Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kisah Haru Guru Ita, Seorang Diri Mengajar 12 Murid di Sekolah Reyot

Kisah Haru Guru Ita, Seorang Diri Mengajar 12 Murid di Sekolah Reyot Kisah Haru Guru Ita, Seorang Diri Mengajar 12 Murid di Sekolah Reyot. liputan6.com ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Menjadi seorang guru memang pekerjaan yang mulia. Namun, masih banyak guru di Indonesia yang belum mendapatkan kehidupan yang layak. Apalagi bagi mereka yang harus mengabdikan diri di daerah terpencil.

Sering kali, bukan hanya mendapatkan upah yang tak layak, guru-guru di daerah pelosok harus dihadapkan dengan kondisi kurangnya fasilitas mengajar yang memadai.

Itu lah yang dialami oleh Ita Purnama Sari. Guru muda 23 tahun ini, semenjak lulus kuliah pada 2019 lalu, memulai kariernya mengajar di sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Al Qalam.

Gedung sekolah MIS Al Qalam Nanga Rema yang terletak di Desa Haju Wangi, Manggarai Timur, NTT sangat memprihatinkan. Bangunan yang difungsikan untuk tempat belajar mengajar itu tampak reyot.

Selain kondisinya yang tak layak, sekolah ini hanya memiliki satu guru dan 12 siswa dari tiga kelas. Untuk bisa ke sekolah ini, Ia dan muridnya harus menyeberangi sungai Nanga Rema selebar 50 meter.

Melansir dari Liputan6.com, berikut kisah Ita yang tak pernah lelah mengabdi di sekolah ini.

Satu-satunya Guru di Sekolah Ini

Ita merupakan guru satu-satunya yang mengajar di sekolah ini. Ia pun harus mengajar tiga kelas dalam sehari.

"Setiap hari saya harus mengajar tiga kelas, semuanya bisa dilalui dengan baik. Dalam banyak keterbatasan anak-anak begitu semangat menerima pelajaran," ujar Ita pada Sabtu (26/9).

Atas pengabdiannya ini, Ia diberi honor Rp500 ribu sebagai upah mengajar. Honor ini Ia dapatkan tiga bulan sekali, yang berasal dari dana BOS. Selain dari dana BOS, Ia juga mendapatkan anggaran dari uang komite siswa, yang dibayar Rp10 ribu setiap orang dalam sebulan.

Berharap Bisa Diperhatikan Pemerintah

Menurutnya, masih banyak kekurangan yang dirasakan di sekolah tersebut. Selain gedung yang tak layak, mereka juga tidak memiliki banyak buku bacaan.Sebagai satu-satunya guru yang mengajar di sekolah itu, mewakili siswa dan orangtua murid, Ia berharap agar pemerintah bisa memperhatikan kondisi sekolah ini. Ia juga berharap agar pemerintah bisa menyalurkan buku pelajaran untuk para siswanya."Masalah yang dihadapi sekarang adalah kekurangan buku pelajaran serta buku untuk literasi anak-anak," Ia menandaskan.Meski harus mengajar di tengah kondisi yang memprihatinkan, namun Ita ingin terus mendampingi murid-murid di sekolah ini karena baginya mereka adalah generasi penerus bangsa yang harus diperhatikan.

(mdk/far)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP