Candi Muaro Jambi merupakan sebuah situs kompleks yang becorak agama Hindu-Buddha dengan luas sekitar 3.981 hektare. Letak kawasan ini berada di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.
Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi ini masih dalam tahap revitalisasi dan juga pemugaran secara besar-besaran. Apabila seluruh prosesnya sudah rampung, kawasan ini bisa lebih hebat dari Angkor Wat yang ada di Kamboja.
Menurut Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid, dalam lima tahun ke depan KCBN Muaro Jambi ini bisa lebih hebat dari kawasan Angkor Wat. Hal ini bisa dipastikan karena tempat tersebut memiliki potensi.
"Dalam lima tahun kedepan KCBN Muaro Jambi bisa lebih hebat dari Angkor Wat. Hal ini potensinya sudah terjamin dan tinggal bagaimana stakeholder nanti bekerja untuk menjadikan situs terpenting di Asia Tenggara," ucap Hilmar Farid, mengutip Liputan6.com (7/6).
Advertisement
KCBN Muaro Jambi berada tepat di pinggiran Sungai Batanghari yang berhulu di Pegunungan Bukit Barisan dan bermuara di Pantai Timur Jambi.
Mengutip situs kebudayaan.kemdikbud.go.id, kawasan ini terdapat peninggalan purbalaka yang meliputi kompleks percandian, pemukiman kuno, dan sistem jaringan perairan masa lalu dengan cakupan lokasi delapan desa.
Tak mengherankan jika situs ini sangatlah luas cakupannya dengan wilayah yang terdiri dari Desa Muara Jambi, Desa Danau Lamo, Desa Dusun Baru, Desa Kemingking Luar, Desa Kemingking Dalam, Desa Dusun Mudo, Desa Teluk Jambu, dan Desa Tebat Patah.
Advertisement
Dalam rangkuman sejarahnya, kawasan Candi Muaro Jambi ini awalnya ditulis dalam laporan seorang perwira angkatan laut Inggris, S.C. Crooke pada tahun 1820 silam.
Ia menuliskan bahwa melihat sebuah reruntuhan bangunan dan ditemukan arca yang menggambarkan Arca Buddha. Kemudian pada tahun 1921 dan 1922 ketika T. Adam menerbitkan sebuah catatan yang menjelaskan jika penemuan Arca Buddha itu berada di Muarajambi.
Pada masa kedudukan Belanda antara rentang tahun 1936-1937, seorang sarjana Belanda bernama F.M. Schnitger melakukan sebuah perjalanan ke Sumatra termasuk Jambi untuk melihat tempat-tempat purbakala di sana.
Ketika ia tiba di Muarajambi, Schnitger menyebut jika ada bekas reruntuhan bekas kerajaan kuno dan menyebut nama-nama candi seperti Astano, Gumpung, Tinggi, Gudang, Garem, Gedong I, Gedong II, dan Bukit Perak.
Advertisement
Konon kawasan ini dulunya merupakan tempat pendidikan agama Buddha pada abad ke-7 sampai 13 yang terluas di Indonesia dan Asia Tenggara. Pada tahun 671 Masehi, para ribuan biksu dari Thailand, India, Srilanka, Tibet, Cina datang ke tempat ini untuk memperdalam ilmu sebelum ke Nalanda atau kawasan Bihar di India.
Sejak lama kawasan ini sudah cukup populer dan tersohor dalam sejarah agama Buddha. Dalam tulisan Swarnadwipa Muaro Jambi, Maha Guru Buddha Atisa Dipamkara Shrijnana pernah tinggal dan belajar di Muaro Jambi selama kurang lebih 12 tahun lamanya, mulai dari tahun 1011 sampai 1023.
Atisa adalah seorang yang berperan penting dalam membangun gelombang kedua Buddhisme dari Tibet. Ia pernah menjadi murid dari guru besar Buddhis, yakni Guru Swarnadwipa, Serlingpa Dharmakirti.
Advertisement
Mengutip Liputan6.com, kawasan Candi Muaro Jambi telah didaftarkan sebagai warisan budaya dunia atau world heritage sejak tahun 2009 silam. Namun, sampai sekarang cagar budaya ini belum juga terdaftar di warisan budaya dunia UNESCO.
Menurut aktivis Pegiat Budaya Muaro Jambi, Mukhtar Hadi menjelaskan jika upaya dalam mendapatkan pengakuan UNESCO ini bisa pupus apabila pemerintah tidak bisa memindahkan Stockpile batu bara untuk keluar dari kompleks candi.
"Seharusnya bisa kita lihat lagi kenapa UNESCO tidak kunjung menetapkan Muaro Jambi sebagai warisan dunia. Saya kira ini karena masih ada akvitias industri yang merusak, sehingga pihak UNESCO enggan," ucap pria yang kerap disapa Borju.
Advertisement