Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Prihatin Kondisi Politik, Ratusan Warga Solo Gelar Kenduri Nusantara

Prihatin Kondisi Politik, Ratusan Warga Solo Gelar Kenduri Nusantara Warga Solo Gelar Kenduri Nusantara. ©2019 Merdeka.com/Arie Sunaryo

Merdeka.com - Tensi politik yang semakin tinggi jelang pencoblosan mengundang keprihatinan sejumlah kalangan. Ratusan warga Solo dari lintas agama bersama ulama menggelar doa bersama untuk keselamatan negeri, di Benteng Vastenburg, Minggu (3/3).

Kegiatan yang dikemas dalam 'Kenduri Nusantara Doa Anak Negeri' tersebut dipimpin ulama Nahdlatul Ulama asal Yogyakarta Ahmad Muwafiq atau lebih dikenal dengan Kyai Muwafiq atau Gus Muwafiq. Selain doa dan tausiyah kegiatan tersebut juga diisi dengan kenduri bersama. Panitia menyediakan 15 tumpeng nasi merah putih untuk dibagikan kepada peserta.

"Kami merasa prihatin dengan kondisi masyarakat saat ini yang mudah terpecah belah karena Pilpres. Ada yang pilih 01 ada yang 02. Kita ini kan bersaudara, tinggal di negeri yang indah. Seharusnya kita bisa saling menjaga persaudaraan, setelah Pilpres kita toh tetap bersaudara, bertetangga, tetap bekerja di tempat yang sama dan lainnya," ujar Eni Wahyuningsih, koordinator acara Kenduri Nusantara.

Eni mengatakan, kondisi politik saat ini setiap hari semakin panas dengan adanya perbedaan pendapat, perbedaan pilihan yang berujung pada rusaknya tali silaturahmi. Kondisi inilah yang mendorong masyarakat Solo menggelar doa bersama demi keselamatan negeri.

"Bagi kami kenduri merupakan sebuah mekanisme sosial untuk merawat keutuhan, memulihkan keretakan dan meneguhkan kembali cita-cita bersama. Sekaligus melakukan kontrol sosial atas penyimpangan dari cita-cita tersebut," katanya.

Sebagai warga Solo, dirinya dan masyarakat tidak rela bangsa Indonesia terbelah dan tidak tenang dalam melanjutkan pembangunan negeri demi kesejahteraan rakyat. Kenduri dengan sajian tumpeng merah putih tersebut merupakan simbol semangat dan simbol kecintaan terhadap NKRI.

Eni berharap warga di kota lainnya bisa melakukan hal yang sama dengan cara dan bentuk sesuai tradisi dan kepercayaan masing-masing. Saat inilah menurut Eni, waktu yang tepat untuk menata kembali ruang sosial, membukasekat-sekat, membersihkan saluran yang kotor dan menyirami dengan air kesejukan.

"Kita rawat dan jaga bersama agar ibu pertiwi tidak bersusah hati. Mari bersimpuh dan memanjatkan doa, demi kita semua, bangsa Indonesia," pungkas Eni.

(mdk/did)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP