Anoreksia dan bulimia bisa diobati dengan antibiotik?

Rabu, 8 Oktober 2014 16:43 Reporter : Kun Sila Ananda
Anoreksia dan bulimia bisa diobati dengan antibiotik? Ilustrasi tubuh kurus. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/memaggiesa

Merdeka.com - Selama ini obat antibiotik dikenal sebagai salah satu obat yang digunakan membunuh bakteri penyebab penyakit. Namun peneliti mengungkap bahwa nantinya antibiotik tak hanya bisa digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan bakteri, melainkan juga mengatasi kelainan makan seperti anoreksia dan bulimia.

Para ahli telah menemukan bakteri dalam usus yang mengganggu tubuh dalam mengatur nafsu makan. Meski kelainan makan seperti anoreksia dan bulimia biasanya dipicu oleh faktor genetik dan psikologis namun peneliti percaya bahwa mengatasi faktor fisik yang menyebabkan kelainan makan tersebut juga bisa membantu mencegah dan mengobatinya.

Hingga saat ini penelitian selalu berfokus pada aspek psikis dari kelainan makan. Namun peneliti dari Prancis mengungkap bahwa masalah pencernaan juga bisa memicu kelainan makan seperti anoreksia dan bulimia. Peneliti dari University of Rouen dan Inserm menemukan bahwa beberapa jenis bakteri tertentu pada sistem pencernaan mengganggu kemampuan tubuh untuk mengelola nafsu makan.

Peneliti telah berhasil mendemonstrasikan teori mereka pada tikus dan mengklaim bahwa hal serupa bisa terjadi pada manusia. Jika tes lanjutan yang akan mereka lakukan pada manusia terbukti benar, maka kemungkinan peneliti bisa menggunakan antibiotik untuk menghilangkan bakteri yang mengganggu nafsu makan pasien.

"Secara teori, kami bisa menggunakan perawatan antibiotik untuk mengatasi masalah ini. Kami bisa mengetahui bakteri apa yang mempengaruhi tiap pasien dan bisa memilih jenis antibiotik apa yang sesuai. Ini membuka pemahaman baru terhadap penyakit ini. Kita tak hanya fokus pada apa yang terjadi di otak dan secara psikis, tetapi juga yang terjadi dalam usus mereka," ungkap Professor Serguei Fetissov, seperti dilansir oleh Daily Mail (07/10).

Fetissov dan timnya menemukan bahwa beberapa jenis bakteri menghasilkan protein bernama ClpB. Ketika sistem kekebalan tubuh mengetahui protein ini, tubuh akan memproduksi antibodi untuk menghancurkannya. Namun masalahnya protein ClpB memiliki bentuk yang hampir sama dengan hormon yang mengatur nafsu makan bernama melanotropin. Ini yang membuat nafsu makan seseorang terganggu.

Pada orang yang terkena anoreksia mereka akan merasa cepat kenyang sebelum waktunya. Sementara pada orang yang terkena bulimia, tubuh tak bisa merasa kenyang dan membuat pasien terlalu banyak makan. Meski begitu, hingga saat ini peneliti masih melakukan penelitian lanjutan untuk memahami kaitan antara psikologis dan fisik pada kasus kelainan makan seperti anoreksia dan bulimia. [kun]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Kesehatan
  3. Penelitian
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini