lebih besar. Jadi dalam seed round, Job2Go dalam proses seed funding.

Kami targetkan pendanaan seri A mungkin pada 2021. Kami terbuka dengan venture company (VC) siapa pun.

Profil investor seperti apa yang diharapkan masuk?

Kriteria investor yang kami harapkan, pertama, investor yang bukan hanya punya modal, tapi juga teknologi pendukung atau akses ke teknologi pendukung, seperti teknologi e-wallet atau mobile payment.

Kami butuh mitra kerja yang memiliki platform e-wallet, karena visi Job2Go adalah one stop solution platform.

Kemudian investor yang memiliki keahlian di kecerdasan buatan (AI), sebab kami butuh AI yang sangat advance, terutama untuk mendukung target pengguna kami dari 100 ribu hingga satu juta pengguna.

Kedua, karena ini dunia online dan offline, kami juga butuh mitra untuk tumbuh di seluruh Indonesia, terutama ke kota-kota secondary. Sekaligus dukungan terhadap target ekspansi ke luar negeri, yakni Filipina dan Malaysia. Karena kedua negara itu profilnya mirip. Kami juga melihat banyak merek-merek Indonesia ke dua negara itu, seperti Mayora, Indofood, dan sebagainya.

4 dari 4 halaman

Perlindungan terhadap Pencari Kerja

platform digital dunia kerja job2go

2019 Merdeka.com

Sebagai platform dunia kerja, seperti apa perlindungan Job2Go kepada pencari kerja?

Sebagai platform, kami hanya menyediakan ruang. Memang ada yang hanya pasang iklan pekerjaan, seperti job portal. Tapi ada juga yang kontinu dan full dalam proses pencarian tenaga kerja, sehingga proses eksekusi di lapangan termasuk kontrak kerjanya juga kami tangani. Apalagi kami punya unit bisnis di jasa outsourcing untuk model kontrak kerja paruh waktu (PKWT) dan kemitraan.


Dalam kontrak kerja PKWT, kami tunduk terhadap segala peraturan misalnya upah sesuai UMP, fasilitas BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan, dan sebagainya.

Prinsipnya, kami dalam posisi mendukung dua pihak; pemberi kerja dan pencari kerja supaya tercapai deal yang comply dengan regulasi.

Nah, terkait on demand service (kemitraan), kami ada kerja sama kemitraan seperti untuk pekerja ride hailing. Kami menjembatani pekerja kemitraan ini. Contohnya, pekerjaan untuk akuisisi kartu kredit. Untuk satu kali pekerjaan, upahnya sekian, misalnya Rp 500 ribu.
Kesepakatannya begitu. Skema kemitraan bisa satu pekerjaan atau waktu seperti satu bulan. Tapi ada juga kontrak jangka panjang antara 6 bulan -12 bulan.

Bila ada perselisihan kerja, bagaimana solusinya?

Ada potensi perselisihan memang. Maka itu mesti dilihat kesepakatan di awal, kami selalu meminta pencari kerja harus menanyakan persyaratan dan kondisi yang kurang jelas. Jika ada wanprestasi, kami menyerahkan proses penyelesaiannya secara kekeluargaan atau lembaga yang ditunjuk seperti Kementerian Tenaga Kerja.

Validasi skill pekerja bagaimana seperti tukang listrik, ada sertifikatnya?

Jadi saat daftar, pencari kerja menuliskan di profilnya, selain nama dan domisili, pengalaman kerja dan preferensi kerja, waktu bekerja, kota tujuan, personal document; KTP/SIM/BPJS.
Setelah itu kami akan matchmaking dengan pencari kerja. Kami ada kolom pendidikan yang bisa diisi pencari kerja yang memiliki skill/kompetensi tertentu seperti tukang listrik. Yang jelas saat mendaftar pencari erja harus memberikan informasi detail.

Data intelijen kami juga lengkap sekaligus bisa melakukan modelling secara realtime, sehingga pencari kerja juga bisa melihat lowongan yang sesuai dengan skill-nya. Ini dimungkinkan secara teknologi.

Saat ini di Indonesia ada 7 juta pengangguran terbuka dan 8 juta pengangguran tertutup. Inilah problem Indonesia; di kota-kota besar, kekurangan karyawan, sedangkan di kota kecil banyak pengangguran. Kami menjadi solusi lewat teknologi.

[sya]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini