DPR RI melalui Wakil Ketua Komisi VII Lamhot Sinaga menyambut Hari Turis Sedunia pada 27 September. Momentum ini menjadi penanda kesiapan pengesahan Rancangan Undang-Undang Kepariwisataan. Regulasi baru ini dijadwalkan akan disahkan pada rapat paripurna DPR awal Oktober 2025.
Pengesahan RUU ini diharapkan menjadi pendorong kebangkitan pariwisata nasional. Lamhot Sinaga menegaskan pariwisata bukan sekadar rekreasi, melainkan instrumen vital pembangunan ekonomi. Sektor ini berpotensi besar membuka lapangan kerja dan memperkuat dialog antar budaya.
Indonesia dengan kekayaan alam dan budaya luar biasa, seperti Danau Toba, berpeluang besar menjadi pemain utama pariwisata dunia. Regulasi modern ini diharapkan adaptif terhadap era digital dan tuntutan keberlanjutan. Tujuannya adalah memberikan manfaat sosial, budaya, dan lingkungan yang nyata.
Advertisement
Advertisement
Membangun Fondasi Pariwisata Berkelanjutan dengan UU Kepariwisataan
DPR bersama pemerintah tengah merampungkan pembahasan RUU Kepariwisataan. Regulasi ini dirancang untuk menciptakan kerangka hukum yang modern dan adaptif. Ini penting untuk menghadapi era digital serta kompetisi global yang semakin ketat.
Lamhot Sinaga menekankan tujuan utama regulasi baru ini. "Kita ingin pastikan pariwisata tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memberi manfaat sosial, budaya, dan lingkungan," ujarnya. Hal ini sejalan dengan semangat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO).
Undang-Undang Kepariwisataan ini diharapkan mampu menyeimbangkan antara keuntungan ekonomi dan dampak positif lainnya. Ini termasuk pelestarian budaya lokal serta perlindungan lingkungan alam. Pariwisata yang berkelanjutan menjadi fokus utama dalam perumusan kebijakan ini.
Advertisement
Advertisement
Danau Toba sebagai Contoh Potensi Destinasi Kelas Dunia
Lamhot menyoroti Danau Toba sebagai contoh nyata potensi pariwisata Indonesia. Kawasan yang telah berstatus UNESCO Global Geopark ini memiliki daya tarik luar biasa. Dengan pengelolaan yang tepat, Danau Toba bisa berkembang menjadi destinasi kelas dunia.
Pengembangan Danau Toba diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat sekitar. Keberhasilan pariwisata, menurut Lamhot, tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan. Manfaat langsung yang dirasakan masyarakat lokal menjadi indikator utama.
Oleh karena itu, pembangunan pariwisata harus berbasis pemberdayaan masyarakat. Masyarakat lokal harus menjadi tuan rumah sekaligus penerima manfaat utama dari sektor ini. Ini memastikan bahwa pertumbuhan pariwisata inklusif dan adil.
Advertisement
Advertisement
Sejarah dan Makna Hari Turis Sedunia
Hari Turis Sedunia ditetapkan oleh UNWTO, badan PBB yang membidangi pariwisata internasional. Tanggal 27 September dipilih karena bertepatan dengan adopsi Statuta UNWTO pada 27 September 1970. Peristiwa ini menjadi tonggak berdirinya organisasi tersebut.
Peringatan pertamanya digelar pada tahun 1980, menandai dimulainya tradisi global ini. Sejak saat itu, dunia setiap tahun mengangkat tema-tema khusus. Tema-tema ini dirancang untuk menjawab berbagai tantangan pariwisata global yang terus berkembang.
Momentum Hari Turis Sedunia ini diharapkan dapat meneguhkan pariwisata sebagai pilar pembangunan nasional. "Indonesia punya modal besar. Mari gunakan momentum ini untuk meneguhkan pariwisata sebagai pilar pembangunan nasional," kata Lamhot. Ini adalah seruan untuk memanfaatkan potensi besar negara.
Advertisement
Sumber: AntaraNews