Merdeka.com tersedia di Google Play


Strategi Sunan Ampel nikahi puteri bangsawan untuk sebarkan Islam
Reporter : Moch. Andriansyah | Senin, 6 Juli 2015 10:26




Strategi Sunan Ampel nikahi puteri bangsawan untuk sebarkan Islam
Sunan Ampel. ©istimewa

Merdeka.com - Di tengah dakwahnya, Raden Rahmat atau Sunan Ampel menikahi putri seorang mualaf, Ki Kembang Kuning, yang bernama Dewi Karimah. Dia adalah seorang bangsawan dari Surabaya sekaligus istri kedua Sunan Ampel.

Sunan Ampel pertama kali bertemu dengan Ki Kembang Kuning dalam perjalanannya menuju Surabaya, yang dulu disebut Hujung Galuh, daerah kekuasaan Jenggala. Dia juga bertemu dengan Ki Wiryo Sarojo asal Surabaya. Kedua tokoh masyarakat ini, kemudian menjadi mualaf dan menjadi pengikut setia Sunan Ampel.

"Memanfaatkan ketokohan dua orang itu, Radeng Rahmat dengan mudah mengajak orang-orang mengucap dua kalimat syahadat dan menjalankan ajaran Islam secara benar," terang Abdul Rahman, salah satu peziarah makam Sunan Ampel kepada merdeka.com, Senin (7/6).

Kakek tiga cucu ini bercerita, saat berdakwah di daerah kekuasaan Ki Kembang Kuning itulah, kemudian Raden Rahmat menikahi putri Ki Kembang Kuning yang bernama Dewi Karimah. "Dari istri keduanya ini, Raden Rahmat berputra enam orang," katanya.

Enam anak Raden Rahmat dengan Dewi Karimah itu antara lain, Dewi Murtasiyah (istri Sunan Giri), Dewi Murtasimah atau Asyiqah (istri Raden Fatah), Raden Husamuddin atau Sunan Lamongan, Raden Zainal Abidin atau Sunan Demak, Pangeran Tumapel dan Raden Faqih atau Sunan Ampel 2.

Di daerah kekuasaan Ki Kembang Kuning ini, Sunan Ampel juga mendirikan tempat ibadah, yang dia sebut langgar. Tempat ini, kemudian dijadikan masjid dan diberi nama Masjid Rahmat, untuk mengenang perjuangan sang ulama.

"Hingga saat ini, Masjid Rahmat, masih dijadikan tempat, salah satu pusat dakwah di Kota Surabaya bagian selatan dan sekitarnya," terang Abdul Rahman.

Sedangkan Ki Kembang Kuning, sebagai tokoh terkemuka saat ini, namanya diabadikan sebagai nama tempat di sekitar Masjid Rahmat. Bahkan terdapat area makam besar yang dijadikan pemakaman orang-orang China, Yahudi, Belanda yang tewas dalam perang kemerdekaan, tentara Jepang hingga makam Islam.

Dari informasi yang dikumpulkan di area pemakaman yang juga dinamakan Makam Kembang Kuning ini, dulu juga sempat berdiri wisma esek-esek milik Nonik Belanda, Tante Dolly, yang kemudian diusir warga karena menganggap kawasan Kembang Kuning sebagai tempat sakral, tidak pantas dijadikan tempat prostitusi. Akhirnya, Tante Dolly pindah ke kawasan Putat Jaya dan mendirikan rumah bordil di sana.

[rep]



Komentar Anda


READ MORE


Back to the top

LATEST UPDATE