Mengenal Tradisi Malam Bainai, Upacara Jelang Pernikahan yang Dilakukan Nikita Willy

Tanggal 14 Oktober kemarin, Nikita melaksanakan pengajian di pagi hari lalu dilanjutkan dengan Malam Bainai dengan nuansa warna lillac. Momen sakral dan penuh haru sangat terlihat di prosesi Malam Bainai yang dilakukan Nikita Willy.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Mengenal Tradisi Malam Bainai, Upacara Jelang Pernikahan yang Dilakukan Nikita Willy
Mengenal Tradisi Malam Bainai, Upacara Jelang Pernikahan yang Dilakukan Nikita Willy. BrideStory ©2020 Merdeka.com

Hari bahagia Nikita Willy bersama tunangannya, Indra Priawan semakin dekat. Menjelang hari pernikahan, Nikita dan Indra melakukan beberapa prosesi sebelum melepas masa lajang.

Tanggal 14 Oktober kemarin, Nikita melaksanakan pengajian di pagi hari lalu dilanjutkan dengan Malam Bainai dengan nuansa warna lillac. Momen sakral dan penuh haru sangat terlihat di prosesi Malam Bainai yang dilakukan Nikita Willy.

Malam Bainai sendiri adalah tradisi yang dilakukan sebelum hari pernikahan bagi orang Minang. Acara adat ini sekaligus dijadikan sebagai momen berkumpulnya keluarga besar untuk memberikan restu dan doa kepada calon mempelai wanita.

Penasaran seperti apa prosesi dan makna Malam Bainai? Berikut informasi selengkapnya.

Calon Pengantin Memakai Pakaian Khusus

Melansir dari weddingmarket, saat Malam Bainai, calon mempelai wanita akan memakai pakaian adat khusus yang sarat akan makna. Calon mempelai wanita akan memakai baju berbentuk selendang yang disilangkan di depan dada, dengan bagian lengan dan bahu yang terbuka. Sedangkan untuk hiasan kepala, calon pengantin harus mengenakan hiasan kepala khas Minang yang disebut dengan suntiang.

Tapi, suntiang ini harus berbeda dengan yang digunakan di acara pernikahan. Di mana tingkatannya harus lebih rendah dan hiasannya tidak serumit yang akan digunakan di acara pernikahan nanti.

Dimulai dengan Prosesi Mandi-Mandi

Sebelum acara utama Malam Bainai dimulai, acara akan dimulai dengan tradisi mandi-mandi. Prosesi ini mirip dengan siraman yang ada di adat Jawa, hanya saja di sini calon pengantin hanya dicipratkan air bunga tujuh rupa menggunakan daun sitawa sidingin sebagai makna simbolis dan tak harus basah kuyup.Uniknya, jumlah orang yang memercikkan air bunga ini harus ganjil, mulai dari lima, tujuh, atau sembilan. Alasannya adalah karena di dalam Islam, angka ganjil sering melambangkan hal-hal sakral, contohnya sholat lima waktu. Prosesi ini merupakan simbol di mana orangtua memandikan anak perempuan mereka untuk terakhir kalinya sebelum melepas anak perempuannya kepada calon suami.

Calon Mempelai Wanita akan Dituntun ke Pelaminan

Melansir dari weddingku, prosesi Mandi-Mandi selesai, saatnya sang calon mempelai wanita dituntun menuju ke pelaminan. Calon mempelai wanita akan dituntun oleh kedua orangtuanya berjalan di atas kain jajakan berwarna kuning terbentang menuju pelaminan.Ini melambangkan perjalanan calon mempelai dari kecil sampai dewasa. Setiap kain yang dilewati akan digulung oleh dua orang saudara laki-laki yang bermakna sebagai harapan supaya pernikahan yang ditempuhnya cukup satu kali seumur hidup.

Prosesi Puncak Malam Bainai

Tibalah di acara puncak Malam Bainai. Calon mempelai wanita akan dipakaikan inai di jari-jarinya oleh kerabat wanita yang dituakan. Jumlah jari yang dipakaikan inai pun hanya sembilan, ditambah daun sirih yang digunakan untuk menutup ibu jari. Setiap kuku yang dipakaikan inai memiliki makna yang berbeda-beda. Selain itu, prosesi ini dipercaya bisa melindungi sang calon mempelai wanita dari berbagai macam godaan.

Saat memakaikan inai di jari calon mempelai, para keluarga dan saudara yang memakaikan akan membisikkan doa-doa dan nasihat kepada sang calon mempelai untuk bekal kehidupan rumah tangganya nanti.

Rekomendasi