Bagus Kahfi Gagal Pindah ke Utrecht FC: Antara Profesionalitas, Bisnis & Nasionalisme

Membedah Kasus Bagus Kahfi Gagal Pindah ke Utrecht FC: Pentingnya Profesionalitas, Bisnis, dan Nasionalisme

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Bagus Kahfi Gagal Pindah ke Utrecht FC: Antara Profesionalitas, Bisnis & Nasionalisme
Ilustrasi Jual Beli Pemain (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Saga transfer Bagus Kahfi dari Barito Putera ke FC Utrecht berakhir antiklimaks. Tidak adanya kata sepakat dari kedua pihak perihal negosiasi transfer menjadi penyebabnya. Ada hal-hal krusial yang mesti diamati betul mengenai kegagalan tersebut, sebab ini soal profesionalitas, harga diri, dan nasionalisme.

Transfer pemain dalam sepak bola sejatinya adalah hal yang lumrah. Hanya saja, detail dalam negosiasi transfer seringkali menjadi hal-hal yang kemudian dihiraukan. Padahal, ada aspek penting menyangkut hak atau privilege pemain dan klub yang terlibat, terutama jika menyangkut pemain muda.

Buat ribuan atau bahkan jutaan anak muda di segala penjuru dunia pasti ingin bermain sepak bola di Eropa. Dilansir dari soccerinteraction.com, banyak pemain muda yang berasal dari benua Afrika, Amerika Selatan, dan Asia mengambil risiko apapun demi memenuhi mimpi tersebut.

Mimpi ini, lanjut laporan tersebut, sering dieksploitasi oleh agen dan atau organisasi yang mengirimkan pemain-pemain muda ke Eropa. "Sayangnya, persentase para pemain muda yang tak berhasil cukup tinggi. Banyak yang tidak mendapatkan kontrak profesional, tapi tetap bertahan di negara Eropa untuk mengadu nasib di luar sepak bola."

Guna mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan, pada 2009, FIFA mengambil tindakan. Transfer pemain di bawah usia 18 tahun dilarang. Kecuali memenuhi tiga aspek berikut seperti yang tercatat pada Article 19 FIFA's International Transfer Regulations:

  • Orang tua anak pindah negara untuk alasan yang tidak berkenaan dengan sepak bola;
  • Transfer pemain terjadi di negara Uni Eropa atau Zona Ekonomi Eropa, dan pemain berusia 16-18 tahun;
  • Pemain dan klub yang dituju berlokasi tidak lebih dari 50 km dari perbatasan negara.

Langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko pemain muda terbengkalai di luar negeri. Di sisi lain, klub-klub besar tetap mendatangkan pemain asing berusia muda dan mengabaikan hal tersebut.

Beberapa klub, sebut saja Barcelona, yang terkenal dengan akademi pemainnya ternyata beberapa kali melakukan hal ini. Tapi, karena mereka memiliki fasilitas olahraga yang menunjang, para pemain muda ini dianggap memiliki masa depan cerah. Kalau memang pada akhirnya 'tidak cukup berkualitas', Barcelona bisa melepasnya ke klub lain dengan label alumnus La Masia yang tentunya bakal dicetak tebal di CV-nya.

Intinya, negosiasi transfer tidak bisa dilakukan sembarangan dan seenak udel. Ada garis tegas yang mengatur mengenai hal ini. Dalam kasus Bagus Kahfi, Barito Putera meminta adanya deal-deal-an harga kepada FC Utrecht.

"Bagi saya, Barito Putera tidak salah. Ada aturan main melepas pemain yang masih terikat kontrak. Kompensasi harus tetap ada karena selama ini mereka yang menggaji Bagus," tegas mantan manajer Pelita Jaya, Lalu Mara Satriawangsa.

"SSB saja harus mendapatkan kompensasi ketika ada pemain yang diambil klub lain. Itu menjadi bagian dari apresiasi kepada pembina awal sang pemain," ujar pria yang juga pernah menjabat sebagai wakil manajer Arema ini.

Karena tidak dealterkait Bagus Kahfi, Barito Putera kena semprot banyak pihak. Komentar negatif pun bermunculan, sampai ada klaim bahwa tim asal Kalimantan itu tidak nasionalis. Padahal, aspek bisnis dengan segala risikonya dalam sepak bola adalah hal yang penting dan lumrah.

Uang Solidaritas

Reaksi gelandang serang Bayern Muenchen Arjen Robben usai diganjar kartu kuning oleh wasit Viktor Kassai di leg kedua semifinal Liga Champions lawan Real Madrid di Santiago Bernabeu, 25 April 2012. AFP PHOTO / DANI POZO

Peraturan FIFA menyatakan, jika ada transfer pemain sepak bola profesional terjadi saat masih dalam kontrak, maka 5 persen dari total transfer, akan menjadi milik klub profesional pertamanya. Peraturan yang diberi nama uang solidaritas ini dibatasi hingga si pemain berusia 23 tahun.

Contohnya terjadi ketika Arjen Robben diboyong Bayern Munchen. Meski winger asal Belanda ini dibeli dari Real Madrid, Munchen tetap harus membayar uang senilai 500ribu euro kepada Groningen. Sebab, Robben dikontrak pertama kali secara profesional oleh klub asal Belanda tersebut.

AS Roma juga membayar 45ribu euro kepada Freamunde ketika membeli Vitorino Antunes. Lalu ada Manchester City yang harus merogoh kocek sebesar 1,8 juta euro kepada Santos ketika memboyong Robinho.

Selain uang solidaritas, ada juga yang namanya biaya kompensasi latihan. FIFA tidak memiliki peraturan baku mengenai hal ini, sebab sifatnya diajukan dalam klausul antara klub dengan pemain saat penandatanganan kontrak. Dua peraturan ini hanya terjadi jika proses transfer terjadi saat si pemain belum berusia lebih dari 23 tahun karena pengembangan pemain umumnya dilakukan hingga U-23 (alih-alih tim cadangan, diberi nama development squad).

Pelanggaran

Rekomendasi