Penyempitan pembuluh darah dapat berlangsung tanpa gejala yang jelas, namun tetap berisiko berlanjut hingga memicu serangan jantung. Kondisi ini kerap luput terdeteksi karena tidak menimbulkan keluhan pada tahap awal.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito A. Damay, menyebut penyempitan pembuluh darah sekitar 30–40 persen belum tentu memunculkan keluhan. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta pada Rabu (8/10), menurut Antara.
Ia menjelaskan, minimnya aktivitas fisik membuat seseorang tidak menyadari kondisi pembuluh darah yang mulai menyempit karena keluhan belum terasa saat jarang bergerak.
Vito A. Damay mengatakan, "Jadi karena tidak tahu, merasa tidak ada keluhan. Yang kedua, tidak pernah bergerak, atau sering terlalu lama duduk"
Ia mengingatkan pentingnya perubahan gaya hidup untuk mengurangi risiko, mulai dari olahraga teratur, pengaturan pola makan, hingga menjaga kualitas tidur.
"Kalau kita mengubah pola hidup, tidur lebih teratur, menurunkan berat badan dengan komposisi yang baik, dengan latihan, olahraga, atur makan, kekakuan pembuluh darah mungkin bisa berubah," katanya.
Dosen Fakultas Kedokteran UPH ini menambahkan, berdasarkan pengalamannya menangani pasien, sekitar 90 persen pasiennya tidak berolahraga. Karena itu, aktivitas fisik dan pola makan sehat menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan jantung.
Ia juga menekankan bahwa tidur kerap diabaikan, padahal termasuk aspek yang perlu diperhatikan bersama pola makan, aktivitas fisik, dan stres.
"Kemudian, tidur. Tidur kurang adalah faktor risiko (penyakit jantung). Tidur ini paling orang abaikan," katanya.
Vito turut mengingatkan soal kebiasaan merokok. Menurut dia, berhenti merokok merupakan salah satu langkah perubahan yang dapat segera dilakukan untuk menekan faktor risiko.
"Kalau mereka mau berhenti merokok, sangat bagus," ujarnya.