Polusi Udara Semakin Parah di 2019, Masalah Kesehatan Ini Berisiko Meningkat

Rabu, 4 Desember 2019 00:30 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Polusi Udara Semakin Parah di 2019, Masalah Kesehatan Ini Berisiko Meningkat Ilustrasi polusi udara. Shutterstock/Hung Chung Chih

Merdeka.com - Polusi udara merupakan salah satu hal yang sedang ramai menjadi perbincangan pada 2019 ini dan tampaknya masih akan terus jadi perhatian pada tahun-tahun berikutnya. Pada 2019 ini, meningkatnya polusi udara tampak dari kebakaran hutan serta maraknya penggunaan kendaraan bermotor.

Peningkatan suhu udara yang terjadi pada tahun 2019 ini juga disebut terjadi karena pemanasan global yang muncul karena polusi udara. Masalah dari polusi udara ini juga bisa berujung pada kesehatan tubuh seseorang.

Beberapa masalah kesehatan yang berhubungan dengan pernapasan telah diketahui sebagai dampak dari polusi udara ini. Namun siapa sangka bahwa ternyata terdapat beragam masalah kesehatan yang diketahui muncul dari polusi udara ini.

Sejumlah penelitian yang dilakukan pada tahun 2019 ini mengungkap bahwa terdapat sejumlah masalah kesehatan yang bisa muncul dari polusi udara ini. Tanpa kamu sadari, polusi udara ini juga bisa berujung pada kebutaan hingga menurunnya kesuburan. Dikumpulkan dari berbagai sumber, berikut sejumlah masalah kesehatan yang rentan muncul karena paparan polusi udara.

1 dari 8 halaman

1. Glaukoma

Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa seseorang yang tinggal pada daerah tinggi polusi memiliki risiko enam persen lebih tinggi menderita glaukoma. Hasil temuan ini didapat berdasar jurnal Investigative Opthalmology & Visual Science.

Hasil temuan ini menunjukkan bagaimana berbahayanya polusi udara tak hanya pada organ dalam tubuh saja namun juga pada mata. Terjadinya glaukoma pada seseorang ini juga secara langsung berhubungan dengan meningkatnya risiko kebutaan yang dialami oleh orang-orang yang tinggal di daerah tinggi polusi udara.

2 dari 8 halaman

2. Stroke

Terlalu banyak terkena polusi udara bisa membuat pembuluh arteri mengeras atau biasa disebut atherosclerosis. Hal ini bisa meningkatkan risiko serangan jantung.

Sebuah penelitian yang dilakukan Sara Adar dari University of Michigan School od Public Health dan Joel Kaufman dari University of Washington menemukan mengenai risiko ini. Diketahui bahwa zat dalam udara yang tercemar berkaitan dengan penebalan pembuluh darah yang mengalirkan darah pada bagian kepala, leher, dan otak.

3 dari 8 halaman

3. Gangguan Mental

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada jurnal PLOS Biology mengungkap bahwa dampak dari polusi udara bisa menyebabkan munculnya penyakit bipolar dan depresi. Hasil temuan ini menjadi tambahan dampak buruk masalah kesehatan yang berhubungan dengan polusi seperti kanker paru-paru dan stroke.

Penelitian menemukan pada beberapa daerah di Amerika Serikat yang memiliki kualitas udara buruk memiliki 27 persen kasus bipolar lebih tinggi mengenai hal tersebut. Diketahui juga bahwa kasus depresi 6 persen lebih tinggi pada daerah tersebut.

Peneliti mempelajari bahwa buruknya kualitas udara secara potensial berkontribusi terhadap masalah mental karena peradangan pada saluran pernapasan. Peradangan seperti ini menyebar ke seluruh tubuh dan mempengaruhi otak.

4 dari 8 halaman

4. Masalah Paru-Paru

Sebuah penelitian berskala kecil yang dilakukan di Indonesia mengungkap bahwa polusi udara berhubungan dengan kesehatan paru-paru. Beberapa masalah tersebut di antaranya adalah penurunan fungsi paru (21 sampai 24 persen), asma (1,3 persen), PPOK atau Penyakit Paru Obstruktif Kronik (prevalensi 6,3 persen pada bukan perokok), dan 4 persen dari kasus kanker paru.

Data WHO menyatakan, polusi udara di seluruh dunia juga berkontribusi pada 25 persen pada seluruh penyakit dan kematian akibat kanker paru, 17 persen penyakit dan kematian akibat ISPA, 16 persen penyakit dan kematian akibat stroke, 15 persen penyakit dan kematian akibat penyakit jantung iskemik, dan 8 persen penyakit dan kematian akibat PPOK

5 dari 8 halaman

5. Kanker Otak

Sebuah penelitian yang dilakukan di McGill University di Kanada untuk pertama kalinya menemukan hubungan antara partikel udara dari asap kendaraan bermotor dengan kanker otak. Peneitian tersebut menunjukkan peningkatan paparan polusi selama 1 tahun bisa meningkatkan risiko kanker otak hingga lebih dari 10 persen.

Penelitian tersebut dilakukan terhadap 1,9 penduduk Kanada pada tahun 1991 hingg 2016. Ditemukan bahwa terdapat hubungan yang konsisten antara kanker otak dengan polusi nanopartikel yang disebabkan oleh knalpot mobil.

6 dari 8 halaman

6. Bercak Karbon di Plasenta Ibu Hamil

Dilansir dari Japan Today, diketahui bahwa ketika seorang wanita hamil menghirup udara berpolusi, maka polusi ini bisa melewati paru-paru dan masuk ke plasenta yang melindungi janin. Hasil temuan ini didapat berdasar penelitian dari 10 ibu hamil yang tinggal di area polusi tinggi dan 10 yang tinggal di area polusi rendah. Semakin tinggi paparan polusi, semakin banyak partikel yang ditemukan peneliti dalam plasenta.

Berdasar temuan yang dipublikasikan pada jurnal Nature Communications mengungkap bahwa diketahui adanya partikel tertentu pada ibu hamil. Diketahui bahwa terdapat partikel polusi serupa karbon hitam pada plasenta yang didonasikan 28 ibu yang baru melahirkan.

7 dari 8 halaman

7. Kesuburan Menurun

Sebuah penelitian mengungkap bahwa tinggal di wilayah yang tinggi polusi dapat menyebabkan disfungsi ereksi. Pada sebuah penelitian yang dilakukan terhadap tikus, diketahui bahwa terpapar asap dapat membuat aliran darah ke bagian genital jadi menurun.

Selain pada masalah ereksi, kapasitas paru-paru yang mereka miliki juga menurun karena sebab yang sama. Hal ini menjelaskan bahwa paparan polusi ini bisa membahayakan paru-paru serta alat vital.

8 dari 8 halaman

8. Melonjaknya Berat Badan

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Journal of the Federation of American Societies for Experimental Biology mengungkap bahwa paparan polusi udara bisa berujung naiknya berat badan. Hasil ini cukup mengejutkan dan melengkapi bahaya dari paparan polusi udara ini.

Temuan ini diketahui berdasar percobaan pada tikus. Diketahui bahwa pada tikus yang berada pada udara sarat polusi terdapat berbagai masalah kesehatan termasuk melonjaknya berat badan. Hal yang serupa juga diyakini bakal terjadi pada manusia yang terpapar dengan polusi udara ini.

Mengingat sejumlah bahaya yang bisa muncul dari paparan polusi udara yang terlalu tinggi tersebut, maka sebaiknya meminimalisasi sebisa mungkin paparannya. Mengurangi polusi udara juga bisa dimulai dari diri kita sendiri dengan mulai beralih menggunakan kendaraan umum atau transportasi massal. [RWP]

Baca juga:
Benarkah Operasi Caesar Bisa Membuat ASI Jadi Tak Lancar?
Jangan Salah! Pahami Dulu Sejumlah Hal Terkait HIV/AIDS Ini
Begini Cara yang Bisa Kamu Lakukan untuk Mengatasi Rasa Perih di Mata Akibat Cabai

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini