Jauh sebelum R.A Kartini berjuang demi hak perempuan di Tanah Air, peran perempuan tangguh sudah pernah dibuktikan ketika zaman berdirinya kerajaan. Salah satu sosok perempuan tangguh itu bernama Sultanah Safiatuddin.
Dia merupakan anak tertua dari Sultan Iskandar Muda yang lahir pada tahun 1612. Safiatuddin yang memiliki nama lahir Putri Sri Alam ini memiliki kebiasaan mengarang sajak dan cerita hingga membantu mendirikan perpustakaan di wilayah kekuasaan ayahnya itu.
Safiatuddin menjadi bukti lainnya setelah Laksamana Meulayahati bahwa perempuan juga memiliki kekuatan yang setara dengan laki-laki dan berhak memimpin. Emansipasi wanita sudah berlaku sejak lama sebelum adanya RA Kartini seperti yang kita kenal sekarang.
Seperti apa sosok dari wanita fenomenal dari negeri Aceh ini? Berikut ulasan informasinya yang dirangkum dari beberapa sumber.
Advertisement
Sebelum dirinya diangkat sebagai Sultan Aceh, lebih dulu sang suaminya bernama Sultan Iskandar Tsani yang menduduki tahta selama 4 tahun lamanya (1637-1641). Setelah wafat, kursi kekuasaan Kesultanan Aceh pun kosong dan belum menemukan sosok penggantinya.
Proses mencari pengganti Sultan Iskandar Tsani sendiri tidak berjalan mudah. Telah terjadi kericuhan dalam mencari kandidat penggantinya. Nama sang istrinya yaitu Safiatuddin pun sudah santer, hingga memicu pro kontra di kalangan beberapa kaum.
Berkat kepala dingin seorang ulama besar bernama Nurudin Ar-Raniri, diputuskanlah jika Safiatuddin yang diangkat menjadi seorang Sultan Aceh.
Melansir dari beberapa sumber, Safiatuddin memiliki gelar Paduka Sri Sultanah Tajul-'Alam Safiatuddin Syah Johan Berdaulat Zillu'llahi fi'l-'Alam binti al-marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Syah Alam.
Advertisement
Advertisement
Mengutip dari Seri Sejarah Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh, Safiatuddin yang menjadi wanita pertama yang memimpin sebuah kerajaan itu menjadi sosok dibalik berkembang pesatnya Kesultanan Aceh dalam bidang sosial maupun ekonomi.
Pada catatan Bustanus Saladin, ketika Sultanah Safiatuddin dikenal dengan pemimpin yang bijaksana dan adil. Dalam bidang ekonomi, Kesultanan Aceh mengalami perkembangan pesat lantaran banyak sekali kapal-kapal asing yang bersandar di Pelabuhan Aceh.
Selain itu, harga-harga bahan pokok menjadi cukup murah dan masyarakatnya pun hidup dengan sejahtera. Negara ini semakin kaya ketika ditemukan emas dalam jumlah banyak di era kepemimpinannya hingga meningkatkan pemasukan negara.
Pada masa Sultanah Safiatuddin ini geliat ekspor juga berkembang pesat. Saat itu Kesultanan Aceh telah melakukan ekspor puluhan Gajah ke Benggala dan Masulipatnam.
Advertisement
Advertisement
Sultanah Saifatuddin memiliki jiwa keberanian yang tinggi dan juga cerdas. Pada masa kepemimpinannya, Kesultanan Aceh telah membentuk barisan perempuan pengawal istana. Tak hanya itu, patriot perempuan ini juga diterjunkan ketika Perang Malaka berlangsung pada tahun 1639.
Kedermawanan dirinya juga terpancar jelas ketika meneruskan tradisi pemberian tanah kepada pahlawan-pahlawan perang sebagai hadiah dari kerajaan.
Kemampuan berbahasa Safiatuddin juga tidak perlu diragukan lagi. Dia sudah menguasai berbagai macam bahasa, mulai dari Bahasa Arab, Persia, Spanyol, dan Urdu. Dia begitu cinta dengan pengetahuan, tak heran jika dirinya terus memperhatikan bidang ilmu pengetahuan saat itu.
Safiatuddin wafat pada tanggal 23 Oktober 1675. Ia meninggalkan banyak warisan kebaikan selama memimpin kurang lebih 35 tahun lamanya.