Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Cegah Konstipasi, Ketahui Berapa Frekuensi BAB yang Normal pada Anak

Cegah Konstipasi, Ketahui Berapa Frekuensi BAB yang Normal pada Anak Ilustrasi Anak Sakit Perut. ©Daily Mail

Merdeka.com - Konstipasi atau sembelit merupakan masalah sulit buang air besar yang bisa dialami siapa saja. Tak hanya pada orang dewasa, masalah kesehatan ini juga bisa dialami oleh anak-anak.

Kurang lebih 30 persen anak itu pasti pernah mengalami masalah ini sepanjang hidupnya, ujar Ahli Gastrohepatologi Anak Dr. dr. Muzal Kadim, Sp.A(K) beberapa waktu lalu.

"Konstipasi itu maksudnya feses atau tinja berkumpul di kantong rektum," tutur Muzal.

Konstipasi terjadi jika frekuensi BAB lebih jarang dari seharusnya serta konsistensinya tidak seperti feses pada umumnya, yaitu keras. Dalam kasus yang parah, bentuknya kecil-kecil dan bulat.

Menurut Muzal, frekuensi BAB normal dapat bervariasi.

"Jadi sebenarnya yang disebut normal itu bisa 3 kali sekali, sampai 3 hari sekali. Itu kalau memang habit-nya demikian."

Namun, jika itu di luar kebiasaannya, maka tidak normal. Selain frekuensi, perhatikan juga konsistensinya.

"Dari segi konsistensi atau bentuknya yaitu harus berbentuk lunak tetapi tidak terlalu lunak hingga disebut diare," kata Muzal. "Kaya pasta, kaya odol, kaya bubur sedikit, gitu ya."

Jadi, misalnya seorang anak memang sudah terbiasa buang air besar 3 hari sekali dengan konsistensi feses yang cukup baik, maka bukan masalah. Sebaliknya, jika anak BAB setiap hari tetapi bentuknya keras seperti kerikil, kotoran kambing atau menggerombol, maka itu tidak normal, ujar Muzal.

Meskipun demikian, terdapat pengecualian untuk yang masih mengonsumsi ASI eksklusif.

"ASI eskslusif kadang-kadang bisa, tidak semua ya, kadang-kadang, ya, sekitar 20 persen hingga 25 persen bayi yang ASI ekslusif itu frekuensi BAB-nya bisa lebih dari 3 hari sekali. Jadi ini pengecualian," kata Muzal.

Sementara ketika bayi berumur di bawah 1 bulan, frekuensi BAB dapat lebih sering. Hal ini disebabkan karena ASI mengandung laktosa yang tinggi.

Sebelum tubuh bayi membentuk enzim laktase secara sempurna, sebagian dari laktosa ASI itu tidak dicerna sehingga menyebabkan feses sedikit cair. Jadi, semacam intoleransi laktosa tetapi yang fisiologis, jelas Muzal.

"Sebulan pertama lunak atau cair, baunya asam, kentut-kentut, itu normal," ujarnya.

Sementara saat sudah berumur lebih dari 2 bulan, enzim laktase sudah sempurna. Inilah yang menyebabkan masalah sebaliknya. BAB-nya nya bisa sampai 5 atau 7 hari sekali.

Muzal menyatakan, selama bentuknya masih normal, masih oke. Selama anak masih tidak rewel, masih aktif, serta BAB-nya tidak terlalu lunak maka tidak masalah.

Muzal juga mengungkapkan bahwa tidak ada batasan waktu untuk pengecualian ini. Bahkan, BAB setelah 10 hari juga dikatakan normal apabila konsistensi fesesnya bagus.

Sumber: Liputan6.com

(mdk/RWP)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP