Pertanyaan: Bagaimana status seorang mukmin yang kerap meninggalkan keluarga dan hajat hidup di dunia, dengan dalih menyebarkan agama Islam seperti musafir atau jaulah?Jawaban Ustadz Didik Hariyanto Lc. MA:
Dakwah adalah kewajiban setiap muslim dalam rangka menyampaikan kebenaran dan menyebarkan agama Allah. Tidak ada perkataan dan amalan yang lebih baik dari berdakwah. Allah berfirman:
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS. Fushilat : 33)
Akan tetapi dakwah memiliki kaidah dan panduan yang bersumber dari Quran dan hadits. Salah satunya mulailah dengan mengajak dan memperbaiki dari keluarga dan orang-orang terdekat kita sebelum berdakwah jauh atau di luar daerah kita.
Allah memerintahkan kepada Rasulullah untuk memberi peringatan kepada keluarga terdekat beliau dulu: "Dan berilah peringatan kepada keluarga terdekatmu"(QS. as-Syu'ara', 214).
Kewajiban berdakwah tidak boleh sampai melupakan kewajiban kita kepada keluarga, karena mereka juga punya hak untuk mendapatkan perhatian dan santunan dari kita. Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Rabbmu punya hak atas dirimu, dirimu sendiri punya hak atas dirimu, dan keluargamu punya hak atas dirimu, maka berikan hak kepada tiap-tiap yang memilikinya." (HR. al-Bukhari)
Apalagi sampai melalaikan keluarga, Rasulullah melarang keras akan hal itu: "Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa karena ia telah menyia-nyiakan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya." (HR. An-Nasa'i)
* Ustadz Didik Hariyanto pernah mengambil pendidikan Islam di Fakultas Hadis dan Islamic studies, Universitas Islam Madinah. Saat ini Didik tercatat sebagai Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, Cisarua, Bogor, Jawa Barat.