TNI Angkatan Udara (TNI AU) segera mengambil langkah cepat dengan mengerahkan Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) setelah titik jatuh pesawat ATR 42-500 berhasil diidentifikasi. Insiden ini terjadi di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, memicu respons tanggap dari berbagai pihak terkait. Pengerahan pasukan ini bertujuan untuk memulai proses evakuasi dan pencarian korban di lokasi kejadian.
Lima prajurit Korpasgat bersama satu personel Basarnas (Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan) diterjunkan langsung ke lokasi menggunakan helikopter H225M Caracal dari Skadron Udara 8. Tim udara ini bertugas untuk menyiapkan langkah awal proses evakuasi di medan yang sulit. Sementara itu, tim darat gabungan juga bergerak untuk memperkuat upaya pencarian dan penyelamatan di wilayah tersebut.
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang mengangkut 11 orang ini sebelumnya dilaporkan hilang kontak pada 17 Januari 2026 di wilayah Kabupaten Maros. Kehilangan kontak ini memicu operasi pencarian besar-besaran yang melibatkan banyak unsur. TNI AU berkomitmen penuh untuk mendukung seluruh proses evakuasi dan penanganan lanjutan insiden ini.
Advertisement
Advertisement
Respons Cepat TNI AU dan Korpasgat
TNI AU menunjukkan responsibilitas tinggi dengan segera mengerahkan personel Korpasgat begitu titik jatuh pesawat ATR 42-500 terkonfirmasi. Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana, menjelaskan bahwa tim diterjunkan menggunakan helikopter H225M Caracal. Langkah ini merupakan bagian dari upaya awal untuk mengamankan lokasi dan memulai proses evakuasi yang kompleks.
"Menindaklanjuti temuan tersebut, TNI AU segera menurunkan lima prajurit Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) dan satu personel Basarnas (Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan) menggunakan helikopter H225M Caracal ke lokasi," ujar Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana. Para prajurit Korpasgat memiliki keahlian khusus dalam operasi SAR di medan sulit, menjadikan mereka garda terdepan dalam penanganan insiden ini.
Pengerahan tim melalui udara memungkinkan akses cepat ke lokasi yang mungkin sulit dijangkau melalui jalur darat. Helikopter H225M Caracal dikenal memiliki kemampuan angkut dan jangkauan yang baik, sangat vital dalam operasi penyelamatan seperti ini. Kehadiran tim Korpasgat ini diharapkan dapat segera memberikan informasi lebih lanjut dari lokasi kejadian.
Advertisement
Advertisement
Koordinasi Tim Gabungan dalam Evakuasi Pesawat ATR Maros
Selain pengerahan tim udara, TNI AU juga membentuk tim darat gabungan untuk memperkuat operasi evakuasi pesawat ATR Maros. Tim ini terdiri dari prajurit Lanud Sultan Hasanuddin, Yon Parako 473 Korpasgat, dan Yon Arhanud 23 Korpasgat. Mereka bergerak melalui jalur darat untuk mencapai lokasi dan bergabung dengan unsur SAR lainnya.
Keterlibatan berbagai unit militer dan sipil menunjukkan skala operasi yang luas dan koordinasi yang intensif. "Tim darat tersebut bergabung dengan unsur SAR lainnya serta masyarakat setempat untuk memperkuat upaya pencarian dan evakuasi," jelas Kadispenau. Kolaborasi ini sangat penting untuk memastikan setiap sudut area pencarian dapat dijangkau dan proses evakuasi berjalan efektif.
Masyarakat setempat juga turut berperan aktif dalam membantu upaya pencarian dan evakuasi, menunjukkan solidaritas yang kuat dalam menghadapi musibah ini. Sinergi antara aparat keamanan, Basarnas, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam operasi penyelamatan yang menantang ini. Setiap personel memiliki peran krusial dalam misi kemanusiaan ini.
Advertisement
Advertisement
Komitmen TNI AU dalam Penanganan Insiden
TNI AU menegaskan komitmennya untuk terus mendukung penuh proses evakuasi dan penanganan lanjutan insiden jatuhnya pesawat ATR 42-500. Pernyataan ini disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab institusi terhadap keselamatan penerbangan dan masyarakat. Dukungan ini mencakup penyediaan sumber daya, personel, dan peralatan yang dibutuhkan.
Sebelumnya, Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Edy Prakoso, mengonfirmasi hilangnya kontak pesawat pada 17 Januari 2026. Pesawat Indonesia Air Transport tersebut mengangkut 11 orang saat insiden terjadi. Informasi ini menjadi dasar bagi seluruh operasi pencarian dan penyelamatan yang saat ini sedang berlangsung.
TNI AU akan terus berkoordinasi erat dengan otoritas terkait, termasuk Basarnas dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), untuk memastikan seluruh aspek penanganan insiden berjalan lancar. Fokus utama saat ini adalah evakuasi korban dan pengumpulan data untuk investigasi penyebab kecelakaan. Semua pihak berharap proses ini dapat berjalan dengan cepat dan lancar.
Advertisement
Sumber: AntaraNews