Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
<b>Jadi Warisan Budaya Tak Benda, Ini Sejarah Rumah Rungko Peninggalan Suku Kluet Aceh</b><br>

Jadi Warisan Budaya Tak Benda, Ini Sejarah Rumah Rungko Peninggalan Suku Kluet Aceh

Rumah Rungko menjadi salah satu warisan budaya tak benda di Tanah Aceh.

Hampir seluruh suku yang ada di Indonesia tentu memiliki identitas masing-masing, bisa melalui kesenian, adat dan tradisi, hingga rumah tempat tinggal masyarakat.

Suku Kluet di Kabupaten Aceh Selatan salah satu suku di Indonesia yang memiliki ciri khas dan identitas di rumah adatnya yang bernama Rumah Rungko.

Setiap ruangan dari rumah ini memiliki fungsi dan kegunaannya masing-masing.

Rumah Rungko konon sudah didirikan oleh seorang pejuang daerah pada abad ke-20.

Ketika Belanda menguasai Nusantara, rumah ini dulunya menjadi tempat tinggal raja dan kerap digunakan untuk tempat musyawarah dan kantor pengadilan setempat.

Asal Usul

Mengutip dari beberapa sumber, Rumah Rungko ini tak jauh berbeda dengan rumah adat Aceh yang dibangun pada tahun 1914.

Rumah ini menjadi salah satu peninggalan budaya Suku Kluet yang ada di Desa Koto, Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan.

Dulunya bangunan ini dulunya didirikan oleh seorang Raja Menggamat bernama  Imam Hasbiyallah Muhammad Teuku Nyak Kuto yang merupakan keturunan pejuang Kluet Tgk. Imam Sabil yang berperang melawan Belanda saat itu.

Rumah Rungko ini dibangun menggunakan kayu pilihan dan proses penebangannya memakan waktu hingga bertahun-tahun.

Hal ini disebabkan masyarakat Kluet menggunakan parang untuk menebang pohon. Apabila parang tersebut terjatuh, maka tidak boleh dilanjutkan karena tidak diizinkan oleh Tuhan.

Banyak Ruangan dan Luas

Rumah Rungko ini memiliki banyak ruangan dengan beragam fungsi sekaligus bisa menampung beberapa keluarga dan bahkan satu keluarga besar.

Bentuknya terdiri atas serambih huluan, anjung nyulu, rambat, ruang tengah, dapur dan anjung nyahei.

Mengutip dari warisanbudaya.kemdikbud.go.id, uniknya dari Rumah Rungko ini adalah selalu dibangun menghadap ke arah Utara lantaran masyarakat Suku Kluet percaya bahwa agar terhindar dari malapetaka dan terhindar dari segala macam penyakit.

Sementara itu, bagian dapur dan rambat menyambung dengan anjung nyahei di Sebelah Selatan, anjung nyulu di sebelah Utara, serambi haluan di sebelah Barat.

Rumah Tinggi

Secara fisik, Rumah Rungko termasuk rumah yang dibangun dengan pondasi yang cukup tinggi karena untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kluet saat itu.

Melansir dari Jurnal Geosfer Universitas Syiah Kuala, tinggi pondasi yang menyangga Rumah Rungko mencapai 10,16 meter dan berjumlah 32 tiang.

Untuk ukuran tinggi tiang penyangga tersebut di kisaran 3 meter dengan lebar 12 meter dan panjang bidang berukuran 14 meter. Setiap tiang terdapat lilitan sebagai simbol manusia dari unsur Air, Api, Tanah, dan Angin yang bersatu untuk saling menguatkan.

Fungsi utama Rumah Rungko didesain cukup tinggi karena menghindari gangguan hewan buas. Hal ini kembali lagi ke kondisi sekitar rumah yang dikelilingi hutan lebat dan berada di pegunungan. Selain itu, ketinggian rumah ini berguna untuk terhindar dari bencana banjir.

Sudah Langka

Seiring berjalannya waktu, teknologi semakin modern.

Rumah Rungko lambat laun juga semakin tergerus eksistensinya oleh perkembangan zaman dan teknologi. Maka dari itu, sekarang sudah cukup jarang dijumpai Rumah Rungko.

Kesadaran masyarakat akan kelestarian rumah adat ini semakin rendah. Apabila menjumpai rumah ini, pasti kondisinya sudah rusak dan terlihat sangat tua.

Dengan langkanya Rumah Lungko, pemerintah setempat telah menetapkan bangunan tersebut ke dalam Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. 

Sekarang ini masyarakat Kluet lebih memilih untuk membangun rumah dengan konstruksi semen atau batu selayaknya rumah-rumah modern. Meskipun ada yang menggunakan bahan kayu, tetapi segi bentuk sudah tidak sama seperti Rumah Rungko dan sudah tidak sesuai dengan fungsinya.

Kisah Buruh Perkebunan Karet di Aceh Timur, Gelombang Rekrutan Kuli dari Masyarakat Jawa
Kisah Buruh Perkebunan Karet di Aceh Timur, Gelombang Rekrutan Kuli dari Masyarakat Jawa

Perkembangan perkebunan karet di Aceh Timur kerap menggunakan kuli yang berasal dari luar daerah, seperti Jawa hingga Tiongkok.

Baca Selengkapnya icon-hand
Sejarah Sei Rampah, Wilayah yang Terkenal Banyak Tanaman Rempah
Sejarah Sei Rampah, Wilayah yang Terkenal Banyak Tanaman Rempah

Wilayah yang terletak di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) dulunya dikenal sebagai kota yang kaya akan rempah-rempah.

Baca Selengkapnya icon-hand
Sejarah Desa Alur Jambu Aceh Tamiang, Sudah Ditinggalkan Warganya Akibat Diganggu Mahluk Halus
Sejarah Desa Alur Jambu Aceh Tamiang, Sudah Ditinggalkan Warganya Akibat Diganggu Mahluk Halus

Sebuah pedesaan di Aceh Tamiang sudah tak lagi dihuni warganya akibat gangguan mahluk halus.

Baca Selengkapnya icon-hand
Kamu sudah membaca beberapa halaman,Berikut rekomendasi
video untuk kamu.
SWIPE UP
Untuk melanjutkan membaca.
Sosok Teungku Chik Pante Kulu, Ulama Besar Aceh Penulis Karya Sastra Hikayat Prang Sabi
Sosok Teungku Chik Pante Kulu, Ulama Besar Aceh Penulis Karya Sastra Hikayat Prang Sabi

Ulama besar Aceh ini terkenal dengan karya sastra perang yang cukup tersohor yaitu Hikayat Prang Sabi.

Baca Selengkapnya icon-hand
Mengenal Panglima Laot, Warisan Budaya Tak Benda yang Jaga Pesisir Aceh
Mengenal Panglima Laot, Warisan Budaya Tak Benda yang Jaga Pesisir Aceh

Keberadaan Panglima Laot ini sudah muncul sejak masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda pada abad ke-17.

Baca Selengkapnya icon-hand
Sejarah Asal-usul Kota Cirebon, Bermula dari Musala Kecil Tahun 1447
Sejarah Asal-usul Kota Cirebon, Bermula dari Musala Kecil Tahun 1447

Cirebon dulunya hanya sebuah musala kecil. Bagaimana kisahnya?

Baca Selengkapnya icon-hand
Kebakaran Dahsyat Hanguskan 46 Rumah di Gayo Lues Aceh
Kebakaran Dahsyat Hanguskan 46 Rumah di Gayo Lues Aceh

Kebakaran Dahsyat Hanguskan 46 Rumah di Gayo Lues Aceh

Baca Selengkapnya icon-hand
Menelusuri Sejarah Jembatan Tertua di Pulau Sumatra, Diresmikan oleh Wapres RI Pertama
Menelusuri Sejarah Jembatan Tertua di Pulau Sumatra, Diresmikan oleh Wapres RI Pertama

Jembatan yang satu ini konon menjadi jembatan tertua yang ada di Pulau Sumatera.

Baca Selengkapnya icon-hand
Sadis! Geng Remaja Batal Tawuran Malah Bacok Warga
Sadis! Geng Remaja Batal Tawuran Malah Bacok Warga

Rencana tawuran di depan Puswil Aceh, para pelaku malah serang warung kopi

Baca Selengkapnya icon-hand