7 Masalah Pelik yang Dihadapi Astronot Saat Menjelajah Antariksa
Merdeka.com - Dulu, menjejakkan kaki di Mars adalah hal yang merupakan mimpi saja. Namun saat ini, hal tersebut sedang diusahakan untuk terjadi. Bahkan, NASA bersama Space X punya hitungan kalau diprediksi hal tersebut bisa diwujudkan di 2024 mendatang.
Mimpi untuk melakukan proyek luar angkasa dengan awak ternyata tak cuma tersandung soal teknologi yang belum mumpuni serta bahayanya Mars saja. Namun hal ini juga mencakup persoalan yang personal dari astronot.
Nah, berikut ini akan kami jabarkan deretan masalah pelik yang dihadapi astronot saat menjelajah antariksa melansir dari laman Listverse.
Kesendirian
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comManusia adalah makhluk sosial, dan interaksi dengan manusia lain adalah hal yang secara alamiah dibutuhkan manusia. Mungkin banyak orang yang bisa tidak berinteraksi. Namun jika dibayangkan, astronot berada sangat jauh dari rumah dan tanpa teman.
Terdapat studi yang meneliti soal kecenderungan orang tinggal di habitat terpencil. Dalam penelitian tersebut yang dihelat di gurun Arizona dalam jangka waktu satu setengah tahun, partisipan tercatat menderita depresi dan perubahan suasana hati.
Nah, jika ini diaplikasikan untuk astronot Mars, suasana tentu makin luar biasa membosankan. Para astronot diprediksi bisa menjadi bosan, tertekan, bahkan bisa mulai tidak saling suka satu sama lain.
Kondisi Mengerikan
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comPada Januari 2004 silam, robot Opportunity Rover milik NASA mendarat di Mars untuk misi selama 90 hari. Misi ini dilakukan untuk mencari sumber air di Mars. Misi ini berlanjut yang dijadwalkan hingga 15 tahun ke depannya.
Namun, robot ini akhirnya rusak pada Juni 2018 lalu, karena terkena badai debu Mars dan hilang kontak dengan NASA.
Perjuangan si robot ini pun cukup sulit karena badai debu. Selalu tidak produktif di malam hari karena tidak adanya sinar matahari sebagai sumber energi dari panel surya yang terpasang, Opportunity kerap tak jalan karena adanya badai debu yang menutupi panel surya miliknya.
NASA memiliki ketakuran kalau insiden badai debu ini terulang di stasiun bertenaga surya yang digunakan oleh para astronot di Mars.
Badai di Mars sendiri bisa belangsung selama berminggu-minggu. Namun sebuah badai yang siklusnya 5,5 tahun sekali atau tiga tahun Mars sekali, adalah yang lebih kuat. Badai ini yang akhirnya meruntuhkan robot Opportunity.
Jadi, bisa dibayangkan mengerikannya kehidupan astronot jika kelak akan bermukim di Mars.
Makanan Terbatas
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSebuah studi dari seorang mahasiswa PhD di Massachusetts Institute of Technology menyimpulkan bahwa koloni manusia di Mars bisa mati kelaparan. Studi ini didasarkan pada sebuah misi agen antariksa Mars One.
Soal makanan, agar berkelanjutan, disebut astronot diharuskan untuk menanam tanaman yang akan jadi sumber makanan. Permasalahannya, tanaman juga membutuhkan oksigen. Oksigen ini tentu penting untuk menopang kehidupan para astronot sehingga makanan akan terbatas.
Tentu jika membawa suplai dari Bumi, tentu akan makan tempat dan cepat atau lambat akan habis.
Pesawat yang Berbahaya
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSaat ini telah banyak agen antariksa yang merencanakan proyek untuk membawa awak ke Mars. Di antaranya adalah NASA, SpaceX, dan Blue Origin. Namun permasalahan datang dari roket.
Hal ini dikarenakan roket yang saat ini ada masih menggunakan bahan bakar yang berbahaya bagi awak dan secara dorongan, juga memakan waktu terlalu lama untuk sampai ke Mars.
Seorang mantan astronot NASA bernama Chris Hadfield memberi analogi soal berangkat ke Mars: layaknya menyeberangi lautan dengan sampan. Sang mantan astronot percaya bahwa bahaya ruang dan ketidakpastian yang ada di antariksa kemungkinan besar akan membunuh astronot. Terlebih soal pesawatnya yang ternyata belum terlalu mumpuni.
Risiko Kematian Kala Jatuh Sakit
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comAda sebuah ketakutan kalau para astronot akan mengalami sakit di tengah menjalani misi antariksa. Hal ini dikarenakan penyakit bisa jadi makin rentan menyerang di sana, dan prosedur medis sulit dilakukan.
Beberapa penyakit minor bisa ditangani karena astronot terlatih untuk memberi suntikan, menjahit luka, atau mencabut gigi. Namun jika ada masalah kesehatan lebih serius, astronot akan diharuskan pulang lewat ISS lalu kembali ke Bumi.
Hal ini diperparah dengan tidak adanya gravitasi. Ketika ada prosedur operasi, darah dari luka atau sayatan akan mengambang dan menghalangi pandangan dan bis amencemari seluruh kabin. Selain itu, anestesi tak akan bekerja sebaik di Bumi sehingga rasa sakit tak akan bisa dihalangi bius.
Tubuh Tak Kuat
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comTubuh manusia ternyata secara alami tak kuat dengan adanya gravitasi nol seperti di antariksa. Di ISS saja, seringkali para awak mengalami berbagai masalah. Hal ini mungkin akan makin parah jika di Mars.
Pasalnya, dalam perjalanan dan setibanya di Mars, astronot akan menghadapi tiga medan gravitasi yang berbeda-beda. Mulai dari di Bumi, di ISS dengan gravitasi nol, serta di Mars yang hanya sepertiga gravitasi Bumi.
Hal ini akan berpengaruh pada kemampuan bergerak dan keseimbangan manusia, koordinasi mata, kepala, dan tangan, serta kerapatan tulang akan melemah ketika mendapat gravitasi normal seperti di Bumi.
Jadi, pada dasarnya tubuh manusia tak kuat untuk dibawa ke Mars.
Uang dan Perjalanan Kembali ke Bumi
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comJika kita mengandalkan teknologi yang ada saat ini, ekspedisi ke Mars ternyata hanya memungkinkan untuk berangkat saja. Itupun dengan berbagai masalah seperti pendaratan dan juga roket pendorong.
Bagaimana dengan perjalanan pulang? Ternyata teknologinya sudah dikembangkan namun masih belum mumpuni.
Terdapat kendaraan yang kini sedang dikembangkan yakni Mars Ascent Vehicle, namun punya banyak sekali masalah. Dimulai dari jumlah bahan bakar yang dibutuhkan membuatnya tak bisa mendarat dengan sempurna sembari menembus atmosfer Mars yang tipis dan berisiko justru membakarnya.
Kini, para ilmuwan sedang berfokus untuk mengurangi bebannya sehingga bobot keseluruhannya lebih ringan. Yang justru menimbulkan masalah selanjutnya yakni uang.
NASA sendiri mengakui kalau untuk proyek semasif itu, yang meliputi pelontaran ke luar angkasa, pendaratan, dan kembali ke Bumi, ternyata NASA tak memiliki uangnya.
"Saya tak bisa menentukan kapan manusia bisa ke Mars, dan alasannya benar-benar pada tingkat anggaran ini, kami tidak memiliki sistem yang tersedia untuk Mars," ungkap juru bicara NASA, William H. Gerstenmaier pada 2017 silam.
Menurutnya pula, kendaraan untuk pendaratan masih belum bisa diraih NASA dalam anggaran dana sedemikian. Padahal, NASA sudah memiliki pesawat baru, seperti Orion, dan juga sistem luar angkasa baru yang bernama Space Launch System.
Perangkat yang tentu super mahal tersebut memang bisa membawa manusia ke Mars, namun tidak bisa mendarat. NASA harus mendesain kendaraan pendartan yang bisa mendarat di permukaan Mars dan melontarkannya lagi ke Bumi.
(mdk/idc)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya