Layangan Janggan, Naga Sakral Dewa Layangan Bali

Rabu, 22 September 2021 14:00 Reporter : Tyas Titi Kinapti
Layangan Janggan, Naga Sakral Dewa Layangan Bali Layangan Janggan. ©2021 Merdeka.com/Dewa Krisna

Merdeka.com - Layang-layang menghiasi langit cerah sore itu. Berkibar-kibar seolah sedang menari di angkasa. Bermain layangan memang sudah menjadi hal yang biasa di sejumlah daerah, namun di Bali bermain layangan atau yang disebut Melayangan sebuah tradisi.

Berbeda dari layang-layang pada umumnya. Layang-layang khas Bali memiliki bentuk dan keunikan sendiri. Salah satunya, Layangan Janggan. Layangan Janggan bak dewa layangan. Dengan panjang ekor yang menjuntai, layangan Janggan berbentuk naga ini dianggap sebagai layangan paling sakral saat Melayangan.

Karya terbang itu dipercaya memiliki tulang dan organ tubuh selayaknya manusia, bahkan memiliki roh. Jiwa layangan diyakini perwujudan Rare Angon, dewa pelindung areal persawahan dari hama maupun burung.

layangan janggan
©2021 Merdeka.com/Dewa Krisna

Dengan bentuk yang lebar. Kain sepanjang lebih dari 100 meter menjuntai di bagian ekornya. Berbunyi pelan saat terhembus angin. Layangan ini memang bukan sekedar ornamen di hamparan langit Pulau Dewata.

Dalam kelompok layangan tradisi, layangan janggan dipercaya sebagai naga sang penjaga kestabilan dunia. Menurut mitos bumi ditopang oleh seekor kura-kura raksasa bernama Benawang Nala. Pada bumi tersebut dikelilingi oleh seekor naga yakni Naga Basuki. Naga itulah yang diabadikan menjadi layangan Janggan.

Layang-layang yang terbang di angkasa ini bertujuan untuk memohon kepada dewa Rare Angon agar panen berlimpah. Dewa Rare Angon dipercaya masyarakat Hindu bisa melindungi sawah mereka dari berbagai macam serangan hama sehingga panen masyarakat akan berlimpah.

layangan janggan
©2021 Merdeka.com/Dewa Krisna

Ada tiga jenis layang tradisi di Bali. Pertama, bebean yang mengambil bentuk ikan. Kedua, pecukan yang bentuknya dipercaya simbol dari sang Hyang Widhi Wasa. Terakhir, layangan janggan yang berbentuk naga dengan ekor menjuntai dan paling sakral.

Sebelum mengangkasa, layangan tradisional ini juga punya ritual sendiri. Ketiga layangan, bebean, pecukan dan janggan disucikan. Doa dan asa dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Begitu pula saat setelah berlaksi di langit.

layangan janggan
©2021 Merdeka.com/Dewa Krisna

Ketiga layangan ini biasanya menghiasi langit dalam acara festival layang-layangdi daerah pantai Padang Galak, Sanur, Bali. Festival musiman ini memiliki pesan keagamaan dimaksudkan untuk mengirim pesan kepada dewa-dewa Hindu untuk memberikan hasil pertanian yang melimpah. Biasanya diadakan sekitar bulan Juli-Oktober saat musim berangin tiba.

layangan janggan
©2021 Merdeka.com/Dewa Krisna

Festival layangan ini berbeda dari yang kebanyakan. Yang menjadi ciri khas ialah ukuran layangan yang jumbo dan selalu diiringi gamelan baleganjur. Festival layangan dibuat dan diterbangkan dalam kompetisi antara tim-tim dari banjar di Denpasar.

Tim terdiri dari sekitar 70 sampai 80 orang, masing-masing tim memiliki Gamelan, pembawa bendera dan penerbang layang-layang. Nantinya, layang-layang tradisional dengan lebar 4 meter dan panjang 10 meter ini diterbangkan secara bersamaan.

Selain layangan tradisional, ada juga layang-layang kreasi baru dengan bentuk 3D. Seperti benntuk Dewa Hindu, kendaraan seperti mobil dan motor, maskot dsb. [Tys]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini