Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ini Alasan Kenapa Penderita Diabetes Wajib Konsultasi dengan Dokter Sebelum Berpuasa

Ini Alasan Kenapa Penderita Diabetes Wajib Konsultasi dengan Dokter Sebelum Berpuasa Ilustrasi diabetes. ©Shutterstock.com/Piotr Adamowicz

Merdeka.com - Bagi penderita diabetes, konsultasi dengan dokter merupakan hal yang diwajibkan jika ingin berpuasa. Hal ini wajib dilakukan agar tidak muncul masalah kesehatan lain yang lebih parah.

Juwalita Surapsari, dokter spesialis gizi klinik mengatakan seseorang dengan diabetes memiliki respons insulin yang turun. Insulin merupakan hormon yang keluar saat seseorang makan. Gunanya mengangkut gula dalam darah ke sel untuk proses metabolisme.

"Pada orang yang masih kacau, gula darahnya bisa turun atau tinggi, berarti insulinnya tidak efektif. Kalau dia nekat berpuasa, maka gula darahnya semakin tidak terkontrol lagi," kata Juwalita dalam temu media di Jakarta beberapa waktu yang lalu.

Ketika gula darah tidak terkontrol, darah menjadi jenuh dengan gula. Ini membuat gula menarik cairan seperti air. Sehingga, orang diabetes yang gulanya tinggi biasanya akan lebih sering buang air kecil.

"Kalau lebih banyak buang air kecil berarti status cairan dalam tubuhnya akan menurun atau dehidrasi," kata dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Pondok Indah-Pondok Indah, Jakarta ini.

Jika dehidrasi terjadi, maka otak juga akan terpengaruh. Khususnya pada orang tua, dehidrasi berat bisa membuat pasien pingsan.

Karena itu, orang diabetes diminta untuk menemui terlebih dulu dokter apabila ingin melaksanakan puasa di bulan Ramadan. Ketahui juga berbagai gejala yang pernah dialami. Misalnya, apabila mengalami hipoglikemia atau gula darah rendah berulang dalam tiga bulan terakhir.

Juwalita menambahkan, orang dengan diabetes juga harus rajin memeriksa kondisi gula darah. Terutama jika Anda memiliki alat cek gula darah mandiri.

Orang dengan diabetes boleh puasa ketika dia memiliki risiko rendah. Dalam temu media secara terpisah, Ketut Suastika, pakar endokrinologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, mengungkapkan beberapa klasifikasi terkait risiko puasa bagi orang dengan diabetes.

Ketut menyebut bahwa pasien diabetes yang boleh puasa adalah mereka yang mampu mengendalikan kondisi diabetes melitusnya, telah diterapi dengan pola hidup yang baik atau dengan pengobatan berjenis metformin, acarbose, terapi inkretin (penghambat DPP-4 atau GLP-1 RA), Sulfonilurea generasi kedua, penghambat SGLT, TZD atau insulin basal, serta individu yang sehat.

Reporter: Giovani Dio PrasastiSumber: Liputan6.com

(mdk/RWP)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP