Puisi-puisi politis kubu Prabowo

Puisi kubu mantan Danjen Kopassus itu diduga ditujukan untuk kubu Jokowi yang dibekingi PDI Perjuangan.

Laurencius Simanjuntak
Oleh Laurencius Simanjuntak - Reporter
Puisi-puisi politis kubu Prabowo
Prabowo Subianto naik kuda. ©AFP PHOTO/Adek Berry

Berbagai cara dilakukan politikus di tahun pemilu untuk menyindir, mengkritik atau bahkan menyerang lawan politiknya. Mulai dari serangan lugas ke jantung lawan, sampai dengan sindiran halus lewat puisi.Puisi berbau politis ini yang belakangan dilontarkan kubu Capres Partai Gerindra Prabowo Subianto . Diduga kuat semua puisi kubu mantan Danjen Kopassus itu ditujukan untuk kubu Jokowi yang dibekingi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDIP ) dan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.

Berita terkait Prabowo Subianto bisa diakses di Liputan6.comBerikut tiga puisi itu:

Puisi Santun oleh Prabowo

Capres Partai Gerindra Prabowo Subianto membacakan puisi saat menjadi jurkamnas Partai Gerindra dalam kampanye terbuka di lapangan Wagimin Jambe Tabanan, Bali, 17 Maret lalu. Puisi itu berjudul 'Santun'.SantunBoleh berbohong asal santun

Boleh mencuri asal santun

Boleh korupsi asal santun

Boleh menipu rakyat asal santun

Boleh menjual negeri pada orang lain asal santun

Boleh merampok asal santun

Puisi Airmata Buaya oleh Fadli Zon

Kali ini puisi ditulis oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon. Berjudul 'Airmata Buaya', puisi ini disebar keponakan Taufiq Ismail itu lewat email ke sejumlah redaksi media pada 26 Maret lalu.Airmata BuayaKau bicara kejujuran sambil berdusta

Kau bicara kesederhanaan sambil shopping di Singapura

Kau bicara nasionalisme sambil jual aset negara

Kau bicara kedamaian sambil memupuk dendam

Kau bicara antikorupsi sambil menjarah setiap celah

Kau bicara persatuan sambil memecah belah

Kau bicara demokrasi ternyata untuk kepentingan pribadi

Kau bicara kemiskinan di tengah harta bergelimpangan

Kau bicara nasib rakyat sambil pura-pura menderita

Kau bicara pengkhianatan sambil berbuat yang sama

Kau bicara seolah dari hati sambil menitikkan air mata

Air mata buayaFadli Zon, 26 Maret 2014

Sajak Seekor Ikan oleh Fadli Zon

Ini adalah puisi kedua Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon yang disebarnya lewat email ke kantor redaksi media dalam musim kampanye pemilu. Disebar kemarin, puisi ini berjudul 'Sajak Seekor Ikan'."Saya bikin cuma lima menit. Ini ekspresi saya aja, saya memang suka bikin puisi," kata Fadli saat dikonfirmasi merdeka.com, Sabtu (29/3).Fadli menolak menjelaskan makna dari puisi yang dia tulis, termasuk tentang frasa ikan 'kerempeng dan lincah' di dalamnya."Masak seorang yang menulis puisi juga harus menerangkan artinya. Biar kritikus sastra sajalah yang ngomong," kata Fadli.Ditanya apakah puisi ini bersifat politis untuk menyindir Capres PDIP Joko Widodo (Jokowi), pesaing Prabowo, yang memang kerempeng dan lincah, Fadli tidak membantah dan tidak juga membenarkan."Interpretasi bisa-bisa saja, namanya juga interpretasi, ini demokrasi. Saya bicara tentang seekor ikan yang punya banyak habitat," elaknya.Berikut isi lengkap puisi tersebut:Sajak Seekor IkanSeekor ikan di akuarium

Kubeli dari tetangga sebelah

Warnanya merah

Kerempeng dan lincahSetiap hari berenang menari

Menyusuri taman air yang asri

Menggoda dari balik kaca

Menarik perhatian siapa sajaSeekor ikan di akuarium

Melompat ke sungai

bergumul di air deras

Terbawa ke laut lepasDi sana ia bertemu ikan hiu, paus dan gurita

Menjadi santapan ringan penguasa samuderaFadli Zon, 29 Maret 2014

Rekomendasi