Fakta Menarik Kupiah Meukeutob, Kupiah Unik Khas Teuku Umar Pahlawan Nasional Aceh
Merdeka.com - Siapa yang tidak kenal Teuku Umar? Ya, salah satu pejuang sekaligus pahlawan Republik Indonesia asal Aceh ini sudah tak asing di telinga masyarakat. Tak hanya namanya saja yang populer, rupanya aksesoris yang ia kenakan juga yaitu Kupiah Meukeutob.
Kupiah ini sudah tak asing bagi masyarakat Aceh, banyak orang menganggap kupiah ini sebagai kupiah Teuku Umar. Namun, aksesoris ini rupanya kerajinan budaya khas masyarakat Pidie.
Berdasarkan situs resmi warisanbudaya.kemdikbud.go.id, awal mulanya Kupiah Meukeutob ini bagian dari pakaian harian masyarakat Pidie. Namun, bentuknya tidak seperti aksesoris kupiah seperti sekarang ini.
Penasaran dengan sejarah Kupiah Meukeutob yang digunakan Teuku Umar ini? Simak rangkumannya yang dihimpun dari beberapa sumber berikut ini.
Sejarah Penamaan

id.wikipedia.org ©2023 Merdeka.com
Melansir dari warisanbudaya.kemdikbud.go.id, beberapa masyarakat Pidie menyebut aksesoris ini dengan sebutan Kupiah Kop yang berarti kupiah dari Tungkop yang berada di Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Pidie.
Kupiah Kop ini berbentuk bulat seperti lobe, biasanya dipakai sebagai peci, penutup kepala untuk ke masjid serta menghadiri kegiatan adat seperti takziah, musyawarah adat dan sebagainya.
Adapun yang menyebut dengan sebutan Kupiah Syam, secara bentuk memang lebih tinggi, mirip peci pada tarian Sufi dari Timur Tengah. Kupiah ini dimaknai sebagai Kupiah dari Negeri Syam.
Asal Usul Kupiah Meukeutob

beautiful-indonesia.umm.ac.id ©2023 Merdeka.com
Dari kedua kopiah yang sudah disebutkan, kemudian berubah menjadi Kupiah Meukeutob karena diberi hiasan. Tak hanya itu, aksesoris ini juga melambangkan kebangsawanan, tanda kebesaran raja dan memiliki kedudukan tertinggi.
Kupiah ini khusus digunakan oleh raja termasuk pada saat masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Tak hanya itu, aksesoris ini juga menunjukkan status sosial di dalam lapisan masyarakat Aceh pada zaman dahulu.
Seiring perkembangannya waktu, kupiah tersebut diberi hiasan tampok yang berbentuk bintang bersusun yang terbuat dari emas dan perak yang disepuh. Lalu ditambah dengan hiasan lain seperti priek-priek dan menggunakan lapisan kain bernama Teungkulok.
Proses Pembuatan
Dalam proses pembuatan aksesoris yang satu ini memerlukan tingkat ketekunan yang cukup tinggi. Mulai dari bahan-bahan yang digunakan untuk membuat Kupiah ini yaitu kain tetron berwarna hijau, kuning, merah, hitam, kain satin berwarna putih, kapas, benang jahit dan tepung kanji.
Proses pembuatannya yang cukup rumit, Kupiah yang digunakan oleh kaum pria ini biasa dikerjakan secara bersama-sama oleh para pengrajin.
Biasanya, para pengrajin akan membagi tugas dalam proses tahap pengerjaan Kupiah ini mulai dari lapisan bagian luar dan sebagian lagi ada yang mengerjakan proses finishing.
Tinggi Nilai Filosofis
Kupiah ini tak hanya sekedar digunakan oleh Teuku Umar saja, melainkan mengandung nilai filosofis yang tinggi dan juga penuh dengan nilai estetika.
Nilai-nilai itu tertuang pada warna dan desain Kupiahnya yang menurut masyarakat Pidi. Pertama, warna merah merupakan simbol keberanian, warna hijau simbol kemakmuran dan agama, warna hitam simbol kepahlawanan, warna kuning simbol kebangsawanan dan warna putih sebagai simbol kesucian.
Kemudian motif 4 anak tangga itu juga memiliki makna masing-masing. Pertama, bermakna hukum, kedua bermakna adat, ketiga bermakna qanun atau hukum muslim, dan keempat bermakna reusam atau bermakna unsur-unsur adat istiadat serta tata cara kehidupan yang ada dari zaman dulu. Seluruhnya merupakan pedoman hidup masyarakat Pidie.
Biografi Teuku Umar

©2022 Merdeka.com/tiktok.com/narasi.nara
Teuku Umar lahir di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat pada tahun 1854. Ia memiliki 3 saudara kandung yaitu Teuku Musa, Tjut Intan, dan Teuku Mansur. Sejak kecil, Teuku Umar dikenal sebagai anak yang cerdas, pemberani, dan keras.
Pada tahun 1873, saat meletusnya Perang Aceh, Teuku Umar yang masih berumur 19 tahun memberanikan diri untuk terjun ke medan perang bersama pejuang Aceh lainnya. Di umurnya yang masih sangat muda, ia sudah diangkat menjadi Keuchik Gampong atau kepala desa di Daya Meulaboh.
Saat usianya masih 20 tahun, ia menikah dengan Nyak Sofiah yang dikaruniai anak bernama Uleebalang Glumpang. Lalu, Teuku Umar menikah lagi dengan Nyak Mahligai yang merupakan putri Panglima Sagi XXV Mukim dan dikaruniai seorang anak perempuan.
Pada tahun 1880, ia menikah lagi dengan Cut Nyak Dhien yang sempat menjanda selama 2 tahun karena suami pertamanya gugur di medan perang saat melawan Belanda pada tahun 1878.
Sejak umurnya yang masih 19 tahun, Teuku Umar sudah memegang senjata dan melawan Belanda pada Agresi Militer Belanda I pada tahun 1873. Ia dikenal memiliki kejiwaan orang aceh, mampu menarik pengikutnya dengan sifat dermawan dan riang gembira. Dia wafat pada tahun 1899 karena tertembak di medan perang di Kampung Mugo akibat serangan mendadak dari pihak Belanda ke Meulaboh.
(mdk/adj)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya