Sekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani tak yakin Joko Widodo (Jokowi) naik elektabilitasnya jika menggandeng mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo sebagai calon wakil presiden 2019. Dia tak yakin Gatot akan menambah elektabilitas Jokowi di umat muslim.
"Jadi kemudian ketika dia misalnya menjadi pasangannya Pak Jokowi, ya kemudian apakah akan menambah elektabilitas dari sisi umat Islam ya itu quationable. Artinya dipertanyakan kalau dari sisi sektor umat itu. Apakah akan menambah elektabilitas. Sebab elektabilitas di main stream umat Islam tidak tergantung cawapresnya Pak Gatot atau bukan," kata Arsul Sani di kompleks DPR/MPR, Jakarta, Rabu (4/4).
Dia menuturkan, kehadiran Gatot sekarang ini hanya diasumsikan seolah-olah menjadi capres yang melawan Jokowi. Karenanya, Gatot banyak diidolakan.
"Main stream Islam itu kan NU dan Muhammadiyah. Pak Gatot itu kemudian ditokohkan diidolakan itu karena diasumsikan akan menjadi capres yang berlawanan dengan Pak Jokowi. Bahwa ada di Muhammadiyah ada di NU yang melihat (Gatot sebagai sosok capres potensial) iya ada. Tapi kan mayoritas tidak," jelas Arsul.
Hal senada juga diungkapkan Ketua Umum PPP Romahurmuziy. Rommy memandang untuk memandang layak atau tidaknya Gatot maju Pilpres harus dipastikan dulu kendaraan yang digunakan untuk maju.
"Sebelum layak atau tidak yang perlu dipastikan kendaraannya apa. Karena orang baru bisa dinilai layak atau tidak karena sudah dapat kendaraan, dan kita hanya menilai kontestan itu kan yang ikut, bukan yang enggak ikut," kata Romi.
Reporter: Putu Merta Surya Putra
Sumber: Liputan6.com