Anak Tantrum? Psikolog Ingatkan Respons Orangtua yang Sering Keliru

Ratih Ibrahim mengimbau orangtua tidak ikut tantrum saat anak mengamuk dan memberi cara menenangkan emosi si kecil. Ada data risiko kesehatan mental remaja.

Benedikta Desideria
Oleh Benedikta Desideria - Reporter
Anak Tantrum? Psikolog Ingatkan Respons Orangtua yang Sering Keliru
Kelelahan terjadi ketika anak kurang tidur atau beraktivitas lebih lama dari yang mampu ditoleransi tubuhnya. Menariknya, anak yang lelah tidak selalu terlihat mengantuk. Mereka justru bisa menjadi lebih sensitif dan sulit tenang. (foto/dok: freepik/bearfotos)

Menghadapi anak tantrum bukan perkara mudah bagi orangtua. Ayah dan ibu justru perlu menjaga emosi agar tidak ikut terpancing. Respons orangtua menjadi contoh langsung bagi anak dalam belajar mengendalikan perasaan, menurut psikolog klinis Ratih Ibrahim, dikutip dari Antara.

Ratih mengingatkan agar orangtua tidak membalas amukan anak dengan emosi yang sama karena pola itu akan ditiru.

"Jadi, kalau ibunya tantrum, anaknya jadi makin tantrum. Anak akan belajar bahwa emotional regulation-nya jadi persis kayak ibunya," kata anggota Tim Ahli Program Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan itu.

Ia mencontohkan reaksi yang kerap muncul di benak anak.

"Oh ini ternyata boleh kayak begini."

Alih-alih marah, ia mendorong orangtua memahami dan membantu anak menamai emosi yang sedang dirasakan, misalnya dengan menyampaikan bahwa orangtua mengerti ia sedang kesal. Pendekatan empatik membantu menghadirkan kesadaran bahwa perasaan negatif itu wajar dan anak tetap dicintai.

Selain membantu anak mengenali dan menyadari perasaannya, Ratih menekankan pentingnya mengajarkan batasan agar emosi tidak diluapkan dengan cara yang merusak. Ia menyoroti kebiasaan menyalahkan benda mati saat anak terjatuh atau terluka.

"Dari situ anak justru jadi tidak belajar, tidak ada self awareness, pemahaman bahwa ini adalah emosi yang biasa saja," kata Ratih dalam acara bersama Danone Indonesia pada Kamis (8/9/2026).

Ia menambahkan, anak-anak perlu dilatih untuk mengenali dan menyadari perasaan serta membangun kecerdasan emosional agar tumbuh menjadi pribadi yang adaptif dan memiliki ketahanan dalam menghadapi masalah.

Kecerdasan Emosional untuk Mencegah Dampak Tantrum

Ratih mengatakan bahwa anak yang tidak memiliki kecerdasan emosional memadai lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental.

Menurut data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey tahun 2022 satu dari tiga remaja Indonesia yang berusia antara 10 dan 17 tahun mengalami masalah kesehatan mental.

Gangguan kesehatan mental yang paling banyak dialami remaja menurut hasil survei adalah gangguan cemas (gabungan antara fobia sosial dan gangguan cemas menyeluruh), diikuti oleh gangguan depresi mayor, dan gangguan perilaku.

Guna mencegah masalah kesehatan mental di kemudian hari, anak-anak perlu dilatih untuk membangun kecerdasan emosional.

Orangtua bisa membantu anak membangun kecerdasan emosional dengan mengajari anak melakukan regulasi emosi dan mencontohkan pengendalian emosi.

Rekomendasi