Pertanyaan:
Bagaimana melaksanakan salat dengan perbedaan aliran namun ketika itu kita tanpa sengaja mengetahuinya. Apakah ikuti terus salatnya atau dengan cara aliran kita sendiri?
Jawaban Ustadz Didik Hariyanto Lc. MA:
Dibolehkan bagi kita untuk salat berjemaah bersama orang yang beda aliran selama masih sesama ahlussunnah wal jemaah. Persatuan dan kesatuan umat harus dikedepankan dan diutamakan dibandingkan perbedaan. Apabila kita salat subuh di belakang imam yang membaca Qunut maka kita harus ikut Qunut dan mengamininya walau kita berkeyakinan tidak ada anjuran untuk membaca Qunut terus-menerus dalam salat subuh dan begitu juga sebaliknya.
Begitulah fatwa Imam yang nota bene tidak menganjurkan untuk membaca Qunut dalan salat subuh. Beliau mengeluarkan nasihat tersebut karena perselisihan dan pecah belah amat buruk akibatnya.
Coba renungkan sikap Ibnu Mas'ud tatkala ikut melaksanakan salat 4 rakaat di belakang Utsman bin Affan padahal beliau tidak setuju dengan pendapat Utsman ini karena bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah, Abu Bakar dan Umar yang semuanya menqosor salat di Mina dari 4 rakaat menjadi 2 rakaat.
Seseorang berkata kepadanya: "Wahai Abu Abdirrahman - Abdullah bin Masuud, kenapa engkau salat di belakang (bermakmum) Utsman? Padahal engkau mengingkari pendapatnya?"
Abdullah bin Masuud menjawab: "perselisihan itu buruk." Selama perbedaan itu masih dalam lingkup masing-masing punya dalil dan dasar hukum dari Quran dan Hadits maka kita tetap wajib salat berjemaah bersamanya.
* Ustadz Didik Hariyanto pernah mengambil pendidikan Islam di Fakultas Hadis dan Islamic studies, Universitas Islam Madinah. Saat ini Didik tercatat sebagai Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, Cisarua, Bogor, Jawa Barat.