Protein yang Masuk pada Anak Bisa Bantu Cegah Stunting

Senin, 11 November 2019 19:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Protein yang Masuk pada Anak Bisa Bantu Cegah Stunting Ilustrasi bayi makan. ©Shutterstock.com/gresei

Merdeka.com - Pada usia dini, asupan nutrisi dan protein pada anak bisa snagat penting dan menentukan. Hal ini bisa mempengaruhi perkembangan dan kesehatan anak secara prima.

Pakar gizi dari Universitas Indonesia, Prof Dr dr Saptawati Bardosono MSc, mengatakan bahwa sumber protein, baik hewani maupun nabati, memiliki pengaruh positif apabila diberikan saat anak berusia enam bulan atau mulai mengonsumsi Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI).

Menurut Saptawati, energi total yang masuk ke tubuh si Kecil berkontribusi sebesar 40 persen agar anak tidak stunting.

"Kalau protein (saja) 34 persen, tapi kalau protein yang berkualitas sudah 40 persen. Kalau kita gabung (dari sumber makanan lain) menjadi 43 persen," kata Saptawati.

Salah satu sumber protein adalah susu. Oleh sebab itu, Saptawati menganjurkan kepada para ibu agar memasukkan kegiatan minum susu di periode pemberian makanan pendamping ASI (MPASI).

Pemberian susu dan sumber protein lainnya di periode tersebut akan merangsang pertumbuhan anak. Susu dan sumber protein lainnya memiliki asam amino yang dapat meningkatkan massa massa otot lanjut.

1 dari 1 halaman

Asupan Protein Sangat Penting pada 1.000 Hari Pertama

Pemberian asupan protein di 1.000 hari pertama kehidupan, sampai anak berusia 10 memiliki hubungan dengan berat badan dan tinggi badan. Selain tidak stunting, anak juga terhindar dari obesitas.

"Itu kalau dia masukan protein berkualitasnya sejak awal kehidupan. Akan tetapi kalau dibatasin asam aminonya, produksi daripada insuline growth factor yang lain akan mengalami gangguan," kata Saptawati.

"Jadi ini menunjukkan bahwa anak-anak yang mengonsumsi protein yang berkualitas, akan terhindar dari kegemukan," katanya.

Namun, tetap harus hati-hati karena kita tidak boleh berlebihan dalam mengonsumsinya. Jangan mentang-mentang sumber protein itu baik, lantas tidak mengonsumsi sumber makan lainnya.

"Tetap ada batas maksimalnya. Karena protein yang masuk akan dicerna oleh usus, oleh hati, dan dikeluarkan oleh ginjal. Kalau kita kebanyakan, tiga organ ini akan sangat over kerjanya. Sehingga akan mengalami banyak gangguan," tandasnya.

Reporter: Aditya Eka Prawira
Sumber: Liputan6.com [RWP]

Baca juga:
Morning Sick Parah yang Dialami Ibu Hamil Bisa Sebabkan Masalah Autisme pada Anak
Cyber Bullying yang Dialami Anak-Anak Bisa Sebabkan Trauma Jangka Panjang
Kondisi Intoleransi Laktosa pada Seseorang Bisa Disebabkan Kurangnya Susu Sejak Kecil
Balita Disarankan untuk Tidak Mengonsumsi Susu Berbahan Dasar Tumbuhan
Berbagi Cerita dengan Anak Bisa Bantu Perkembangan Otak Anak

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini