Dukungan di bawah sumpah Alquran kepada Airlangga Hartarto di Munas Golkar menuai polemik. Namun Airlangga menilai, sebagai sebuah kritik yang biasa saja.
Airlangga mengatakan, hanya mengikuti apa yang menjadi acara DPD Golkar Jawa Barat. Dia menyebut, hal itu kebijakan dari pihak DPD.
"Lah kalau itu kan acaranya Jabar. Ya kita ikut saja. Masing-masing kan ada namanya kebijakan lokal dan acaranya lagi acara di Masjid, masa nyanyi di Masjid," kata Airlangga di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (3/9).
Dia juga tidak mempersoalkan terkait adanya kritik keras dari loyalis Bambang Soesatyo, Nofel Saleh Hilabi. Dia mengatakan, siapa saja boleh mengkritik.
"Ya biasa saja, ya yang namanya kritik biasa saja," ungkap Airlangga.
Sebelumnya, Loyalis Bambang Soesatyo, Nofel Saleh Hilabi merasa heran dengan adegan sumpah di bawah Alquran dukung Airlangga Hartarto yang dilakukan DPD Golkar Jawa Barat. Sebab, hal tersebut justru diyakini akan membuat Airlangga makin tersudut jelang Munas Golkar.
Nofel merasa, Airlangga sudah tahu dirinya bakal kalah. Sehingga menggunakan cara sumpah di bawah Alquran untuk mendapatkan dukungan di Munas Golkar.
"Itu cara-cara orang yang tahu dia bakal kalah, karena orang menyumpah, kapasitas dia sebagai apa, kecuali kita bersumpah terhadap rakyat itu boleh. Misal pimpinan negara bersumpah menjaga amanat rakyat, ini bersumpah laknat terus untuk mendukung pimpinan partai, itu zalim dan pemaksaan," jelas Nofel saat dihubungi merdeka.com, Selasa (3/9).
Nofel pun menantang klaim Airlangga yang disebut sudah mendapat dukungan lebih dari 90 persen di Munas Golkar. Faktanya, malah pengurus daerah diminta bersumpah di bawah Alquran.