Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Praktik kanibalisme sama dengan proses membunuh diri sendiri

Praktik kanibalisme sama dengan proses membunuh diri sendiri Ilustrasi kanibalisme. merdeka.com/Shutterstock/Minerva Studio

Merdeka.com - Kanibalisme, sebuah kata yang jika terdengar akan membuat bulu kuduk Anda bergidik. Bagaimana tidak, kanibalisme yang bisa diartikan dengan praktik manusia dalam memakan daging sesamanya ini benar-benar sulit diterima oleh akal sehat. Beberapa kasus mengenai masalah kanibalisme pun mungkin selalu meninggalkan tanda tanya pada Anda, bagaimana bisa seorang manusia memakan daging sejenisnya sendiri?

Kebanyakan penyebab kanibalisme uniknya adalah anutan kepercayaan yang menuntut seseorang menjadi kanibal. Ada pula alasan karena kelaparan dan tidak menemukan bahan makanan lain, sehingga seseorang terpaksa memakan daging manusia yang lain. Sementara kelainan mental, kegilaan, atau penyimpangan perilaku sosial jarang disebut sebagai penyebab kanibalisme. Bahkan para ahli pun tidak mencantumkan kanibalisme sebagai sebuah penyakit dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. Jarang pula ada literatur medis yang menyebutkan kanibalisme adalah sebuah penyakit tertentu.

Belakangan ada pula yang menyebutkan salah satu obat ilegal yang dijuluki bath salts menjadi penyebab penyimpangan kelakuan yang mengarah pada kecenderungan manusia mengonsumsi daging sesamanya. Bath salts adalah istilah obat yang dikembangkan oleh pihak pribadi dan diedarkan di pasar gelap. Susahnya melacak bath salts yang mulai beredar di Amerika Serikat dan meresahkan warga ini memberi efek samping halusinasi berlebih yang diduga mampu memicu keinginan makan daging sesama manusia. Meskipun demikian, belum ada pernyataan pasti dari para ahli medis apakah bath salts ini benar-benar biang keladi dari praktik kanibalisme manusia.

Sebagaimana ditulis dalam situs Say What to Online, praktik kanibalisme ini bisa dibagi menjadi dua, homicidal cannibalism yang sengaja membunuh manusia lain untuk dimakan dagingnya dan necro-cannibalism yang memakan daging manusia lain yang sudah mati. Bagian tubuh yang dimakan pun bisa saja pada bagian tertentu atau bahkan seluruhnya tergantung dari kepercayaan yang dianut oleh si kanibal itu sendiri.

Lantas apakah ada efek samping yang ditimbulkan dari memakan daging sesama manusia?

Meskipun kebanyakan kepercayaan menyebutkan praktik kanibalisme baik bagi kesehatan, namun dari segi medis kanibalisme justru menyebabkan penyakit aneh dan mengerikan yang disebut Kuru. Kuru merupakan penyakit fatal yang menyerang bagian otak karena bakteri infeksi yang menular dan dialami oleh penduduk pedalaman Papua Nugini yang kerap melakukan praktik kanibalisme.

Para antropolog sempat mendalami gejala penyakit Kuru ini pada penduduk Papua Nugini yang mengalami luka pada bagian otak dan memicu ketidakwarasan pada mereka. Pada mulanya Kuru diduga disebabkan karena virus, namun ternyata pemicunya adalah sebuah partikel protein bernama prion yang mirip dengan penyebab sapi gila.

Menurut situs WebMD, penyakit Kuru (yang berarti gemetaran) menyebabkan gangguan berjalan, kehilangan keseimbangan, gemetar dan menggigil. Dalam beberapa waktu, penderita akan sulit menelan dan menyebabkan kekurangan gizi.

Secara umum, kanibalisme adalah ide yang sangat buruk, sebab apapun yang menjadi penyebab kematian korban bisa menyerang si kanibal juga. Memakan daging dari spesies yang sama dengan jenis berbagai kuman, bakteri, atau virus yang juga sama-sama bisa menyerang si kanibal jelas meningkatkan risiko penyakit. Tanpa memperhatikan alasan kepercayaan maupun hukum, membunuh sesama manusia untuk dimakan dagingnya secara tidak langsung juga akan membunuh pelaku kanibalisme sendiri. (mdk/riz)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP