Pertanyaan: Ustadz bagaimana hukum seorang umat memfitnah lawan politiknya saat jalani puasa ramadan?
Jawaban Ustadz Didik Hariyanto Lc. MA: Subhanallah ternyata kekasih kita Rasulullah SAW tidak hanya meminta umatnya meninggalkan makan dan minum di bulan puasa namun beliau juga meminta kita untuk meninggalkan semua keburukan khususnya perkataan dan perbuatan dusta.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan keji (dusta) maka Allah SWT tidak butuh darinya untuk meninggalkan makan dan minum (puasanya)." (HR. al-Bukhari).
Artinya: puasanya sia-sia. Dia tidak akan mendapatkan pahala puasa. Fitnah adalah menyebarkan kedustaan atas saudara kita seiman.
Rasulullah SAW bersabda, dalam terjemahan berikut:
"Tahukah kalian apa itu ghibah?. Para sahabat menjawab : Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Beliau bersabda : Ghibah adalah engkau membicarakan tentang saudaramu sesuatu yang dia benci. Ada yang bertanya. Wahai Rasulullah bagaimana kalau yang kami katakan itu betul-betul ada pada dirinya?. Beliau menjawab : Jika yang kalian katakan itu betul, berarti kalian telah berbuat ghibah. Dan jika apa yang kalian katakan tidak betul, berarti kalian telah memfitnah (mengucapkan suatu kedustaan)." [HR Muslim : 4690]. Bagaimana dengan kondisi memilih pemimpin? Dalam memilih pemimpin dibolehkan bagi kita untuk memberikan informasi kepada umat Islam tentang sifat dan pribadi yang sesungguhnya dari calon pemimpin tersebut dengan tetap menjauhi dusta dan kebohongan.
Hal itu tidak termasuk ke dalam ghibah atau fitnah karena dalam rangka memberikan nasehat dan menjauhkan umat dari mudharat yang bisa timbul di belakang hari.
Imam Nawawi menegaskan tidak ada ghibah dalam 6 hal, diantaranya: menasehati dan menjauhkan umat Islam dari keburukan.
Hal ini pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW tatkala Fatimah binti Qois meminta nasehat kepada Rasulullah SAW tentang dua orang yang melamarnya, yaitu Mu'awiyah dan Abu Jahm.
Rasulullah SAW bersabda: "Adapun Mu'awiyah, ia itu miskin tidak berharta. Sedangkan Abul Jahm adalah orang yang tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya." (HR. Bukhari-Muslim). Kalau ada seseorang meminta nasehat dalam memilih pendamping hidupnya kita harus menjelaskan sifat dan hakekat orang itu dan tidak boleh menyembunyikan lalu bagaimana dalam memilih pemimpin?
Tentu kita lebih berkewajiban memberikan penjelasan yang gamblang tentang sifat-sifat sebenarnya orang tersebut. Wallahu a'lam... Ustadz Didik Hariyanto pernah mengambil pendidikan Islam di Fakultas Hadis dan Islamic studies, Universitas Islam Madinah.
Saat ini Ustadz Didik tercatat sebagai Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, Cisarua, Bogor, Jawa Barat.