Advertisement
Meski saat itu jenjang kariernya sudah lebih baik, tetapi Tham Hien tidak lupa dengan penderitaan dan ketidakadilan yang dialami oleh orang Indonesia akibat penjajajahan Belanda.
Mr. Yap Thiam Hien atau yang biasa disapa dengan John oleh kawan-kawannya lahir di Kutaraja, Banda Aceh pada 25 Mei 1913. Ia merupakan keturunan Tionghoa dari pasangan Yap Sin Eng dan Hwan Tjing Nio.
Yap Thiam Hien tumbuh di lingkungan perkebunan feodal, yang akhirnya membentuk dirinya menjadi seorang yang membenci penindasan dan kesewenangan. (Foto: Wikipedia)
Sejak usia 9 tahun, ia sudah ditinggal ibunya untuk selamanya. Ia bersama kedua adiknya dibesarkan oleh neneknya, Sato Nakashima yang merupakan seorang perempuan Jepang . Namun, meski tidak ada hubungan darah, Sato malah membentuk sebuah keluarga harmonis yang tidak Thiam Hien dapatkan selama ini.
Akan tetapi, sang ayah sudah membentuk kehidupan untuk anak-anaknya. Ia sudah memohon status hukum disamakan dengan bangsa Eropa. Maka dari itu, jaminan pendidikan dari anak-anaknya sangat terjamin dan memungkinkan bisa menempuh pendidikan Eropa.
Advertisement
Advertisement
Tham Hien pernah mengenyam pendidikan di Europesche Lagere School, Banda Aceh kemudian melanjutkan pendidikan di MULO. Tahun 1920, sang ayah membawa Tham Hiem bersama adiknya untuk pindah ke Batavia.
Kepindahannya ke Batavia membuat Tham Hien harus mengenyam pendidikan di MULO Batavia. Kemudian melanjutkan ke AMS dengan program bahasa Barat di Bandung dan Yogyakarta dan lulus pada tahun 1933.
Tham Hien memeluk agama Kristen. Ia kemudian belajar memperdalam agama Kristen melalui kenalannya yang masih keturunan Indo. Ia pun akhirnya memutuskan untuk ngekos di Yogyakarta.
Advertisement
Melansir dari lk2fhui.law.ui.ac.id, Tham Hien mulai berkarier sebagai guru untuk membantu perekonomian ayahnya serta membiayai sekolah adik-adiknya. Ia pun mengajar di sekolah Kristen keturunan Tionghoa di Cirebon dan Lasem.
Tahun 1938, ia mendapatkan kesempatan untuk kuliah umum di Belanda melalui beasiswa. Tak berpikir lama ia langsung mengambil kesempatan itu dan berkuliah di Universitas Leiden. Tahun 1947 ia meraih gelar Meester in de Rechten.
Meski saat itu jenjang kariernya sudah lebih baik, tetapi Tham Hien tidak lupa dengan penderitaan dan ketidakadilan yang dialami oleh orang Indonesia akibat penjajajahan Belanda. Ia sangat konsisten memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia.
Advertisement
Setelah dirinya kembali ke Tanah Air, ia mulai berkiprah sebagai pengacara untuk warga keturunan Tionghoa di Jakarta. Selama menjadi pengacara ia pernah membela pedagang Pasar Senen yang digusur oleh pemilik gedung.
Selain itu, ia juga melakukan penolakan usul pemerintah dalam penggunaan kembali UUD 1945. Menurutnya, UUDS 1945 cenderung lebih baik ketimbang UUD 1945 yang berpotensi membatasi hak pikir, berbicara, menulis, mendirikan organisasi dan sebagainya.
Tham Hien menjadi satu-satunya anggota Konstituante yang menolak usul pemerintah untuk kembali ke UUD 1945. Pada 1966, Tham Hiem membela Soebandrio, Menlu Kabinet Juanda.
Soebandrio saat itu dituduh terlibat dalam peristiwa G30S. Tham Hien yang terkenal sebagai anti-komunis pun tetap pada jalannya yaitu melakukan pembelaan sesuai dengan pekerjaannya di bidang advokat.