Suara Ma'ruf Amin di Atas Podium Debat

Kamis, 17 Januari 2019 22:46 Reporter : Ahda Bayhaqi
Suara Ma'ruf Amin di Atas Podium Debat Jokowi-Maruf saat Debat Pertama. ©2019 Liputan6.com/ Faizal Fanani

Merdeka.com - Debat perdana capres dan cawapres 2019 digelar di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan. Moderator dalam debat kali ini adalah Imam Priyono dan Ira Koesno. Tema yang diangkat yakni Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme.

Sosok Calon Wakil Presiden nomor urut 01, Ma'ruf Amin menjadi salah satu yang ditunggu-tunggu. Sebab, ini adalah panggung debat politik perdananya. Sejumlah persiapan telah dilakukan. Bukan hanya diskusi mengenai materi debat, tapi juga penyampaian gagasan di atas panggung.

Dalam sesi I debat soal isu hukum dan penyelarasan Undang-Undang dan peraturan daerah yang tumpang tindih, Ma'ruf Amin tidak memberikan gagasan dan idenya jika terpilih menjadi pemimpin negara mendampingi Jokowi.

"Saya cukup. Saya mendukung pernyataan Pak Jokowi," singkat Ma'ruf Amin.

Saat sesi debat dengan tema terorisme, Ma'ruf Amin menunjukkan aksinya. Dia membeberkan gagasannya selama dua menit. Ma'ruf menegaskan bahwa terorisme adalah bentuk kejahatan dan harus diberantas hingga ke akar-akarnya. Sebagai Ketua MUI, Ma'ruf menegaskan bahwa lembaganya telah keluarkan fatwa terkait terorisme.

"Bahwa terorisme bukan jihad. Haram dilakukan. Terorisme dianggap melakukan kerusakan. Dalam Alquran dinyatakan orang melakukan kerusakan harus dihukum berat," tegas Ma'ruf.

Dia melanjutkan, upaya menanggulangi terorisme harus dilakukan dengan dua cara. Yakni sinergi antara pencegahan dan penindakan. Program yang digagas Jokowi dan Ma'ruf untuk pencegahan terorisme melalui kontra radikalisme untuk menghilangkan dan menekan paham radikal serta intoleran.

"Deradikalisasi untuk kembalikan mereka yang terpapar. Untuk itu dalam melakukan tindakan, pendekatan humanis, manusiawi dengan tidak harus melanggar HAM. Dalam menanggulangi terorisme, kami ajak ormas khususnya keagamaan," katanya.

Ma'ruf menambahkan, penting untuk mengetahui akar persoalan seseorang menjadi radikal. Menurutnya, jika disebabkan karena paham keagamaan yang menyimpang, maka diperlukan doktrin untuk meluruskan paham agama itu.

"Tapi kalau itu disebabkan faktor ekonomi, sosial, pendekatannya adalah melalui pemberian lapangan kerja dan santunan yang bisa mengembalikan ke jalan lurus. Ini yang harus kita kaji kenapa dia radikal," imbuhnya.

Saat berdebat soal hukum yang tumpang tindih dan dianggap tebang pilih, Ma'ruf Amin menegaskan programnya bersama Jokowi untuk melanjutkan reformasi bidang hukum secara total.

"Penataan regulasi, menghilangkan tumpang tindih, dan membuat peraturan yang berkualitas serta menguntungkan dan mudahkan rakyat dan peluang investasi dan pengembangan UKM," tambah Ma'ruf. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini